Abu al-‘Ala al-Ma’arri dikenal sebagai seorang cendikiawan, pemikir
bebas dan filsuf. Tetapi namanya lebih masyahur sebagai penyair kelas
atas dan sastrawan besar. Nama lengkapnya adalah Abu al-‘ala Ahmad bin
Abd Allah bin Sulaiman al-Tannukhi al-Ma’arri. Al-Tannukh adalah
sebutan yang dihubungkan dengan asal daerah nenek moyangnya di Tannukh,
Yaman. Disebabkan oleh banjir besar akibat jebolnya bendungan Ma’rib,
keluarga itu pindah ke Siria. Sementara Ma’arrah dihubungkan dengan
daerah kelahirannya, Ma’arri al-Nu’man, di Siria Utara. Ia lahir tahun
363-449 H/973-1057 M. Abu al-‘Ala bermakna bapak yang tinggi (mulia).
Ini adalah julukan kehormatan yang diberikan masyarakat kepadanya.
Ma’arri sendiri seperti tidak berkenan dengan panggilan ini. Ia dengan
rendah hati mengatakan dalam puisinya :
دعيت أبا العلاء وذاك مين ولكنّ الصّحيح أبو النزول
Aku dipanggil Abu ‘l-‘Ala’ (yang tinggi). Ini tidaklah benar, Yang benar ialah Abu ‘n-Nuzul (yang rendah).
Pada usia sekitar 3 tahun al-Ma’arri mengalami sakit panas, cacar yang
pada gilirannya mengganggu penglihatannya. Tidak lama kemudian pada usia
6 tahun ia tak bisa melihat lagi. Tetapi keadaan disabilitas ini tidak
membuatnya putus harapan untuk terus belajar. Malahan justeru membawa
hikmah yang besar. Keadaan itu membuat pikirannya berkembang cepat,
ingatannya sangat kuat dan genius. Beberapa penulis tentang tokoh ini
menyebut al-Ma’arri sebagai “A’jubah min A’ajib al-Zaman” (salah satu
tokoh yang sangat mengagumkan). Al-Ma’arri selalu mengingatkan saya pada
sosok cerdas lain yang juga mengalami kebutaan total : Thaha Husein,
sastrawan besar Mesir. Thaha Husein sendiri tampak sangat mengagumi
al-Ma’arri. Ia menulis sebuah buku berjudul : “Dzikra Abi al-‘Ala”
(Kenangan terhadap Abu al-‘Ala) dan sebuah novel : “Abu al-‘Ala fi
Sijnih” (Abu al-‘Ala di dalam Penjara).
Abu al-‘ala al-Ma’arri
menempuh pendidikan keagamaan tradisional, dan belajar di beberapa
negara lain, terutama Irak. Ia memperlajari tafsir, hadits, fiqh dan
sejenisnya. Tetapi bakatnya yang besar justeru pada bidang sastra. Ia
amat mengagumi penyair Arab terbesar sepanjang sejarah ; Al-Mutanabbi
(915 M) dan para sastrawan besar lainnya. Ia kemudian menjadi penyair
besar. Puisi-puisinya mengalir demikian indah, bahkan oleh sebagian
pengagumnya dipandang seperti Mu’jizat. Tetapi hampir semua puisinya
mengungkapkan perasaan dan pandangan-pandangannya yang sangat pesimistis
dan skeptic dalam memandang kehidupan di dunia ini. Meski seorang tuna
netra, Ma’arri sangat memahami situasi social, budaya dan politik pada
zamannya yang kacau, korup dan kekerasan. Ia acap melancarkan kritik
yang sangat tajam dan menohok terhadap perilaku para pemimpin agama,
bukan hanya Islam tetapi juga agama-agama lain : Yahudi dan Nasrani.
Dalam waktu yang sama ia juga mengkritis terhadap para penguasa. Ia
mengecam keras para pemimpin agama (Rijal al-Din) yang terus
mengeksploitasi masyarakat awam untuk kepentingan diri sendiri. Mereka
acap melakukan kolaborasi dengan para penguasa yang sangat korup untuk
saling mencari kedudukan, jabatan politik dan gelimang kemewahan di atas
penderitaan rakyatnya. Mereka menjual agama dengan harga murah.
Al-Ma’arri dikenal juga sebagai seorang pemikir bebas (liberal). Ia
percaya pada kekuatan akal. Karena itu ia juga mengkritik pedas
doktrin-doktrin keagamaan formalistic dan tekstual yang sering tidak
masuk akal dan dinilai membodohi rakyat. Rakyat awam dininabobokan
dengan janji-janji sorga dan ditakut-takuti siksa neraka. Pemerintahan
di berbagai Negara Arab dipimpin oleh otak-otak penuh hasrat duniawi. Ia
kehilangan pemimpin keagamaan yang saleh dan jujur. Ini semua ia tulis
dalam syair-syair yang ditulisnya dalam bukunya “Ilzam Ma La Yulzam”
atau lebih dikenal dengan “Luzumiyyat al-Ma’arri”.
يكفيك حزناً ذهاب الصالحين معــاً ونحـنُ بعدهم في الأرض قطّان
إنّ العراق وإنّ الشــــام مـــد زمنٍ صفــران، ما بهمــا للملك سلطان
والشام فيه وقود الحرب مشتعل يشابه القوم شدت منهمو الحجز
ساس الأنـــــــام شياطين مسلطــــةٌ فــي كلّ مصرٍ من الوالين شيطان
يَسوسونَ الأمورَ بغَيرِ عَقلٍ فينفُذُ أمرُهم، ويقالُ: ساسَهْ
O, betapa kita kehilangan orang-orang saleh
Kita hidup bagai kapas terbang di atas tanah
Irak dan Siria sejak lama sepi pemimpin
Siria meletus perang setiap hari
Rakyat di sana terperangkap dalam ketakutan
Rakyat diberbagai Negara dipimpin para penguasa
Dengan pikiran setan
Mereka memimpin tanpa akal
Dan kebijakan mereka dipaksakan
Konon begitulah cara mengatur
Skeptisisme Ma’arri
Abu al-Ala al-Ma’arri, seperti cendikiawan, matematikawan dan penyair
legendaris dari Persia, Omar al-Khayyam, adalah seorang pesimis
sekaligus skeptis sepanjang hidupnya. Ia terombang-ambing dalam
ketidakpastian dan kecemasan. Ia percaya pada kekuatan akal pikiran di
satu saat, tetapi ia tak berdaya dengan akalnya pada saat yang lain. Ia
menolak Tuhan dengan akalnya sekaligus pasrah kepada keputusan Tuhan. Ia
sering ingin segera pulang (mati) tetapi pada saat yang lain ia ingin
tetap hidup. Ma’arri lebih banyak menderita atau mungkin lebih tepat
disebut sebagai seorang Nihilis. Dalam sebuah puisinya ia mengungkapkan
perasaan seperti hidup dalam penjara pada tiga fase dan tanpa harapan
keindahan:
Lihatlah, hidupku bagai dalam tiga penjara
Janganlah bertanya mengapa
Mataku tak dapat melihat
Aku selalu berada di dalam rumah
Dan jiwaku terperangkap dalam tubuh yang penuh keburukan
Dalam puisinya yang lain ia mengekspresikan pandangan pesimismenya atas
hidup dan kehidupan dunia. Ia menghadapinya dengan gamang :
تأملنا الزمان فما وجدنا الى طيب الحياة به سبيلا
ذر الدنيا إذا لم تحظ منها وكن فيها كثيرا او قليلا
Aku telah merenungkan kehidupan
Aku tak menemukan jalan kehidupan yang menyenangkan
Ayo tinggalkan dunia ini, jika kau tak bahagia
Terimalah ia sedikit atau banyak
Pikiran-pikiran liberal Al-Ma’arri melahirkan resistensi keras dari
para ulama. Ia terlalu sering dituduh sesat, atheis, kafir zindiq dan
murtad. Ia adalah salah satu tiga cendikiawan legendaries yang mendapat
tuduhan seperti ini. Dua orang lainnya adalah : Ibnu Rawandi (w.864 M)
dan Abu Hayyan al-Tauhidi (w. 1009 M). Buku karya Abu Hayyan yang
sangat terkenal dan pernah saya baca adalah : “Al-Imta’ wa
al-Mu-anasah”. Boleh jadi untuk hari ini ia akan disebut dedengkot
“JIL”, kata yang dimaknai secara pejorative dan stigmatic, meski sering
tanpa pernah memahami substansi atau isi pikirannya.
Tetapi orang
sepakat bahwa Ma’arri adalah seorang darwish, seorang zahid, seorang
yang bersahaja. Ia tidak suka kemewahan. Ia juga seorang vegetarian.
Makanan sehari-harinya adalah sayur-sayuran dan buah-buahan. Ia menolak
makan daging binatang apapun, telor, susu dan madu. Boleh jadi hal ini
karena ia membayangkan penderitaan hewan dan burung ketika harus
disembelih. Dalam “Luzum Ma La Yalzam” atau dikenal dengan judul
“Luzumiyyat”, Ma’arri mengatakan :
االحمد لله قد اصبحت فى دعة أرضى القليل ولا أهتم بالقوت
وشاهد خالقى أن الصلاة له أجل عندى من درِّى وياقوت
Segala puji bagi Tuhan semata
Aku menjadi menerima saja diberi seberapapun
Aku tak berminat pada makanan
Aku bersaksi kepada Tuhan Pencipta kehidupan
Shalat bagiku lebih agung daripada intan dan permata
Al-Ma’arri menolak Menikah
Cendikiawan ini amat terkenal dengan pandangannya yang anti menikah dan
mempunyai anak. Baginya kehidupan di dunia ini terlalu banyak
kerusakan., terlalu banyak penderitaan. Menikah dan berketurunan
menurutnya adalah sebuah tindakan kejahatan. Anak-anak yang dilahirkan
akan menjadi korban. Karena itu ia membenci pernikahan. Bahkan ia juga
seperti ketakutan jika melihat perempuan. Ketidaksenangannya menikah
bukan hanya untuk dirinya, melainkan juga ia juga mengajak orang lain
untuk tidak menikah. Ia mengatakan : “Da’ al-Nasl. Inna al-Nasla ‘uqbahu
Mayyitatun” (Tinggalkan berketurunan. Berketurunan akan menimbulkan
kematian).
Di tempat lain ia mengatakan :
نصحتك لا تنكح فإن خفت مأثما فاعرس ولا تنسل فذلك احزم
Dari puisi-puisi di atas, tampak sekali bahwa sesungghnya
ketidakinginannya untuk menikah lebih karena ia tidak ingin mumpunyai
keturunan yang menyebabkan anak-anaknya akan menderita, seperti dirinya.
Dan ia sama sekali tak menginginkan menjadi penyebab penderitaan
anak-anaknya atau orang lain. Ia menyesali ayahnya telah melahirkan
dirinya.
Oleh karena itu sebelum meninggal dunia ia menulis sebuah
puisi dan berwasiat agar puisi ini diletakkan di atas pusaranya kelak.
Inilah puisinya yang sangat terkenal itu :
هذا جناه أبى علي وما جنيت على احد
Ini adalah tindakan jahat ayahku atasku
Dan aku tidak melakukan kejahatan kepada siapapun
Ia juga berkali-kali pesan kepada para saudara-saudara dan
sahabat-sahabatnya agar tidak mengutuki dan mencaci-maki orang-orang
yang sudah wafat. Katanya dalam sebuah puisi lain yang juga amat populer
:
لا تظلموا الموتى وإن طال المدى وإنى أخاف عليكمو ان تلتقوا
Janganlah kalian caci-maki mereka yang telah mati
sejak kapanpun ia mati
Aku kawatir kalian akan menjumpai hal yang sama
Karya-karya al-Ma’arri
Al-Ma’arri menulis cukup banyak buku, terutama dalam bentuk antologi
puisi. Antara lain yang terkenal : Siqth al-Zindi (Percikan api),
terdiri dari 3000 bait puisi, Luzum Ma La Yalzam (Keharusan yang tidak
harus) : 120 halaman, Rahah al-Luzum, Syarh Kitab Luzum Ma La Yalzam
(ulasan kitab Luzumiyyat) : 100 halaman, “Istaghfir Wa Istaghfiri” :
10.000 bait. Buku ini berisi permenungan-permenungan al-Ma’arri tentang
hidup dan kehidupan sesudah mati, Risalah al-Ghufran (Surat
Pengampunan) dan lain-lain. Buku yang terakhir ini (Risalah al-Ghufran)
adalah karya sastra filsafat yang sangat terkenal di dunia. Buku ini
berkisah tentang kehidupan manusia di neraka dan di sorga. Dialog-dialog
imajinatif pengarangnya yang demikian indah dan hidup antara penghuni
sorga dengan penghuni neraka yang penuh dengan nada-nada satiris. Buku
ini sangat menarik, mengingatkan kita pada cerpen “Langit Makin Mendung”
karya Ki Panji Kusmin yang menghebohkan para ulama dan
institusi-institusi agama di negeri ini. Karya filsafat ini telah
memengaruhi Dante Alighieri (1265 M), dalam karyanya “Divine comedy”
(Komedia Ilahiyah) yang sangat terkenal itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar