Rabu, 24 Desember 2014

Memperebutkan makna tanpa Kekerasan




Perdebatan di sekitar pemahaman atau pemaknaan atas teks atau suatu obyek merupakan perdebatan yang sangat klasik. Ia muncul sejak manusia mulai berfikir dan berkebudayaan. Ia berlangsung bukan hanya dalam masyarakat muslim, tetapi juga di dalam semua penganut semua agama.

Dalam masyarakat muslim, perdebatan itu telah melahirkan sekte-sekte, aliran-aliran pemikiran keagamaan bahkan ideologi-ideologi, dalam berbagai dimensinya. Pada dimensi fiqh, dikenal dua aliran besar, ahl al-hadîts dan ahl al-ra’y. Aliran pertama pemahaman atas teks cenderung lebih tekstualis (harfiah) dan mempercayai sumber berita, sementara yang kedua lebih rasional dan lebih melihat kandungan (isi) berita. Banyak orang menyebut yang pertama sebagai aliran tradisionalis, dan yang kedua, aliran rasionalis.

Ada pertanyaan-pertanyaan yang selalu disampaikan orang: Apakah teks harus diterima menurut arti lahirnya atau bisa di-ta’wîl (tafsîr)? Apakah hukum-hukum yang terdapat dalam teks bisa ditanyakan “mengapa’? atau tidak (hal al-ahkâm mu’allalah bi ‘illah am lâ)? Apakah akal bisa bertentangan dengan wahyu? Bagaimana jika bunyi teks berlawanan dengan logika-rasional atau dengan realitas, mana yang harus diprioritaskan? Pertanyaan-pertanyaan ini selalu saja dijawab dengan pandangan yang beragam dengan argumentasinya masing-masing.

Tak ada perbedaan dalam Tujuan

Sesungguhnya kedua aliran tersebut tidak jauh berbeda dalam semangat dan tujuannya. Semuanya sepakat bahwa hukum-hukum Islam adalah untuk mewujudkan keadilan dan menegakkan kemaslahatan (kesejahteraan) manusia. Keadilan dan kemaslahatan (kesejahteraan) adalah tuntutan umat manusia, secara universal. Yakni berlaku di tempat manapun dan kapanpun. Kita menemukan paradigma ini pada semua ahli fiqh Islam. Menegaskan pandangan gurunya, Imâm al-Haramain al-Juwainî, Imâm al-Ghazâlî dalam al-Mustashfâ’, misalnya, mengemukakan bahwa kemaslahatan sebagai tujuan syari’ah.

Pandangan dan pendirian mereka yang beragam tersebut sesungguhnya merupakan akibat dari perbedaan pemahaman atau pemaknaan mereka atas teks-teks al-Qur’ân maupun Hadits Nabi saw. Baik karena tingkat pengetahuan yang berbeda maupun karena pengalaman dan kepentingan yang juga berbeda-beda. Tidak seorang muslimpun yang ingin menafikan al-Qur’ân dan Hadits Nabi saw. Sebab menafikan keduanya mengakibatkan ia kehilangan identitasnya sebagai muslim. Terkait dengan hal ini, Prof. Quraish Shihab, pernah mengutip pernyataan Dr. Husein al-Dzahabî mantan Menteri Waqaf Mesir dan Guru Besar Universitas al-Azhar yang  mengatakan: “Kebenaran Agama adalah apa yang ditemukan manusia dari pemahaman kitab sucinya sehingga kebenaran agama dapat beragam dan bahwa Tuhan merestui perbedaaan cara keberagaman umat manusia. Prof. Quraish kemudian menegaskan : “Jika ini dapat dipahami niscaya tidak akan timbul kelompok-kelompok yang saling mengkafirkan...” (Agama dan Pluralitas Bangsa, P3M, 1991, hlm. 40).

Fârûq Abû Zaid dalam bukunya “Al-Syarî’ah al-Islâmiyah baina al-Muhâfizhîn wa al-Mujaddidîn” (Syari’ah Islam antara tradisionalis dan modern) mengatakan bahwa “mazhab-mazhab (aliran-aliran) keagamaan sejatinya adalah refleksi sosio-kultural mereka masing-masing”. Fârûq mengatakan: “Anna Madzâhib al-Fiqh al-Islâmy laisat siwâ in’ikas li tathawwur al-hayâh al-Ijtimâ’iyyah fî al-‘Alam al-Islâmy”. (hlm. 16).

Bagaimana para pendiri mazhab (Aimmah al-Madzahib) menyikapi pandangan orang lain yang berbeda dengan dirinya?. Sejarah mencatat bahwa adalah orang-orang yang paling toleran terhadap pandangan orang lain, paling rendah hati dan saling menghargai. Imam Abu Hanifah misalnya dengan rendah hati mengatakan : “Inilah yang terbaik yang bisa aku temukan dari eksplorasi akalku atas kitab Allah dan sunnah Nabi. Jika ada temuan yang lebih baik, aku akan menghargainya”. Begitu juga para Imam yang lain, menyampaikan hal yang senada. Mereka selalu mengingat sabda Nabi : “Jika seseorang berijtihad dan ijtihadnya benar maka ia mendapat dua pahala, dan jika salah mendapat satu pahala”.  

Perbedaan pemaknaan atas teks keagamaan atau bahkan teks-teks yang lain pada akhirnya perlu dicari jalan keluarnya melalui mekanisme yang paling baik dan sejalan dengan perintah al-Qur’ân, yakni dialog,  musyawarah’, dan cara-cara lain yang demokratis, mencari titik temu untuk kebaikan bersama, mencari kebenaran, bukan mencari-cari pembenaran diri, atau bukan dengan mengklaim pendapatnyalah yang paling benar sendiri sambil mencaci pendapat yang lain, apalagi dengan menggunakan kekerasan, termasuk membunuh karakter seseorang atau kelompok. Tak ada yang paling dirugikan dan paling disengsarakan dari perseteruan, kesombongan diri dan tindakan kekerasan ini, kecuali warga dan bangsa muslim sendiri. Sebaliknya  tak ada sikap dan cara yang paling memajukan, menyejahterakan dan membahagiakan masyarakat muslim, kecuali kebersamaan, saling menghargai dan rendah hati di antara mereka, sebagaimana diajarkan Tuhan dan Nabi serta para ulama generasi awal. []



NATAL PENGHORMATAN UNTUK SANG NABI




[Beberapa teman memintaku untuk mereupload tulisan tentang Natal yang telah aku tulis tahun lalu. Tulisan ini ada dalam bukuku : “Menyusuri Jalan Cahaya”.]

  
Sikap toleran, menyambut liyan, menghargai ragam pendapat/pikiran dan tak gampang menuduh/mencurigai orang, hanya lahir dari keluasan, kemendalaman pengetahuan dan kebersihan hati.

Natal adalah salah satu hari besar yang selalu diperingati oleh umat Kristiani pada setiap 25 Desember. Ini dipercayai sebagai hari kelahiran Yesus. Umat Kristiani di seluruh dunia memperingatinya dengan seluruh kesyahduan ritual dan nyanyian-nyanyian kudus penuh puja-puji kepada Tuhan. Mereka meyakini Yesus sebagai juru selamat dan penebus dosa-dosa manusia. Kelahirannya dipandang sebagai kelahiran manusia agung. Seluruh hidupnya diabdikan untuk membela dan mendampingi orang-orang tertindas, papa dan tersisihkan. Gagasan utama yang selalu ditebarkannya sepanjang hidupnya adalah Kasih.

Umat Islam menyebut Yesus sebagai Isa, salah seorang Nabi,  utusan Tuhan dan ia sendiri menyebutnya “hamba Allah”. Mereka menghormati dan mengagungkannya seperti penghormatan kepada Nabi-nabi dan para rasul Allah yang lain. Al-Qur’ân menceritakan kelahiran Nabi Isa dengan cara yang sangat indah. Ibunya, Maryam,  disebut ‘ukht Harun’ (saudara perempuan Harun) karena ia perempuan yang saleh seperti Nabi Harun. Ketika masih kecil, Isa sudah bisa bicara:


قالَ إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ آتَانِيَ الْكِتَابَ وَجَعَلَنِي نَبِيًّا* وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنتُ وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيًّا* وَبَرًّا بِوَالِدَتِي وَلَمْ يَجْعَلْنِي جَبَّارًا شَقِيًّا* وَالسَّلَامُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدتُّ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا ذَلِكَ عِيْسَى بنُ مَرْيَمَ قَوْلَ الْحَقِّ الّذِى فِيْهِ يَمْتَرُونَ .


“Sesungguhnya aku ini hamba Allah. Dia memberiku Al-Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi. Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada. Dia memerintahkan kepadaku mendirikan shalat dan membayar zakat selama aku hidup, dan berbakti kepada ibuku. Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kedamaian semoga dilimpahkan kepadaku, pada saat aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali. Itulah Isa putra Maryam yang mengatakan perkataan yang benar...”.(Q.S. Maryâm [19]:30-33).


Lihatlah, Isa, sang Nabi yang mulia itu, mengucapkan kebahagiaan atas kelahiran, kematian dan kebangkitannya sendiri. Pernyataannya disebut Tuhan sebagai pernyataan yang benar dan jujur.

Dalam konteks masyarakat muslim, terutama di Indonesia, mengucapkan selamat Natal pada moment itu masih controversial.  Sebagian di antara mereka, mungkin mayoritas, masih mengharamkannya. Konon, pernah terjadi, seorang ketua MUI, seorang ulama besar, mengeluarkan fatwa haram atas isu ini. Para ulama dan mufti Saudi Arabia sudah lama mengharamkannya. Mereka merujuk pada pandangan Ibnu Taimiyah, salah satu sumber otoritas pandangan keagamaan mereka. Mereka menganggap ucapan tersebut mengandung arti ikut serta membesarkan, mensyiarkan dan mendukung keyakinan kaum Kristiani tentang ketuhanan Isa.
 
Berbeda dengan pandangan para ulama Wahabi di atas, Syeikh Dr. Yusuf al Qardhawi, ketua Ulama Islam sedunia dari Mesir berpendapat lain. Katanya :”Adalah hak setiap kelompok untuk merayakan hari-hari besarnya dengan cara tidak melukai orang lain. Juga hak setiap kelompok untuk menyampaikan ucapan selamat atas hari besar orang lain. Islam tidak melarang kaum muslimin menyampaikan ucapan selamat kepada warga Negara dan tetangga yang beragama Nasrani berkaitan dengan hari besar keagamaan mereka. Karena hal ini termasuk dalam pengertian "al-Birru" (kebajikan) sebagaimana dikemukakan dalam firman Allah :"Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil kepada orang-orang yang tidak memerangimu dan tidak mengusirmu dari tempat tinggalmu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat adil".

Kata “al-Birr”, yang diterjemahkan sebagai “kebajikan”, dimaknai oleh Syeikh Muhammad Thahir bin ‘Asyur, penulis kitab tafsir : “Al-Tahrir wa al-Tanwir”, sebagai “Husn al-Mu’amalah wa al-Ikram” (pergaulan yang baik dan menghormati).

Lebih dari itu, masih kata Syeikh al-Qardhawi, jika mereka menyampaikan ucapan selamat pada hari raya kaum muslimin. Allah berfirman, maka karena Allah mengatakan :"Jika kamu mendapat kehormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan cara yang lebih baik atau minimal dengan penghormatan yang sama. Akan tetapi kaum muslimin dalam ini tidak boleh mengikuti ritual keagamaan mereka”. 

Syeikh Dr. Mushtafa al-Zarqa (w. 1999), al-Syeikh al-faqih (guru besar dan ahli fiqh), menyampaikan pandangan senada: “Seorang muslim yang mengucapkan selamat kepada teman-temannya atas kelahiran Isa al Masih, As, menurut saya merupakan yang hal yang baik dan etika dalam pergaulan sosial. Islam tidak melarang sikap ini, apalagi Isa Al-Masih yang  dalam aqidah Islam adalah Rasul besar dan salah satu Ulul al Azmi. Mereka sangat dihormati dalam agama kita. Tetapi, saying, mereka (kaum nasrani) terlalu ekstrim dengan meyakininya sebagai Tuhan”.

Dr. Muhammad Abd Allah al-Syarqawi, Prof. Teologi dan Agama-agama, Univ. Qatar.

 “Dalam moment hari raya umat Kristiani: Natal, tidaklah mengapa (tidak berdosa) seorang muslim menyampaikan ucapan selamat Natal kepada tetangganya, guru, murid, teman kantor atau teman sekolahnya yang beragama Nasrani. Ini merupakan tuntunan Islam yang bijaksana yang menegaskan keharusan kita bertindak adil dan berbuat baik kepada warga Negara beragama Kristen Koptik, sesuai dengan firman Allah : “Tuhan tidak melarang kita untuk berbuat baik dan bertindak adil kepada orang-orang yang tidak memerangi kamu atas nama agama dan tidak mengusirmu dari tanah airmu”.

Natal di Mesir

Mesir adalah negeri kuno dengan sejuta peninggalan sejarah yang bernilai abadi. Sungai Nil yang terbentang jauh sampai Sudan, kota2 cantik nan exotic: Luxor, Memphis, Karnak dan Thebes dan yang paling terkenal adalah Piramida dan Spinx adalah bukti sejarah dari peradaban besar itu. Ketika orang-orang Islam-Arab memasuki Mesir, penduduk asli di sana seluruhnya Kristen,  meski di sana juga terdapat peninggalan agama-agama lama yang berbagai-bagai,  selain Kristen. Dalam beberapa hal ritual-ritalnya memengaruhi ritual-ritual Kristen. Yang tersisa hingga kini dan masih cukup besar, sekitar 10% adalah Kristen Koptik (Qibthi).  

Mesir kini menjadi negara Islam terkemuka di dunia. Di sana ada Universitas tertua di dunia dan sangat terkenal; Al-Azhar. Universitas ini menjadi pusat keilmuan Islam Internasional sejak 1000 tahun dan telah melahirkan ratusan ribu ulama besar. Pikiran-pikiran dan buku-buku mereka menjadi rujukan masyarakat muslim di seluruh dunia sepanjang masa. Dalam kurun waktu yang cukup panjang itu, otoritas keagamaan al Azhar, tak pernah terusik untuk meruntuhkan peradaban non muslim yang penuh pesona itu.
Spink dan tiga piramida di kawasan Giza yang berdiri 5000 tahun lalu, konon, kuburan para Firaun,  masih berdiri kokoh. Gereja-gereja kuno dan sejumlah Sinagog (tempat sembahyang umat Yahudi) masih berdiri megah. Kini di sampingnya berdiri masjid-masjid besar dan megah pula. Beberapa gereja Kristen dan Sinagog milik orang Yahudi berdiri disamping masjid Amr bin Ash. Panglima besar kaum muslimin yang menaklukkan negeri itu itu tidak mengutak-atiknya. Ia memberikan keleluasaan beribadah kepada masing-masing penganut agama Samawi itu. Di antaranya Gereja St Sergius yang berdiri pada abad ke-3 M. Gereja itu dibangun di sebuah gua yang dulu menjadi tempat singgah Nabi lsa dan Bunda Maryam dalam pelariannya ke Mesir saat dikejar-kejar Raja Herodes, penguasa Romawi di Palestina.
Keberadaan masjid yang berdampingan dengan gereja dan sinagog itu menunjukkan hidup berdampingan dalam tatanan yang saling hormat-menghormati dalam kedamaian. Sahabat Rasul itu tahu persis bahwa Islam memberi-kan kebebasan dalam beragama. Apalagi, ketiga agama samawi itu adalah agama yang dibawa oleh keluarga Nabi Ibrahim, As.
 Ketika Natal tiba, seluruh warga negeri ini seakan larut dalam kegembiraan bersama. Mereka memperlihatkan dengan nyata makna kebersamaan dan persaudaraan, meski memiliki keyakinan dan agama berbeda-beda. Di sana juga ada semacam tradisi di mana pemimpin tertinggi agama Islam dan pemimpin tertinggi agama Kristen saling mengucapkan selamat dan menyampaikan simpati pada hari raya masing-masing. Pemimpin Islam mengucapkan “selamat hari Natal” dan pemimpin tertinggi Kristen mengucapkan “selamat Idul Fitri”. Mereka tetap dalam keyakinan dan keimanannya masing-masing. Grand Syeikh Al-Azhar Kairo, Sayyid Muhammad Thanthawi, selalu hadir dalam perayaan Natal umat Kristen (Koptik) di sana. Ini moment penting bagi perwujudan persaudaraan umat manusia, dan perdamaian bangsa dan penghormatan atas segala jenis perbedaan.

Nurcholis Madjid, cendikiawan muslim terkemuka pernah bercerita menarik. Ia menulis pengalaman Naral di Mesir dalam salah satu bukunya. Bulan Desember tahun 1991 ia berada di Mesir dalam suasana Natal yang begitu terasa di mana-mana. Restoran penuh dengan dekorasi Natal disertai ucapan Natal yang tentu saja dalam bahasa Arab. Di balik kaca penutup meja makan semua restoran juga ada selebaran-selebaran yang mengajak setiap tamu yang datang untuk ikut bersyukur kepada Tuhan atas kelahiran Nabi Isa atau Yesus. Pemilik restoran tempat Nurcholis makan dan membaca selebaran itu ternyata baru saja pulang menunaikan ibadah haji.

Betapa indahnya sikap toleransi dan kebersamaan relasi  dengan kekokohan keyakinan diri masing-masing. Betapa anehnya, bila ada umat beragama yang lebih menyukai permusuhan daripada perdamaian. Al-Qur’an, kitab suci kaum muslimin memang telah menegaskan:

Katakan (Muhammad): “Wahai orang-orang kafir. Aku tidak menyembah Tuhan yang kalian sembah, dan kalian tak menyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Bagimu agamamu dan bagik agamaku.(Q.S. al-Ikhlash, [109]:1-6).


IBUKU-KEKASIHKU Oleh : Husein Muhammad






Fakta-fakta tentang kondisi kesehatan ibu di Indonesia, sebagaimana dilaporkan berbagai institusi Negara dan hasil-hasil penelitian sejumlah pihak yang terkait, sungguh-sungguh cukup memprihatinkan. “Indonesia  tidak  mampu mencapai Target MDGs dalam hal Kesehatan Ibu. Berdasarkan hasil survei Demogafi dan Kependudukan Indonesia (SDKI) 2012, terdapat kenaikan angka kematian ibu (AKI) yang cukup drastis dari 228 per 100 ribu kelahiran menjadi 359 per 100 ribu kelahiran”, ujar Tb. Rachmat Sentika, staf ahli Menko Kesra Bidang MIDs, selasa, 6/5/2014. Angka Kematian Ibu di negeri ini masih tertinggi di wilayah Asean sekaligus tertinggi di antara Negara-negara muslim lainnya.

Keprihatinan lebih mendalam atas realitas ini justeru karena Negara ini merupakan tempat bagi bangsa muslim terbesar di dunia. Dalam pandangan normative, agama seharusnya memberikan jaminan atas kesehatan, keselamatan, kemaslahatan dan kebahagian seluruh umat manusia, di dunia dalam rangka kebahagiaan di akhirat, sebagaimana do’a yang selalu dipanjatkan dalam setiap ritual dan aktifitas keagamaan.

Ibu dalam Islam

Ibu dalam pandangan Islam adalah sumber dan poros kehidupan. Di tangannyalah kebahagiaan manusia dipertaruhkan. “Al-Jannah Tahta Aqdam al-Ummahat” (Sorga ada di telapak kaki ibu), kata Nabi. Syeikh Muhammad al-Ghazali menyampaikan kata-kata yang indah : 

إن ربت البيت روح ينفث الهناءة والمودة فى جنباته ويعين على تكوين انسان سوى طيب

“Seorang ibu adalah semilir angin sejuk yang menghembuskan nafas kedamaian dan kasih sayang ke seluruh ruang kehidupan. Dan ia sangat berpengaruh dalam pembentukan manusia yang baik”. (Muhammad Syeikh al-Ghazali, As-Sunnah an-Nabawiyyah Baina ahl al-Fiqh wa ahl al-Hadits, Dar as-Syuruq, Beirut, 1988, hlm.125

Ibu juga adalah sosok manusia yang memperoleh penghargaan utama dibandingkan ayah.  Ketika Nabi ditanya seorang sahabatnya:

من أحق الناس بحسن صحابتي؟ قال: أمك، قال ثم من ؟ قال: أمك ، قال ثم من ؟ قال: أمك، قال ثم من ؟ قال : أبوك  . رواه البخارى ومسلم .

“Siapakah orang yang paling utama mendapat perlakuan yang baik?. Nabi menjawab: “Ibumu”. Sesudah itu?. Nabi mengatakan :”Ibumu”, lalu setelah itu?. Nabi sekali lagi  menegaskan:”Ibumu”. Kemudian?. Nabi mengatakan: “ayahmu”. (Shahih Bukhari dan Muslim)

Lihatlah, Nabi yang mulia, mengulang-ulang kata “ibumu” sampai tiga kali. Boleh jadi saat beliau mengucapkannya, suara beliau naik perlahan dari nada rendah ke nada sedang lalu meninggi. Sesudah itu kata “kemudian ayahmu” diucapkan dalam nada datar. Jika demikian, maka Nabi sungguh-sungguh ingin agar audien yang diajak bicara benar-benar menghormati ibu.

Pernyataan Nabi di atas, agaknya merupakan penjelasan beliau atas wahyu yang diturunkan Allah kepadanya :
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang terus semaki lemah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu”.(Q.S. Luqman, [31]:14). Di tempat lain disebutkan “

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan,….” (Q.S. Al-Ahqaf, [46]:15).

Sungguh menarik bunyi dua ayat al-Qur’an di atas. Meski disebutkan agar seorang anak berbakti kepada kedua orang tuanya, yang tentu saja berarti ayah dan ibu, akan tetapi Allah tampaknya meminta perhatian agar berlaku baik itu lebih ditekankan kepada ibunya. Ini karena ibu dalam faktanya menanggung beban penderitaan jauh lebih berat daripada ayah. Ia mengandung selama kurang lebih sembilan bulan dalam keadaan sangat berat dan semakin berat, lalu melahirkan. Saat ibu melahirkan adalah saat beliau seperti sedang mempertaruhkan nyawanya. Jika kondisi kesehatan reproduksi ibu rapuh, karena banyak menanggung beban, maka potensi kematian itu ada di depan matanya. Dan ini semakin sering terjadi, sebagaimana fakta-fakta kematian ibu yang besar di atas. Sesudah itu ibu menyusui anaknya selama sekitar dua tahun, dengan mengorbankan kesenangan dirinya. 

Naguib Mahfouz, pemenang Nobel Sastra, berkebangsaan Mesir, amat menarik ketika ia menyenandungkan puisinya yang teramat indah :

Jangan biarkan masa bayimu melupakan
Betapa melelahkannya pekerjaan ibumu setiap hari
Demi kesenanganmu. Ia mengandungmu di dalam rahimnya
selama Sembilan bulan, mendekapmu erat-erat…
memberimu makan dengan air susunya.
Janganlah membuatnya marah karena Tuhan mendengar keluhannya
Dan menjawab permohonannya.
(Nadjib Mahfouzh dalam “Khufu’s Wisdom”)

Bila kita sepakat bahwa ibu adalah sumber yang di tangannya terletak masa depan peradaban manusia, maka tergantung kita bagaimana memperlakukannya. Jika kita memandangnya sebagai manusia yang paling terhormat di muka bumi ini dan memperlakukannya dengan sebaik-baiknya, dengan penghormatan yang penuh kepadanya, maka masa depan kemanusiaan yang sejahtera akan segera lahir. Sebaliknya jika kita menganggapnya rendah, hanya karena dia seorang perempuan, lalu memperlakukannya dengan ucapan atau tindakan yang menyakitkan hatinya, bahkan melakukakan kekerasan terhadapnya, maka dunia kemanusiaan akan hancur berantakan.

Penyair Nil (Sya’ir al-Nil) ; Hafiz Ibrahim menyenandungkan puisi manis

الام مدرسة اذا اعددتها   اعددت شعبا طيب الاعراق
الام روض إن تعهده الحيا  بالرى اورق ايما إيراق
الام أستاذ الاساتذة الالى   شغلت مآثرهم مدى الافاق

Ibu adalah madrasah
Bila kau mempersiapkannya
Kau mempesiapkan bangsa yang kokoh
Ibu adalah taman
Bila engkau merawatnya dengan air sejuk
Taman itu akan menumbuhkan pohon
Dengan dedaunan yang lebat menghijau
Ibu adalah maha guru
Jejak kakinya terpateri sepanjang sejarah dunia

 Agama sudah memberikan petunjuk dan bahkan perintah kepada penganutnya untuk memuliakan ibu dan mengharamkan menyakitinya. Maka konsekuensi paling masuk akal dan bertanggungjawab bagi para pemeluknya adalah mematuhinya.    
Catatan penting kita adalah bila idealitas agama ini tidak sejalan dengan realitas sosialnya, maka ini tentu menimbulkan sejulah pertanyaan adakah yang salah dalam pemahaman kaum muslimin terhadap ajaran-ajaran agamanya?. Mengapa? Lalu bagaimana memperbaikinya?.

Selamat Hari Ibu
Maaf aku Ibu
22 Desember 2014