Rabi’ah al-‘Adawiyah. Namanya sering disebutkan sebagai Rabi’ah al-Qaisiyyah dari
Basrah, Irak. Lahir tahun 180 H. Betapa populernya nama ini. Ia diingat
orang, terutama dalam dunia sufisme, sebagai perempuan Ikon cinta Tuhan
(al-Hubb al-Ilahi). Nama perempuan lain yang sering disebut kaum sufi
falsafi adalah Layla bint Mulawwih, kekasih Qais yang kemudian terkenal
dengan julukan “Majnun” (si gila). Dalam dunia filsafat Platonisme cinta
semacam ini acap disebut dengan nama “Cinta Platonis”
Hampir semua
sufi besar menyebut nama Rabi’ah ini, baik dalam karya sastra prosa
maupun puisinya. Tokoh perempuan ini mungkin paling banyak ditulis orang
: para sastrawan dan para sufi besar. Beberapa tokoh yang menulis
tentang Rabi’ah antara lain al-Jahizh, dalam “Al-Bayan wa al-Tabyin” ,
Abu Thalib al-Makki dalam “Qut al-Qulub” buku yang menginspirasi Imam
Abu Hamid al-Ghazali, Abu al-Qasim al-Qusyairi dalam “al-Risalah”, Abd
al-Rahman al-Sullami dalam “Dzikr al-Niswah al-Mut’abbidat
al-Shufiyyat”, Ibn al-Jauzi, Farid al-Din al-Athhar dalam “Tadzkirah
al-Awliya”, dan lain-lain. Belakangan filsuf Mesir terkenal; Abd
al-Rahman Badawi menulis buku berjudul : “Rabi’ah al-‘Adawiyah Syahidah
al-‘Isyq al-Ilahy” (Rabi’ah Adawiyah sang Sufi Martir). Belakangan
Rabi’ah difilmkan seorang sutradara Mesir. Rabi’ah diperankan oleh
penyanyi bersuara emas yang legendaries dan disebut sebagai “Kaukab
al-Syarq” (bintang dari Timur).
Rabi’ah bermakna perempuan yang ke
empat. Nama ini diberikan ayahnya, karena ia adalah anak perempuannya
yang ke empat. Farid al-Din al-‘Atthar, sufi dan sastrawan besar,
penulis buku yang sangat terkenal “Manthiq al-Thair” (Percakapan
Burung), menulis kisahnya panjang lebar. Katanya, Rabi’ah lahir dari
keluarga yang sangat miskin yang taat mengabdi kepada Tuhan. Kemiskinan
keluarga itu sedemikian rupa, hingga manakala Rabi’ah lahir pada malam
hari, rumah Ismail, ayahnya, gelap gulita, tanpa lampu. Untuk membeli
minyak tanah bagi lampu juga tak punya. Bahkan konon ia tak juga punya
kain/popok untuk membungkus jabang bayi merah itu. Manakala Ismail
kemudian terpaksa harus mengetuk pintu demi pintu rumah tetangganya
seraya berharap memeroleh bantuan sedikit minyak tanah, ia juga pulang
dengan tangan kosong. Ia hanya bisa pasrah atas keberadaannya, sambil
terus berdo’a kepada Tuhan siang dan malam.
Manakala Rabi’ah
menjadi balita dan sudah bisa makan dengan tangannya sendiri, ia sering
merenung seorang diri. Suatu hari dalam kesempatan makan bersama dengan
ayah-ibu dan ketiga kakaknya, Rabi’ah diam saja. Tangannya tak mau
mengambil makanan di hadapannya. Ketika sang ayah bertanya mengapa ia
tak mau makan, Rabi’ah balik bertanya : “apakah makanan ini diperoleh
dari cara yang halal?. Sang ayah, ibu dan kakak-kakaknya terperangah.
Begitu dijawab “ya, dari cara yang halal”, ia kemudian mau makan.
Kisah selanjutnya. Keempat anak perempuan itu terpaksa mencari pekerjaan
di kota Basrah, ibu kota Irak. Di tengah jalan ia ditangkap orang, lalu
dijual kepada pemilik sebuah tempat hiburan malam. Di tempat itu ia
bekerja sebagai peniup “Ney”, suling, dan akhirnya menjadi penyanyi.
Rabi’ah adalah perempuan cantik dan bersuara merdu. Rumah hiburan itu
tiba-tiba menjadi ramai pengunjung, dan pemiliknya mendadak menjadi
kaya-raya. Bila malam telah larut, dan suasana di sekitar tempatnya
menginap sepi, ia tak segera beristirahat. Rabi’ah justeru segera
mengambil air wudhu dan shalat tahajjud berlama-lama. Ia mengadukan
hidupnya kepada Tuhan. Rabi’ah shalat, berdo’a dan bermunajat dengan
seluruh jiwa raganya sepanjang malam hingga fajar merekah. Konon, di
suatu malam, kamar Rabi’ah berpendar cahaya. Tuan rumah melihat cahaya
itu. Ia terperangah dalam kekaguman yang luruh. Esok harinya, Rabi’ah
dibebaskan dan menjadi orang merdeka. Rabi’ah selanjutnya menempuh hidup
sebagai “abidah”, pengabdi Tuhan. Ia menyusuri jalan cahaya,
mengunjungi pengajian para sufi, di kota itu. Ia antara lain mengunjungi
Hasan al-Basri, pemimpin para sufi terkemuka di zaman itu yang
kepadanya hampir semua sufi sesudahnya berguru.
Banyak teman
mengolok-olok sikap hidupnya itu. Mereka seperti tak setuju dengan jalan
hidup barunya. Rabi’ah mengatakan : “O. Tuhan, mereka mencemoohku,
lantaran aku mengabdi hanya kepada-Mu. Demi Kemuliaan dan Keagungan-Mu
aku akan mengabdi kepada-Mu dengan seluruh darah dan nafasku”. Ia
menggubah puisi :
يا ذا الذى وعد الرضا لحبيبه أنت الذى ما ان سواك أريد
Duhai Yang berjanji menyambut dengan riang kekasih-Nya
Duhai, Kau Yang tak ada yang lain yang aku harapkan
Rabi’ah juga acap mengunjungi ahli fiqh sekaligus sufi besar, Sufyan
al-Tsauri, begitu pula sebaliknya, al-Tsauri sering mengunjunginya.
Kedua saling belajar dan terlibat dalam dialog-dialog cinta Tuhan yang
sering membuat keduanya menangis dalam “Khawf” (khawatir, cemas) dan
“Roja” (berharap). Konon pada awal perjalanan sepiritualnya Rabi’ah
dibimbing seorang sufi perempuan : Hayyunah. Puisi di atas berasal
darinya. Rabi’ah suatu saat mendengarkan temannya bersenandung cinta
kepada Tuhan :
Duhai Kekasih-ku Satu-satunya
Engkau yang memberiku kegembiraan membaca tiap malam
Lalu Engkau lepaskan aku ketika siang datang
Duhai Tuhanku, Aku ingin seluruh siang adalah malam
Agar aku selalu mesra bersama-Mu
Rabi’ah tak menikah dan tak ingin menikah dengan laki-laki siapapun. Ia
menolak laki-laki yang dating kepadanya, sebesar dan setinggi apapun
keilmuan dan kehebatan laki-laki itu. Seluruh hidupnya diliputi oleh
gairah cinta kepada Tuhan, tak ada yang lain dan tak ingin yang lain.
Hari-harinya disibukkan untuk menyebut Nama-Nya, memuji-Nya, dan
merindukan-Nya. Malam-malamnya dihabiskan untuk menjalin keintiman
bersama-Nya. Hingga ia menjadi ikon Cinta Tuhan sepanjang sejarah.
Pandangannya tentang cinta kepada Tuhan sedemikian rupa hebatnya,
sehingga ia menyerahkan seluruh jiwa raganya kepada Kekasih-nya. Ia
menerima apapun yang dilakukan sang Kekasih. Ia rela jika kekasih
memasukkannya ke dalam neraka sekalipun. Puisinya mengenai ini sering
diungkapkan para sufi :
Ilahy, Jika aku mengabdi kepada-Mu karena takut neraka-Mu,
Bentangkan lebar-lebar pintu neraka itu untukku
Dan bila aku mengabdi kepada-Mu karena menginginkan surgamu,
Tutup saja pintunya
Tetapi bila aku mengabdi kepada-Mu karena cinta,
maka bukalah tirai Wajah-Mu hingga aku dapat memandanginya.
Konon, manakalah Rabi’ah pergi ke Makkah untuk menunaikan ibadah Haji,
ia tak hendak melihat Ka’bah, “Bait Allah”, rumah Tuhan, tetapi ingin
melihat Pemilik Ka’bah (Rabb al-Ka’bah).
Cinta acap membuat orang
tiba-tiba pandai menggubah puisi. Sejak Rabi’ah mengenal cinta, ia
begitu amat piwai menggubah puisi-puisi cinta. Puisi-puisi cintanya
mengalir deras dari bibirnya yang basah. Dan bagi Rabi’ah Tuhanlah cinta
pertama dan terakhirnya. Hatinya telah tertutup bagi cinta yang lain,
bagi selain Tuhan. Katanya suatu saat :
عَرَفْتُ الهَوى مُذ عَرَفْتُ هواك وأغْلَقْتُ قَلْبي عَلىٰ مَنْ عَاداكْ
وقُمْتُ اُناجِيـكَ يا مَن تـَرىٰ خَفايا القُلُوبِ ولَسْنا نراك
Aku mengenal cinta
Sejak aku mengenal cinta-Mu
Hatiku telah terkunci bagi selain-Mu
Aku selalu siap mendesahkan nama-Mu
Duhai, kau Yang Melihat
Seluruh rahasia-rahasia setiap hati
Sedang aku yang tak bisa menatap wajah-Mu
Saat aku menonton film Rabi’ah yang diperankan oleh penyanyi legendari
Mesir ; Ummi Kultsum, aku ikut terlibat dalam emosi melankolis manakala
ia menyanyikan lagu cinta itu. Ummi Kultsum memerankan Rabi’ah demikian
penuh. Dalam munajatnya kepada Tuhan, ia menyenandungkan situasi hatinya
dalam puisi-puisi yang manis dan menyayat hati.
يَا سُرُورِى وَمُنْيَتِى وَعِمَادِى وَأَنِيسِى وَعُدَّتِى وَمُرَادِى
أَنْتَ رُوحُ اْلفُؤَادِ أَنْتَ رَجَآئِى أَنْتَ لِى مُؤْنِسٌ وَشَوْقُكَ زَادِى
أَنْتَ لَوْلَاكَ يَا حَيَاتِى وَأُنْسِى مَا تَشَتَّتُ فِى فَسِيحِ الْبِلادِ
Duhai kegembiraanku Duhai rinduku, Duhai tambatan hatiku
Duhai manisku, duhai nyawaku, duhai dambaanku
Engkaulah ruh jiwaku, Engkaulah harapanku
Engkaulah manisku
Rasa rinduku kepadamu adalah nafasku
Duhai Engkau, andai aku tanpa-Mu, duhai hidupku, duhai manisku
Aku tak kan menyusuri jalan terbentang di negeri-negeri
Puisinya yang paling terkenal dan disenandungkan Ummi Kultsum dengan
nada-nada yang begitu indah, memilukan dan merengkuh jiwa pendengarnya
adalah ini :
أحِبُكَ حُبَيْنِ حُبَ الهَـوىٰ # وحُبْــاً لأنَكَ أهْـل ٌ لـِذَاك
فأما الذي هُوَ حُبُ الهَوىٰ # فَشُغْلِي بذِكْرِكَ عَمَنْ سـِواكْ
وامّـا الذي أنْتَ أهلٌ لَهُ # فَكَشْفُكَ لِى الحُجْبَ حَتىٰ أراكْ
فلا الحَمْدُ في ذا ولا ذاكَ لي # ولكنْ لكَ الحَمْدُ فِي ذا وذاك
Aku mencintai Mu dengan dua cinta
Cinta karena hasrat diriku kepada-Mu
Dan cinta karena hanya Engkau yang memilikinya
Dengan Cinta hasrat, aku selalu sibuk menyebut nama-Mu
Dengan Cinta karena Diri-Mu saja,
Dan tidak yang lain
Karena aku berharap Engkau singkapkan Tirai Wajah-Mu
Biar aku bisa menatap-Mu seluruh
Tak ada puja-puji bagi yang ini atau yang itu
Seluruh puja-puji untuk-Mu saja
Cinta kepada Tuhan adalah puncak dari seluruh perjalanan hidup para
pencari Tuhan. Ia bukan hanya milik Rabi’ah, melainkan juga milik para
sufi besar lain, seperti Husein Manshur al-Hallaj, Ibnu Arabi, Maulana
Jalal al-Din Rumi dan lain-lain. Lalu apakah cinta itu?. Mahmud Mahmud
Ghurab menulis puisi :
Cinta adalah rasa
Kau tak paham hakikatnya
Ini sungguh menakjubkan
Sungguh menakjubkan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar