Selasa, 10 Februari 2015

TAQI AL DIN IBNU TAIMIYAH 661-728 H./1262-1327 M.

Ulama besar yang memilih tidak menikah yang patut disebut adalah Imam Ibnu Taimiyyah. Nama lengkapnya adalah Taqi al-Din Ahmad bin Abd al Halim bin Abd al Salam bin Abd Allah bin Abu al-Qasim al Khidr bin Muhammad bin Khidhr bin Ali bin Abd Allah bin Taimiyah al Harani al Dimasyqi. Lahir di Haran, Damaskus pada bulan Rabi’ al Awal 661 H. Sejak kecil, 667 H, ia sudah dibawa ayah dan saudaranya ke Damaskus karena menghindari serbuan tentera Tartar, Mongol. Namanya disebut sebagai Syeikh al-Islam. Ia seorang ulama dengan banyak keahlian: Muhaddits (ahli hadits), Mufassir (ahli tafsir), Ushuli (ahli ushul fiqh). Ia juga dikenal sebagai Mujtahid, Mujaddid (pembaru) sekalgus Mujahid (pejuang).
Sejak usia 7 tahun ia sudah terlihat sebagai anak yang cerdas dan sudah hafal al qur-an. Bahkan kecerdasan ini bukan hanya terlihat dari kemampuannya menghafal al-Qur-an, tetapi juga memahaminya. Tetapi minatnya yang besar tertuju pada bidang hadits. Ia mengaji dengan baik Al-Kutub al-Sittah (kitab hadits yang enam) dan Al Masanid. Ia juga mempelajari Tafsir Ushul Fiqh dan beberapa cabang ilmu pengetahuan lainnya, antara lain logika dan filsafat. Semua ilmu ini dikuasai dengan sangat baik, bahkan mampu mengungguli para ulama lain. Pada usia kurang dari 20 tahun ia sudah menjadi guru besar dan berfatwa. Pada usia ini juga ia sudah aktif menulis dan mengarang.
Ibnu Taimiyah dipandang seorang “Nashir al-Sunnah” (pembela hadits Nabi). Ia menguasi dan hafal semua hadits-hadits Nabi saw. dan ucapan para sahabatnya. Banyak ulama yang mengatakan “Kalau ada orang yang bicara tafsir, ia adalah pakarnya. Kalau bicara fiqh, maka di tangannyalah persoalannya terjawab. Jika bicara hadits, dialah pemilik keilmuan maupun periwayatannya. Dan kalau dia memberikan kuliah ilmu perbandingan agama, maka tidak seorangpun yang dapat menguasai secara luas seperti dia”. Seorang ulama besar; Ibnu Daqiq al-‘Id, pernah bersama-sama Ibnu Taimiyah. Ketika ia diminta komentarnya tentang sahabatnya itu, ia mengatakan : “Aku melihat semua ilmu seakan-akan berada di hadapan kedua matanya. Ia dapat mengemukakan apa saja atau tidak menyebutkan apa saja “. Di antara muridnya yang terkenal adalah Ibnu Qayyim al-Jauziyah dan mufassir besar Sunni; Ibnu Katsir.
Ibnu Taimiyah adalah tokoh besar dalam mazhab Hanbali. Doktrin-doktrin keagamaannya sejalan dengan pandangan Ahmad bin Hanbal yang dalam kalangan ulama fiqh digolongkan sebagai Imam Mutasyaddidin (pemimpin kaum fundamentalis). Dalam fatwa-fatwa keagamaannya, kelompok ini mendasarkan diri pada Al-Qur’an, Sunnah (hadits) dan fatwa para generasi Salaf. Karena itu ia disebut sebagai penganut Islam Salafi. Ia menerapkan penafsiran literal ketat. Ibnu Taimiyah menyerang praktik-praktik keagamaan yang tidak dilakukan Nabi dan para sahabatnya dan menganggapnya sebagai bid’ah yang dimaknai sebagai kesesatan, seperti ziarah kubur, perayaan Maulid Nabi, dan sejenisnya. Ia juga menyerang praktik tawassul kepada para orang suci (wali) yang disebutnya sebagai praktik menyekutukan Tuhan atau “musyrik”. Cara pandang keagamaan literalis ketat dan fundamentalistik ini belakangan diikuti oleh Syeikh Muhammad bin Abd al-Wahab (1703-1791) dari Nejd, Saudi Arabia. Para pengikutnya disebut kaum Wahabi. Dalam beberapa tahun ini, kelompok Wahabi sangat gencar menyebarkan paham-paham keagamaannya ke seluruh dunia, bahkan seringkali dengan cara-cara kekerasan. Mereka belakangan lebih suka disebut “Golongan Salafi”.
Ada suatu kisah. Suatu hari Ibnu Taimiyyah diminta datang ke Mesir. Di sana ia diminta berfatwa, dan iapun menyampaikan fatwanya. Tetapi kemudian ada sebagian penduduk Mesir membencinya. Ibnu Taimiyah ditangkap dan dipenjara disebuah bukit di Mesir atas perintah hakim negeri itu bersama saudaranya Syaraf al Din. Tidak lama kemudian ia dilepaskan. Ia kembali mengajar dan menyampaikan fatwanya yang kontroversial. Ia tidak pernah merubah keyakinannya, meski banyak orang membencinya dan mengecamnya.
Akibat fatwa-fatwanya yang controversial dan suka mengkafirkan masyarakat muslim itu, ia beberapa kali diadili oleh penguasa dan beberapa kali dijebloskan ke penjara. Selama di tahanan ia tetap melakukan aktifitasnya ; mengarang dan menulis surat kepada para sahabatnya. Ia mengatakan : “ Allah telah membukakan hati dan fikiranku di dalam penjara ini, sehingga aku dapat memahami kandungan al Qur-an dan sejumlah besar prinsip-prinsip ilmu pengetahuan “. Ia pernah dilarang menulis dengan tidak diberikan tinta, pena dan kertas. Dalam keadaan ini ia hanya bisa membaca al Qur-an, shalat dan berzikir. Ia mengatakan : “ Musuh-musuhku tidak dapat menahanku. Aku seorang pekerja kebun di hatiku. Kemanapun aku pergi ia selalu bersamaku. Aku anggap tahanan tempat aku berkhalwah. Kematian bagiku karena perjuangan menegakkan agama. Jika aku diusir dari negeriku, maka aku anggap sebagai rekreasi “. Ia juga menemui ajalnya di penjara di sebuah bukit di Damaskus, tahun 728 H, dan dimakamkan di kuburan kaum sufi.
Ada sebuah analisis orang, mengapa Ibnu Taimiyah bersikap keras dan membenci praktik-praktik tradisi keagamaan di atas. Konon, itu karena Ibnu Taimiyah menghadapi serbuan yang tentara Mongol terhadap kaum muslimin di seluruh wilayah Khilafah Islamiyah. Sementara mereka lebih suka melakukan ziarah kubur, dan ritual-ritual keagamaan lainnya dan enggan atau malas berjuang menghadapi kaum Tartar yang kafir itu. Keadaan ini akan mengakibatkan kekalahan dan kehancuran kaum muslimin sendiri. Ia sendiri adalah seorang politisi sekaligus jendral, panglima perang. Ibnu Taimiyah bersama dua orang saudaranya ; Syaraf al Din dan Zain al Din terus menggelorakan “Jihad fi Sabilillah” untuk mengusir kaum penjajah Mongol itu. Dengan begitu, Ibnu Taimiyyah sesungguhnya tidak melarang ziarah kubur dan tawassul bi al-Nabi, itu sendiri, melainkan karena keadaan darurat perang semata. Jadi pengharaman itu berlaku kontekstual. Wallahu A’lam.
Adalah menarik pandangan ahli hadits besar abad ini : al-‘Allamah Muhaddits al-‘Ashr Al-Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki, mengenai isu Tawassul dalam pandangan Ibnu Taimiyyah. Ia menjelaskannya dalam bukunya yang terkenal : “Mafahim Yajib al-Tushahhah” (pemahaman keagamaan yang harus diluruskan). Beliau menulis dalam salah satu judul : “Tahlil Muhimm li Ra’yi Ibn Taimiyyah Ghaba ‘an ‘Uqul Atba’ihi” (Penjelasan Penting atas panddangan ibn Taimiyyah yang tidak dipahami para pengikutnya) dan “Masyru’iyyah al-Tawassul ‘ala Thariqah al-Syeikh Ibnu Taimiyyah”(Disyari’atkannya Tawassul menurut Ibn Taimiyyah).
Karya-karya Ibnu Taimiyah
Penulis kitab Fawat al Wafayat menyebutkan karangan Ibnu Taimiyah mencapai tiga ratus jilid. Antara lain : Iqtifa al Shirat al Mustaqim wa Mukhalafah Ash-hab al Jahim, Fatawa Ibnu Taimiyah, Al Sharim al Maslul ‘ala Syatim al Rasul, al Sharim al Maslul fi Bayan Wajibat al Ummah Nahwa al Rasul, Al Jawab al Shahih li Man Baddala Din al Masih, al Jawami’ fi al Siyasah al Ilahiyah wa al Ayat al-Nabawiyah, al-Siyasah al-Syar’iyah fi Ishlah al-Ra’i wa al-Ra’iyah, Rasail Syeikh al Islam Taqiy al Din bin Taimiyah, Minhaj al Sunnah al Nabawiyah fi Naqd Kalam al Syi’ah wa al Qadariyah, Al Farq baina Awliya al Rahmaan wa Awliya al Syaithan, Al-Radd ‘ala al-Manthiqiyyin, Al-Muwafaqah baina al-Ma’qul wa al-Manqul, Raf’ al-Malam ‘an Aimmah al-A’lam, dan lain-lain.
Alasan Syeikh al-Islam Ibnu Taimiyyah Tidak Menikah
Banyak orang bertanya mengapa Syeikh al-Islam Ibnu Taimiyah tidak menikah. Bukankah dia seorang ulama besar, hafal ribuan hadits, ahli fiqh, pemikir Islam hebat dan pujian-pujian lainnya. Bukankah hadits tentang kesunahan menikah begitu jelas dan sangat popular?. Ibnu Taimiyah sendiri tampaknya tidak memberikan penjelasan soal ini. Akan tetapi para pengagumnya memberikan jawaban pembelaan atasnya. Salah satunya adalah ini :
أن الإمام ابن تيمية ما ترك النكاح رغبة عنه ورهبة ومصادمة للفطرة أو تحريماً له بل عزوفه اختيارٌ منه؛ لأنه آثر غيره عليه من علم وجهاد ودعوة وإصلاح وتربية للمستفيدين على اختلاف منازلهم وعلومهم ورعايتهم يضاف إلى ذلك ما ابتلي به من حبس واعتقال واغتراب لذا ما كان عزوفه رغبة عنه؛ لأنه يعرف قدره ومنزلته في الشريعة وهو من أساطين العلماء الداعين إلى نشرها وتطبيقها وكانت حياته كلها مسخرة لنصرتها والذب عنها وإبراز مقاصدها ووجوب الاعتصام بها.
“Ibnu Taimiyah tidak menikah bukan karena ia tidak menyukainya, menghindari atau melawat fitrah manusia, apalagi mengharamkannya. Itu hanya karena pilihan yang disadarinya. Ia lebih mengutamakan ilmu pengetahuan, dakwah, jihad, kerja transformasi social, mendidik masyarakat. Di samping itu ia juga sering berada di penjara, diasingkan. Ia bukan tidak mengerti hadits-hadits Nabi, karena ia seorang ulama besar. Seluruh hidupnya dihabiskan untuk membela agama dan mewujudkan cita-cita agama. Rahimahu Allah wa Askanahu Fasiha Jannatih”.

ABU AL-‘ALA AL-MA’ARRI Cendikiawan, filsuf dan penyair buta yang Skeptis

Abu al-‘Ala al-Ma’arri dikenal sebagai seorang cendikiawan, pemikir bebas dan filsuf. Tetapi namanya lebih masyahur sebagai penyair kelas atas dan sastrawan besar. Nama lengkapnya adalah Abu al-‘ala Ahmad bin Abd Allah bin Sulaiman al-Tannukhi al-Ma’arri. Al-Tannukh adalah sebutan yang dihubungkan dengan asal daerah nenek moyangnya di Tannukh, Yaman. Disebabkan oleh banjir besar akibat jebolnya bendungan Ma’rib, keluarga itu pindah ke Siria. Sementara Ma’arrah dihubungkan dengan daerah kelahirannya, Ma’arri al-Nu’man, di Siria Utara. Ia lahir tahun 363-449 H/973-1057 M. Abu al-‘Ala bermakna bapak yang tinggi (mulia). Ini adalah julukan kehormatan yang diberikan masyarakat kepadanya. Ma’arri sendiri seperti tidak berkenan dengan panggilan ini. Ia dengan rendah hati mengatakan dalam puisinya :
دعيت أبا العلاء وذاك مين ولكنّ الصّحيح أبو النزول
Aku dipanggil Abu ‘l-‘Ala’ (yang tinggi). Ini tidaklah benar, Yang benar ialah Abu ‘n-Nuzul (yang rendah).
Pada usia sekitar 3 tahun al-Ma’arri mengalami sakit panas, cacar yang pada gilirannya mengganggu penglihatannya. Tidak lama kemudian pada usia 6 tahun ia tak bisa melihat lagi. Tetapi keadaan disabilitas ini tidak membuatnya putus harapan untuk terus belajar. Malahan justeru membawa hikmah yang besar. Keadaan itu membuat pikirannya berkembang cepat, ingatannya sangat kuat dan genius. Beberapa penulis tentang tokoh ini menyebut al-Ma’arri sebagai “A’jubah min A’ajib al-Zaman” (salah satu tokoh yang sangat mengagumkan). Al-Ma’arri selalu mengingatkan saya pada sosok cerdas lain yang juga mengalami kebutaan total : Thaha Husein, sastrawan besar Mesir. Thaha Husein sendiri tampak sangat mengagumi al-Ma’arri. Ia menulis sebuah buku berjudul : “Dzikra Abi al-‘Ala” (Kenangan terhadap Abu al-‘Ala) dan sebuah novel : “Abu al-‘Ala fi Sijnih” (Abu al-‘Ala di dalam Penjara).
Abu al-‘ala al-Ma’arri menempuh pendidikan keagamaan tradisional, dan belajar di beberapa negara lain, terutama Irak. Ia memperlajari tafsir, hadits, fiqh dan sejenisnya. Tetapi bakatnya yang besar justeru pada bidang sastra. Ia amat mengagumi penyair Arab terbesar sepanjang sejarah ; Al-Mutanabbi (915 M) dan para sastrawan besar lainnya. Ia kemudian menjadi penyair besar. Puisi-puisinya mengalir demikian indah, bahkan oleh sebagian pengagumnya dipandang seperti Mu’jizat. Tetapi hampir semua puisinya mengungkapkan perasaan dan pandangan-pandangannya yang sangat pesimistis dan skeptic dalam memandang kehidupan di dunia ini. Meski seorang tuna netra, Ma’arri sangat memahami situasi social, budaya dan politik pada zamannya yang kacau, korup dan kekerasan. Ia acap melancarkan kritik yang sangat tajam dan menohok terhadap perilaku para pemimpin agama, bukan hanya Islam tetapi juga agama-agama lain : Yahudi dan Nasrani. Dalam waktu yang sama ia juga mengkritis terhadap para penguasa. Ia mengecam keras para pemimpin agama (Rijal al-Din) yang terus mengeksploitasi masyarakat awam untuk kepentingan diri sendiri. Mereka acap melakukan kolaborasi dengan para penguasa yang sangat korup untuk saling mencari kedudukan, jabatan politik dan gelimang kemewahan di atas penderitaan rakyatnya. Mereka menjual agama dengan harga murah.
Al-Ma’arri dikenal juga sebagai seorang pemikir bebas (liberal). Ia percaya pada kekuatan akal. Karena itu ia juga mengkritik pedas doktrin-doktrin keagamaan formalistic dan tekstual yang sering tidak masuk akal dan dinilai membodohi rakyat. Rakyat awam dininabobokan dengan janji-janji sorga dan ditakut-takuti siksa neraka. Pemerintahan di berbagai Negara Arab dipimpin oleh otak-otak penuh hasrat duniawi. Ia kehilangan pemimpin keagamaan yang saleh dan jujur. Ini semua ia tulis dalam syair-syair yang ditulisnya dalam bukunya “Ilzam Ma La Yulzam” atau lebih dikenal dengan “Luzumiyyat al-Ma’arri”.
يكفيك حزناً ذهاب الصالحين معــاً ونحـنُ بعدهم في الأرض قطّان
إنّ العراق وإنّ الشــــام مـــد زمنٍ صفــران، ما بهمــا للملك سلطان
والشام فيه وقود الحرب مشتعل يشابه القوم شدت منهمو الحجز
ساس الأنـــــــام شياطين مسلطــــةٌ فــي كلّ مصرٍ من الوالين شيطان
يَسوسونَ الأمورَ بغَيرِ عَقلٍ فينفُذُ أمرُهم، ويقالُ: ساسَهْ
O, betapa kita kehilangan orang-orang saleh
Kita hidup bagai kapas terbang di atas tanah
Irak dan Siria sejak lama sepi pemimpin
Siria meletus perang setiap hari
Rakyat di sana terperangkap dalam ketakutan
Rakyat diberbagai Negara dipimpin para penguasa
Dengan pikiran setan
Mereka memimpin tanpa akal
Dan kebijakan mereka dipaksakan
Konon begitulah cara mengatur
Skeptisisme Ma’arri
Abu al-Ala al-Ma’arri, seperti cendikiawan, matematikawan dan penyair legendaris dari Persia, Omar al-Khayyam, adalah seorang pesimis sekaligus skeptis sepanjang hidupnya. Ia terombang-ambing dalam ketidakpastian dan kecemasan. Ia percaya pada kekuatan akal pikiran di satu saat, tetapi ia tak berdaya dengan akalnya pada saat yang lain. Ia menolak Tuhan dengan akalnya sekaligus pasrah kepada keputusan Tuhan. Ia sering ingin segera pulang (mati) tetapi pada saat yang lain ia ingin tetap hidup. Ma’arri lebih banyak menderita atau mungkin lebih tepat disebut sebagai seorang Nihilis. Dalam sebuah puisinya ia mengungkapkan perasaan seperti hidup dalam penjara pada tiga fase dan tanpa harapan keindahan:
Lihatlah, hidupku bagai dalam tiga penjara
Janganlah bertanya mengapa
Mataku tak dapat melihat
Aku selalu berada di dalam rumah
Dan jiwaku terperangkap dalam tubuh yang penuh keburukan
Dalam puisinya yang lain ia mengekspresikan pandangan pesimismenya atas hidup dan kehidupan dunia. Ia menghadapinya dengan gamang :
تأملنا الزمان فما وجدنا الى طيب الحياة به سبيلا
ذر الدنيا إذا لم تحظ منها وكن فيها كثيرا او قليلا
Aku telah merenungkan kehidupan
Aku tak menemukan jalan kehidupan yang menyenangkan
Ayo tinggalkan dunia ini, jika kau tak bahagia
Terimalah ia sedikit atau banyak
Pikiran-pikiran liberal Al-Ma’arri melahirkan resistensi keras dari para ulama. Ia terlalu sering dituduh sesat, atheis, kafir zindiq dan murtad. Ia adalah salah satu tiga cendikiawan legendaries yang mendapat tuduhan seperti ini. Dua orang lainnya adalah : Ibnu Rawandi (w.864 M) dan Abu Hayyan al-Tauhidi (w. 1009 M). Buku karya Abu Hayyan yang sangat terkenal dan pernah saya baca adalah : “Al-Imta’ wa al-Mu-anasah”. Boleh jadi untuk hari ini ia akan disebut dedengkot “JIL”, kata yang dimaknai secara pejorative dan stigmatic, meski sering tanpa pernah memahami substansi atau isi pikirannya.
Tetapi orang sepakat bahwa Ma’arri adalah seorang darwish, seorang zahid, seorang yang bersahaja. Ia tidak suka kemewahan. Ia juga seorang vegetarian. Makanan sehari-harinya adalah sayur-sayuran dan buah-buahan. Ia menolak makan daging binatang apapun, telor, susu dan madu. Boleh jadi hal ini karena ia membayangkan penderitaan hewan dan burung ketika harus disembelih. Dalam “Luzum Ma La Yalzam” atau dikenal dengan judul “Luzumiyyat”, Ma’arri mengatakan :
االحمد لله قد اصبحت فى دعة أرضى القليل ولا أهتم بالقوت
وشاهد خالقى أن الصلاة له أجل عندى من درِّى وياقوت
Segala puji bagi Tuhan semata
Aku menjadi menerima saja diberi seberapapun
Aku tak berminat pada makanan
Aku bersaksi kepada Tuhan Pencipta kehidupan
Shalat bagiku lebih agung daripada intan dan permata
Al-Ma’arri menolak Menikah
Cendikiawan ini amat terkenal dengan pandangannya yang anti menikah dan mempunyai anak. Baginya kehidupan di dunia ini terlalu banyak kerusakan., terlalu banyak penderitaan. Menikah dan berketurunan menurutnya adalah sebuah tindakan kejahatan. Anak-anak yang dilahirkan akan menjadi korban. Karena itu ia membenci pernikahan. Bahkan ia juga seperti ketakutan jika melihat perempuan. Ketidaksenangannya menikah bukan hanya untuk dirinya, melainkan juga ia juga mengajak orang lain untuk tidak menikah. Ia mengatakan : “Da’ al-Nasl. Inna al-Nasla ‘uqbahu Mayyitatun” (Tinggalkan berketurunan. Berketurunan akan menimbulkan kematian).
Di tempat lain ia mengatakan :
نصحتك لا تنكح فإن خفت مأثما فاعرس ولا تنسل فذلك احزم
Dari puisi-puisi di atas, tampak sekali bahwa sesungghnya ketidakinginannya untuk menikah lebih karena ia tidak ingin mumpunyai keturunan yang menyebabkan anak-anaknya akan menderita, seperti dirinya. Dan ia sama sekali tak menginginkan menjadi penyebab penderitaan anak-anaknya atau orang lain. Ia menyesali ayahnya telah melahirkan dirinya.
Oleh karena itu sebelum meninggal dunia ia menulis sebuah puisi dan berwasiat agar puisi ini diletakkan di atas pusaranya kelak. Inilah puisinya yang sangat terkenal itu :
هذا جناه أبى علي وما جنيت على احد
Ini adalah tindakan jahat ayahku atasku
Dan aku tidak melakukan kejahatan kepada siapapun
Ia juga berkali-kali pesan kepada para saudara-saudara dan sahabat-sahabatnya agar tidak mengutuki dan mencaci-maki orang-orang yang sudah wafat. Katanya dalam sebuah puisi lain yang juga amat populer :
لا تظلموا الموتى وإن طال المدى وإنى أخاف عليكمو ان تلتقوا
Janganlah kalian caci-maki mereka yang telah mati
sejak kapanpun ia mati
Aku kawatir kalian akan menjumpai hal yang sama
Karya-karya al-Ma’arri
Al-Ma’arri menulis cukup banyak buku, terutama dalam bentuk antologi puisi. Antara lain yang terkenal : Siqth al-Zindi (Percikan api), terdiri dari 3000 bait puisi, Luzum Ma La Yalzam (Keharusan yang tidak harus) : 120 halaman, Rahah al-Luzum, Syarh Kitab Luzum Ma La Yalzam (ulasan kitab Luzumiyyat) : 100 halaman, “Istaghfir Wa Istaghfiri” : 10.000 bait. Buku ini berisi permenungan-permenungan al-Ma’arri tentang hidup dan kehidupan sesudah mati, Risalah al-Ghufran (Surat Pengampunan) dan lain-lain. Buku yang terakhir ini (Risalah al-Ghufran) adalah karya sastra filsafat yang sangat terkenal di dunia. Buku ini berkisah tentang kehidupan manusia di neraka dan di sorga. Dialog-dialog imajinatif pengarangnya yang demikian indah dan hidup antara penghuni sorga dengan penghuni neraka yang penuh dengan nada-nada satiris. Buku ini sangat menarik, mengingatkan kita pada cerpen “Langit Makin Mendung” karya Ki Panji Kusmin yang menghebohkan para ulama dan institusi-institusi agama di negeri ini. Karya filsafat ini telah memengaruhi Dante Alighieri (1265 M), dalam karyanya “Divine comedy” (Komedia Ilahiyah) yang sangat terkenal itu.

ULAMA YANG MEMILIH TIDAK MENIKAH RABI’AH AL-‘ADAWIYAH Perempuan Ikon Cinta Tuhan

Rabi’ah al-‘Adawiyah. Namanya sering disebutkan sebagai Rabi’ah al-Qaisiyyah dari Basrah, Irak. Lahir tahun 180 H. Betapa populernya nama ini. Ia diingat orang, terutama dalam dunia sufisme, sebagai perempuan Ikon cinta Tuhan (al-Hubb al-Ilahi). Nama perempuan lain yang sering disebut kaum sufi falsafi adalah Layla bint Mulawwih, kekasih Qais yang kemudian terkenal dengan julukan “Majnun” (si gila). Dalam dunia filsafat Platonisme cinta semacam ini acap disebut dengan nama “Cinta Platonis”
Hampir semua sufi besar menyebut nama Rabi’ah ini, baik dalam karya sastra prosa maupun puisinya. Tokoh perempuan ini mungkin paling banyak ditulis orang : para sastrawan dan para sufi besar. Beberapa tokoh yang menulis tentang Rabi’ah antara lain al-Jahizh, dalam “Al-Bayan wa al-Tabyin” , Abu Thalib al-Makki dalam “Qut al-Qulub” buku yang menginspirasi Imam Abu Hamid al-Ghazali, Abu al-Qasim al-Qusyairi dalam “al-Risalah”, Abd al-Rahman al-Sullami dalam “Dzikr al-Niswah al-Mut’abbidat al-Shufiyyat”, Ibn al-Jauzi, Farid al-Din al-Athhar dalam “Tadzkirah al-Awliya”, dan lain-lain. Belakangan filsuf Mesir terkenal; Abd al-Rahman Badawi menulis buku berjudul : “Rabi’ah al-‘Adawiyah Syahidah al-‘Isyq al-Ilahy” (Rabi’ah Adawiyah sang Sufi Martir). Belakangan Rabi’ah difilmkan seorang sutradara Mesir. Rabi’ah diperankan oleh penyanyi bersuara emas yang legendaries dan disebut sebagai “Kaukab al-Syarq” (bintang dari Timur).
Rabi’ah bermakna perempuan yang ke empat. Nama ini diberikan ayahnya, karena ia adalah anak perempuannya yang ke empat. Farid al-Din al-‘Atthar, sufi dan sastrawan besar, penulis buku yang sangat terkenal “Manthiq al-Thair” (Percakapan Burung), menulis kisahnya panjang lebar. Katanya, Rabi’ah lahir dari keluarga yang sangat miskin yang taat mengabdi kepada Tuhan. Kemiskinan keluarga itu sedemikian rupa, hingga manakala Rabi’ah lahir pada malam hari, rumah Ismail, ayahnya, gelap gulita, tanpa lampu. Untuk membeli minyak tanah bagi lampu juga tak punya. Bahkan konon ia tak juga punya kain/popok untuk membungkus jabang bayi merah itu. Manakala Ismail kemudian terpaksa harus mengetuk pintu demi pintu rumah tetangganya seraya berharap memeroleh bantuan sedikit minyak tanah, ia juga pulang dengan tangan kosong. Ia hanya bisa pasrah atas keberadaannya, sambil terus berdo’a kepada Tuhan siang dan malam.
Manakala Rabi’ah menjadi balita dan sudah bisa makan dengan tangannya sendiri, ia sering merenung seorang diri. Suatu hari dalam kesempatan makan bersama dengan ayah-ibu dan ketiga kakaknya, Rabi’ah diam saja. Tangannya tak mau mengambil makanan di hadapannya. Ketika sang ayah bertanya mengapa ia tak mau makan, Rabi’ah balik bertanya : “apakah makanan ini diperoleh dari cara yang halal?. Sang ayah, ibu dan kakak-kakaknya terperangah. Begitu dijawab “ya, dari cara yang halal”, ia kemudian mau makan.
Kisah selanjutnya. Keempat anak perempuan itu terpaksa mencari pekerjaan di kota Basrah, ibu kota Irak. Di tengah jalan ia ditangkap orang, lalu dijual kepada pemilik sebuah tempat hiburan malam. Di tempat itu ia bekerja sebagai peniup “Ney”, suling, dan akhirnya menjadi penyanyi. Rabi’ah adalah perempuan cantik dan bersuara merdu. Rumah hiburan itu tiba-tiba menjadi ramai pengunjung, dan pemiliknya mendadak menjadi kaya-raya. Bila malam telah larut, dan suasana di sekitar tempatnya menginap sepi, ia tak segera beristirahat. Rabi’ah justeru segera mengambil air wudhu dan shalat tahajjud berlama-lama. Ia mengadukan hidupnya kepada Tuhan. Rabi’ah shalat, berdo’a dan bermunajat dengan seluruh jiwa raganya sepanjang malam hingga fajar merekah. Konon, di suatu malam, kamar Rabi’ah berpendar cahaya. Tuan rumah melihat cahaya itu. Ia terperangah dalam kekaguman yang luruh. Esok harinya, Rabi’ah dibebaskan dan menjadi orang merdeka. Rabi’ah selanjutnya menempuh hidup sebagai “abidah”, pengabdi Tuhan. Ia menyusuri jalan cahaya, mengunjungi pengajian para sufi, di kota itu. Ia antara lain mengunjungi Hasan al-Basri, pemimpin para sufi terkemuka di zaman itu yang kepadanya hampir semua sufi sesudahnya berguru.
Banyak teman mengolok-olok sikap hidupnya itu. Mereka seperti tak setuju dengan jalan hidup barunya. Rabi’ah mengatakan : “O. Tuhan, mereka mencemoohku, lantaran aku mengabdi hanya kepada-Mu. Demi Kemuliaan dan Keagungan-Mu aku akan mengabdi kepada-Mu dengan seluruh darah dan nafasku”. Ia menggubah puisi :
يا ذا الذى وعد الرضا لحبيبه أنت الذى ما ان سواك أريد
Duhai Yang berjanji menyambut dengan riang kekasih-Nya
Duhai, Kau Yang tak ada yang lain yang aku harapkan

Rabi’ah juga acap mengunjungi ahli fiqh sekaligus sufi besar, Sufyan al-Tsauri, begitu pula sebaliknya, al-Tsauri sering mengunjunginya. Kedua saling belajar dan terlibat dalam dialog-dialog cinta Tuhan yang sering membuat keduanya menangis dalam “Khawf” (khawatir, cemas) dan “Roja” (berharap). Konon pada awal perjalanan sepiritualnya Rabi’ah dibimbing seorang sufi perempuan : Hayyunah. Puisi di atas berasal darinya. Rabi’ah suatu saat mendengarkan temannya bersenandung cinta kepada Tuhan :
Duhai Kekasih-ku Satu-satunya
Engkau yang memberiku kegembiraan membaca tiap malam
Lalu Engkau lepaskan aku ketika siang datang
Duhai Tuhanku, Aku ingin seluruh siang adalah malam
Agar aku selalu mesra bersama-Mu
Rabi’ah tak menikah dan tak ingin menikah dengan laki-laki siapapun. Ia menolak laki-laki yang dating kepadanya, sebesar dan setinggi apapun keilmuan dan kehebatan laki-laki itu. Seluruh hidupnya diliputi oleh gairah cinta kepada Tuhan, tak ada yang lain dan tak ingin yang lain. Hari-harinya disibukkan untuk menyebut Nama-Nya, memuji-Nya, dan merindukan-Nya. Malam-malamnya dihabiskan untuk menjalin keintiman bersama-Nya. Hingga ia menjadi ikon Cinta Tuhan sepanjang sejarah.
Pandangannya tentang cinta kepada Tuhan sedemikian rupa hebatnya, sehingga ia menyerahkan seluruh jiwa raganya kepada Kekasih-nya. Ia menerima apapun yang dilakukan sang Kekasih. Ia rela jika kekasih memasukkannya ke dalam neraka sekalipun. Puisinya mengenai ini sering diungkapkan para sufi :
Ilahy, Jika aku mengabdi kepada-Mu karena takut neraka-Mu,
Bentangkan lebar-lebar pintu neraka itu untukku
Dan bila aku mengabdi kepada-Mu karena menginginkan surgamu,
Tutup saja pintunya
Tetapi bila aku mengabdi kepada-Mu karena cinta,
maka bukalah tirai Wajah-Mu hingga aku dapat memandanginya.
Konon, manakalah Rabi’ah pergi ke Makkah untuk menunaikan ibadah Haji, ia tak hendak melihat Ka’bah, “Bait Allah”, rumah Tuhan, tetapi ingin melihat Pemilik Ka’bah (Rabb al-Ka’bah).
Cinta acap membuat orang tiba-tiba pandai menggubah puisi. Sejak Rabi’ah mengenal cinta, ia begitu amat piwai menggubah puisi-puisi cinta. Puisi-puisi cintanya mengalir deras dari bibirnya yang basah. Dan bagi Rabi’ah Tuhanlah cinta pertama dan terakhirnya. Hatinya telah tertutup bagi cinta yang lain, bagi selain Tuhan. Katanya suatu saat :
عَرَفْتُ الهَوى مُذ عَرَفْتُ هواك وأغْلَقْتُ قَلْبي عَلىٰ مَنْ عَاداكْ
وقُمْتُ اُناجِيـكَ يا مَن تـَرىٰ خَفايا القُلُوبِ ولَسْنا نراك
Aku mengenal cinta
Sejak aku mengenal cinta-Mu
Hatiku telah terkunci bagi selain-Mu
Aku selalu siap mendesahkan nama-Mu
Duhai, kau Yang Melihat
Seluruh rahasia-rahasia setiap hati
Sedang aku yang tak bisa menatap wajah-Mu
Saat aku menonton film Rabi’ah yang diperankan oleh penyanyi legendari Mesir ; Ummi Kultsum, aku ikut terlibat dalam emosi melankolis manakala ia menyanyikan lagu cinta itu. Ummi Kultsum memerankan Rabi’ah demikian penuh. Dalam munajatnya kepada Tuhan, ia menyenandungkan situasi hatinya dalam puisi-puisi yang manis dan menyayat hati.
يَا سُرُورِى وَمُنْيَتِى وَعِمَادِى وَأَنِيسِى وَعُدَّتِى وَمُرَادِى
أَنْتَ رُوحُ اْلفُؤَادِ أَنْتَ رَجَآئِى أَنْتَ لِى مُؤْنِسٌ وَشَوْقُكَ زَادِى
أَنْتَ لَوْلَاكَ يَا حَيَاتِى وَأُنْسِى مَا تَشَتَّتُ فِى فَسِيحِ الْبِلادِ
Duhai kegembiraanku Duhai rinduku, Duhai tambatan hatiku
Duhai manisku, duhai nyawaku, duhai dambaanku
Engkaulah ruh jiwaku, Engkaulah harapanku
Engkaulah manisku
Rasa rinduku kepadamu adalah nafasku
Duhai Engkau, andai aku tanpa-Mu, duhai hidupku, duhai manisku
Aku tak kan menyusuri jalan terbentang di negeri-negeri
Puisinya yang paling terkenal dan disenandungkan Ummi Kultsum dengan nada-nada yang begitu indah, memilukan dan merengkuh jiwa pendengarnya adalah ini :
أحِبُكَ حُبَيْنِ حُبَ الهَـوىٰ # وحُبْــاً لأنَكَ أهْـل ٌ لـِذَاك
فأما الذي هُوَ حُبُ الهَوىٰ # فَشُغْلِي بذِكْرِكَ عَمَنْ سـِواكْ
وامّـا الذي أنْتَ أهلٌ لَهُ # فَكَشْفُكَ لِى الحُجْبَ حَتىٰ أراكْ
فلا الحَمْدُ في ذا ولا ذاكَ لي # ولكنْ لكَ الحَمْدُ فِي ذا وذاك
Aku mencintai Mu dengan dua cinta
Cinta karena hasrat diriku kepada-Mu
Dan cinta karena hanya Engkau yang memilikinya
Dengan Cinta hasrat, aku selalu sibuk menyebut nama-Mu
Dengan Cinta karena Diri-Mu saja,
Dan tidak yang lain
Karena aku berharap Engkau singkapkan Tirai Wajah-Mu
Biar aku bisa menatap-Mu seluruh
Tak ada puja-puji bagi yang ini atau yang itu
Seluruh puja-puji untuk-Mu saja
Cinta kepada Tuhan adalah puncak dari seluruh perjalanan hidup para pencari Tuhan. Ia bukan hanya milik Rabi’ah, melainkan juga milik para sufi besar lain, seperti Husein Manshur al-Hallaj, Ibnu Arabi, Maulana Jalal al-Din Rumi dan lain-lain. Lalu apakah cinta itu?. Mahmud Mahmud Ghurab menulis puisi :
Cinta adalah rasa
Kau tak paham hakikatnya
Ini sungguh menakjubkan
Sungguh menakjubkan

Rabu, 04 Februari 2015

IMAM MUHYIDDIN AL-NAWAWI

Ulama lain yang tidak menikah sampai akhir hayatnya adalah Imam Nawawi. Ia lebih memilih jalan hidup dengan menekuni ilmu pengetahuan dan menyebarkannya sekaligus mengabdi kepada umat. Nama lengkapnya adalah Yahya bin Syaraf bin Muri bin Hasan bin Husein bin Muhammad bin Jum'ah bin Hizam, seorang faqih Syafi'i, ahli hadits dan zahid. Ia dikenal dengan panggilan Abu Zakariya Muhyiddin al-Nawawi, bergelar “Syeikh al-Islam”. Lahir tahun 631 H di Nawa sebuah desa di Kecamatan Hauran, Siria.
Nawawi ini bukanlah Nawawi al-Bantani. Para ulama pesantren biasanya membedakan keduanya dengan panggilan kehormatan terhadap keduanya. Nawawi yang pertama biasanya disebut dengan gelar al-Imam, sementara Nawawi yang kedua disebut Syeikh atau Kiyai. Keduanya adalah ulama besar yang karya-karyanya diajarkan di semua pondok pesantren selama berabad-abad. Nama Imam Nawawi, ulama besar yang sedang kita ceritakan ini adalah paling banyak diingat oleh para ulama NU sesudah Imam al-Syafi’I, ketika acara Bahtsul Masail. Yakni membahas masalah-masalah keagamaan untuk menjadi keputusan lembaga. Para ulama NU dalam system pengambilan keputusan agama menyepakati sebuah pedoman yang diambil dari kitab “I’anah al Thalibin”, karya Abu Bakar Syatha, bermazhab Syafi’i. Kitab ini menyebutkan hirarki pengambilan keputusan fiqh : 1. Pendapat yang disepakati oleh Imam Nawawi dan Imam Rofi’i. Jika tidak ada kesepakatan keduanya, maka diambil 2. Pendapat Imam Nawawi. 3. Pendapat Imam Rafi’i.4. Pendapat Jumhur (mayoritas) ulama.5. Pendapat faqih yang terpandai (a’lam) dan 6. Pendapat faqih yang paling wara’ (zuhud).
Pilihan mendahulukan Imam Nawawi dan Imam Rafi’i (Abu al Qasim Abd al Karim bin Muhammad al Rafi’i. w.623 H) didasarkan atas pandangan bahwa keduanya adalah “Muharrir al-Mazhab”, , yakni orang yang mampu menseleksi dan memverifikasi pendapat-pendapat Imam al-Syafi’i. Oleh karena itu keduanya dipandang sebagai “Mujtahid Tarjih” dalam mazhab al-Syafi’i. Di tangan kedua ahli fiqh terkemuka ini seluruh pikiran-pikiran mazhab Syafi’i menemukan titik seleksi secara final. Dan jika kedua berbeda pendapat, maka pendapat Imam Nawawi yang diambil. Alasannya adalah Imam Nawawi merupakan “faqih muhaddits”, sementara Imam Rafi’i hanya seorang “faqih”. Ada juga alasan lain. Dan ini bersifat mistis. Saya mendengar dari seorang guru yang konon dia mendengar dari seorang Kiyai, bahwa Imam Nawawi memeroleh prioritas daripada Imam Rafi’I adalah karena “manakala Imam Rafi’I menulis bukunya, maka pena yang digunakan untuk menulis itu bercahaya. Sedangkan jika Imam Nawawi sedang menulis buku, maka yang bersinar adalah jari-jarinya”. Wallahu A’lam bi al-Shawab.
Aktifitas Belajar Imam Nawawi
Imam Nawawi adalah ulama yang hidup dalam kemiskinan. Makanannya sehari-hari hanyalah roti kering yang dibagikan sekolahnya. Ia sangat rajin dan tekun dalam belajar. Allah memberinya anugerah kekuatan fisik dan mental yang luar biasa, sehingga dalam satu hari ia dapat belajar 12 bidang ilmu pengetahuan, meliputi hadits, ilmu hadits, ushul fiqh, bahasa, “tashrif”, kalam (teologi), mantiq (logika), dan lain-lain. Ia pernah punya keinginan untuk mempelajari ilmu kedokteran, tetapi gagal. Ia menceritakan keinginan ini : “Aku pernah tertarik untuk mempelajari kitab “Al-Qanun fi al-Thibb”, (matera medica), karya filsuf dan dokter terkemuka : Ibnu Sina (di Barat dikenal sebagai Avicenna). Lalu aku membelinya. Tetapi hatiku resah. Aku stress selama beberapa hari sehingga aku tak bisa melakukan apa-apa. Begitu sembuh aku menjual buku itu. Dan hatiku kembali bercahaya”.
Menurut al-Dzahabi, selama 20 tahun Imam Nawawi tidak pernah berhenti belajar dan itu dilakukannya siang - malam, di tempat di manapun, bahkan dalam perjalanan, sambil tetap hidup dalam kesederhanaannya, zuhud, dan berdakwah. Sesudah itu ia menulis banyak buku. Ia pernah memimpin lembaga pendidikan Dar al Hadits, menggantikan Syeikh Syihab al Din Abu Syamah. Untuk jabatan ini ia tidak mengambil upah sedikitpun. Ia dengan senang hati menerima cara hidup bersahaja dari kiriman orang tuanya.
Karya-karya Nawawi
Imam Nawawi adalah penulis produktif. Ia telah berhasil menulis sejumlah karya penting dan dijadikan standar atau semacam buku paling otoritatif (mu’tabar) dalam mazhab Syafi’i. Beberapa di antaranya adalah : Syarh Shahih Muslim, Riyadh al Shalihin, Al Minhaj syarh Muslim ( hadits ), Al Adzkar, Al-Majmu’ Syarh al Muhadzdzab ( fiqh ), Al Idhah fi Manasik al Hajj, Al Tibyan fi Adab Hamalat al Qur-an, Al Khulashah fi al Hadits, karya ringkasan hadits-hadits yang terdapat dalam kitab Syarh al- Muhadzdzab, Al Arba'in al Nawawiyah ( hadits ). Semua kitab-kitab Imam Nawawi ini terus diaji diseluruh pesantren di Indonesia sampai hari ini.
Menjaga Jarak dengan Kekuasaan dan Kritis
Imam Nawawi dikenal sebagai ulama yang tidak terlalu suka dengan para penguasa pada masanya. Ia acap mengkritisi kebijakan mereka. Meski demikian ia tetap mendo’akannya. Suatu saat ia menulis surat untuk penguasa : “Dari hamba Allah, Yahya al-Nawawi. Keselamatan, kasih saying dan keberkatan Allah semoga dilimpahkan kepada tuan. Kepada Raja Badr al-Din. Semoga Allah melanggengkan kebaikan kepada anda. Semoga pula Allah mengabulkan cita-citanya : kenikmatan duniawi dan ukhrawi, dan Dia memberkati semua tindakannya”. Salam Yahya al-Nawawi.
Bulan Rajab 676 H, Nawawi meninggal dunia dan dikebumikan di desanya. Kuburannya diziarahi banyak orang dari berbagai penjuru dunia. Tetapi beberapa hari lalu, kuburan sang Imam dihancurkan oleh kelompok yang mengaku muslim dan menamakan dirinya ISIS. Ini sebuah tindakan yang biadab, anti peradaban dan melukai kaum muslimin, terutama para pengikut mazhab Syafi’i. Ghafara Allah Lahu wa Rahimah, wa Ij’al al-Jannah Matswah wa Ma’wah.

IMAM ZAMKHSYARI AL-MU’TAZILI

Tokoh dan ulama lain yang memilih tidak menikah adalah Imam Zamakhsyari. Nama lengkapnya adalah al-Imam Abu al-Qasim Mahmud bin Umar al-Zamakhsyari al-Khawarizmi, (467-538 H). Khawarizm adalah nama sebuah propinsi di Asia Tengah, seperti halnya Bukhara dan Samarkand. Pada abad pertengahan ia menjadi bagian dari kekuasan Persia. Ia dikenal sebagai tokoh “Mu’tazilah”, sebuah aliran Islam Rasional. Tetapi ia menganut mazhab Hanafi dalam Fiqh. Masyarakat memberinya gelar “Jar Allah” (tetangga Allah). Julukan ini diberikan kepadanya karena ia tinggal di Makkah untuk waktu yang cukup lama. SyeikhAbu Hayyan al-Andalusi menceritakan bahwa Zamakhsyari menempuh perjalanan dari Khawarizm ke Makkah kira-kira sebelum tahun 520 H. Tujuan utamanya adalah untuk mengaji “Kitab Sibawaih”, murid Imam Khalil Ahmad al-Farahidi. Gurunya seorang ulama dari Andalusia, bernama : Abu Bakar Abdullah bin Thalhah al-Yabiri, al-Isybili (Sicilia), Andalus, Spanyol. “Kitab Sibawaih” adalah buku tentang Ilmu gramatika bahasa Arab yang dijadikan standar didunia Islam. Al-Jahizh, sastrawan besar, mengatakan : “Belum ada buku tentang gramatika Arab yang menandingi kitab Sibawaih ini”.
Saya mengenal nama ini ketika belajar Alfiyah dalam Ilmu Nahwu (Gramatika Arab) dan ilmu sastra atau “Balaghah” di pesantren, awal tahun 1970. Dan saya mendengar cerita dari guru di pesantren bahwa Imam Sibawaih adalah seorang murid yang cerdas, dan karena kecerdasannya itu ia menjadi ahli bahasa yang dikagumi masyarakat. Santri-santri gurunya : Imam Khalil bin Ahmad al-Farahidi (718-786 M), berbondong-bondong pindah mengaji kepadanya. Konon peristiwa ini membuat sang guru menekuni bidang lain ; yakni note-note musik. Yang kemudian disebut sebagai pencipta “Ilmu ‘Arudh” (Wadhi’ Ilm al-‘Arudh) . Saya pernah belajar ilmu ini dan mengenal 15 bahr, seperti Bahr Thawil, Rajaz, Kamil, Basith, Wafir dan lain-lain. Tetapi sekarang sudah lupa. Gus Dur sering menyebut nama Imam Khalil ini sebagai “penulis Kamus bahasa Arab yang pertama, yang disebut “Qamus al-‘Ain” atau “Mu’jam al-‘Ain”.
Kembali ke Imam Zamakhsyari. Dalam dunia ilmu pengetahuan Islam, ia dikenal sebagai seorang sastrawan besar dan ahli bahasa. Buku tentang kaedah-kaedah sastra Arab yang sangat popular adalam “Asas al-Balaghah”. Di samping itu ia juga dikenal sebagai mufassir (ahli tafsir) besar. Ia member nama kitab Tafsir ini : “al-Kasysyaf ‘an Haqaiq Ghawamidh al-Tanzil wa ‘Uyun al-Aqawil fi Wujud al-Ta’wil”, Ia adalah kitab tafsir dalam perspektif Mu’tazili, yang rasionalis.
Karya-karya Zamakhsyari
Imam Zamakhsyari adalah tergolong ulama produktif. Sepanjang hidupnya ia telah menulis 50 buku penting. Beberapa di antaranya adalah : “Al-Kasysyaf”, “al-Faiq fi Gharib al-hadits”, “Nukat al-A’rab fi Gharib al-I’rab”, “Mutasyabih Asma al-Ruwat”, “Athwaq al-Dzahab fi al-Mawa’izh”, “Asas al-Balaghah”, “Syarh Syawahid Kitab Sibawaih”, “Diwan al-Tamtsil”, “Nawabigh al-Kalim”, Nashaih al-Kibar”, “Nashaih al-Shighar” “Syaqaiq al-Nu’mal fi Haqaiq al-Nu’man” (biografi Imam Abu Hanifah) dan lain-lain.
Alasan tidak menikah
Hal paling menarik sekaligus menjadi perdebatan para ulama adalah alasan Imam Zamakhsyari memilih untuk tidak menikah. Ia tidak seperti para ulama yang sudah diceritakan maupun yang belum diceritakan (Insya Allah) yang memilih tidak menikah dengan alasan lebih mencintai ilmu pengetahuan dan mencintai seorang perempuan. Zamakhsyari mengungkapkan alasannya dalam sejumlah bait puisinya. Antara lain :
Aku telah mengamati nasib anak-anak
Aku hampir tak menemukan, anak-anak yang tidak menyakiti ibu dan ayahnya
Aku melihat seorang ayah yang menderita karena mendidik anak-anaknya
Dan ia ingin sekali anaknya menjadi orang yang pintar dan cerdas
Ia ingin mendidik generasi yang cemerlang
Tetapi apa daya, apakah ia menjadi baik atau menjadi nakal
Saudaraku menderita, ia menjadi beban anaknya
Anak itu begitu nakal
Karena itulah, aku tinggalkan menikah
Dan memilih cara hidup sebagai biarawan
Ini bagiku jalan hidup yang terbaik
Banyak ulama yang mengkritik cara pandang Zamakhsyari yang pesimistis itu. Itu bukanlah alasan yang masuk akal. Jika ada sebagian anak yang nakal dan menyusahkan orang tuanya, maka itu tak bisa digeneralisasi. Itu adalah pengalamannya sendiri yang tidak bisa disamakan dengan orang lain. Begitu banyak orang tua di dunia yang mempunyai anak-anak yang baik-baik, saleh, cerdas, pintar, genius, dan menjadi ulama besar, menyayangi orang tuanya ketika sudah tua dan tak berdaya. Anak-anak adalah “taman wangi kehidupan”. Dan mereka adalah para penerus kehidupan ini.
Cirebon, 04-Pebruari-2015

Sabtu, 24 Januari 2015

MENDISKUSI AKAR-AKAR KONFLIK SOSIAL

L
Dalam acara Kokosan (Kongkow-kongkow Kemisan) yang mendiskusikan buku, aku hadir. Pesertanya adalah para mahasiswa-mahasiswi Institute Studi Islam Fahmina (ISIF) dan komunitas Lintas Keyakinan. Berlangsung pada siang Kamis, 22 Januari 2015, di Padepokan Marzuki Wahid.
Seorang mahasiswa : Devida, mempresentasikan makalah hasil telaah buku “Etika Global dan Pluralisme” karya Hans Kung. Buku ini sangat popular. Isinya sangat relevan dalam konteks hari ini. Ia bicara soal konflik social. Agama disebut sebagai salah satu pemicunya. Dulu (mungkin masih terjadi sampai sekarang) ada kasus Poso. Sekarang banyak sekali contohnya. Ada banyak pertanyaan : Apakah benar agama menjadi salah satu pemicu konflik?.
Perdebatan begitu seru. Dan aku diberi kesempatan terakhir untuk bicara. Pertama-tama aku mengapresiasi Devida, pemakalah. Dia sudah mempresentasikannya dengan baik dan sedikir mengerti inti bukunya. Dan aku berharap dia terus membaca dan belajar bahasa Inggris.
Lalu aku mengatakan : isu ini selalu didiskusikan sepanjang zaman. Pada abad 20 perdebatan berlangsung antara Muhammad Abduh dan Farah Anton. Keduanya bilang : Konflik social atau antar manusia, sejatinya tidak didasarkan atas agama. Dengan kata lain : Agama, semua agama, tidak dihadirkan untuk memusuhi orang, tidak untuk perang. Yang ada adalah orang menggunakan agama, atau mengatasnamakan agama dan atau moralitas. Agama, semua agama, justeru hadir untuk mewujudkan Kasih-Sayang dan Cinta.
Hans Kung mengajukan etika yang dianut agama-agama : “Perlakukanlah orang lain sebagaimana engkau ingin diperlakukakan”. Ini disebut ethic of reciprocity. “Tabadul”, “Kesalingan”. Sekarang Karen Armstrong menggagas dan memimpin gerakan sekaligus mengkampanyekan : “Charter for Compassion”. Aku membacakan salah satu butir Charter ini : “Prinsip Kasih-Sayang yang bersemayam di lubuk hati setiap agama, kepercayaan, etika dan tradisi spiritual mengimbau kita untuk selalu memperlakukan orang lain sebagaimana kita sendiri ingin diperlakukan”.
Lalu jika konflik social /manusia bukan dari Agama, semua Agama, maka dari manakah ia berakar?. Aku menjawab dengan meringkas dialog antara Abduh dan Farah Anton dalam buku “Ibnu Rusyd wa Falsafatuh”.
Akar-akar konflik antar manusia :
1. Perebutan kekuasaan Politik dalam rangka penyeragaman kehendak diri (Al-Masail al-Siyasah li Takwin al-Wahdah). Ini berlangsung sepanjang zaman.
2. Ketakutan terhadap hal-hal baru (al-Khawf min al-Umur al-Jadidah)
3. Kebodohan mainstream pada oknum-oknum penguasa (Istila’ al-jahalah ‘ala al-Hukumah)
4. Keyakinan penguasa yang tidak kokoh, ragu-ragu (‘Adam Tamakkun ‘Aqaid al-Hukkam min Qulubihim)
5. Paham Materialisme-pragmatis yang menyebar luas (Intisyar wa Istila’ al-Mabadi al-Madiyyah). Ini adalah musuh sebenarnya dari agama-agama : Islam, Nasrani, Yahudi, Budha dan lain-lain.
6. Egoisme dan Arogansi (al-Ananiyyah wa al-Takabbur)
اصول النزاع بين البشر :
1. المسائل السياسية : "أن النزاع بين البشر فى الماضى والحاضر إنما هو المسائل السياسية . وغرضها الاكبر هو تكوين الوحدة.
2. الخوف من الامور الجديدة. الذى يسمونه " البدعة"
3. استيلاء الجهلة على الحكومة
4. عدم تمكن عقائد الحكام من قلوبهم
5. المبادئ المادية . "ان العدو الحقيقى للاسلام والمسيحية واليهودية والبوذية وغيرها هو المبادئ المادية".
6. الانانية والتكبر