Rabu, 24 Desember 2014

MATAHARI TELAH PULANG






Langit Desember yang murung
Jam 19.00, satu hari menjelang tahun 2009 berganti, HP tiba-tiba berdering dan bergetar-getar, mengganggu makan malam gratis saya di rumah makan “Jepun”, milik Nur, sahabat saya. Jay, wartawan Koran Sindo menanyakan kabar mengejutkan, mengkonfirmasi. “Bagaimana Gus Dur, aku dengar beliau wafat”, apa benar?, katanya tegang. Dengan dada berdegup, saya segera menghubungi A.W. Maryanto, teman yang selalu mendampingi Gus Dur di Rumah Sakit. Jawabannya tak meyakinkan. Katanya : “Aku baru saja istirahat dari umah sakit, dan sekarang sedang makan. Jam 17.00 tadi, 18 orang dokter khusus telah memeriksa kesehatan Bapak dan beliau sudah membaik”. Tetapi saya penasaran. Yenni, putri kedua Gus Dur, saya kontak. “Bapak wafat, mbak Yenni di dalam”, suara Innayah, putri bungsunya, lirih bergetar, tersekat dan singkat. Dan saya terkulai lemas. Langit 30 Desember 2009 tiba-tiba menjadi murung. Saya segera sms Ibu Shinta, isteri tercinta Gus Dur : “Ibu, saya sangat menyesal tidak berada di samping bapak, seperti sebelumnya, mohon maaf”. Ya seperti sebelumnya ketika Gus Dur beberapa kali berada di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, saya menjenguknya sekaligus mendo’akan kesembuhannya dengan segera. Dan saya merasa mendapat kehormatan, ketika beliau meminta saya berdo’a bagi kesehatannya. Dengan tetap berbaring di tempatnya, di didampingi ibu Nur, isterinya yang setia dan orang-orang yang hadir, Gus Dur dan mereka mengamininya.
“Kita harus berangkat ke Jakarta sekarang juga”, kata saya kepada isteri saya : Lilik Nihayah Fuadi. Tanpa berkata apa-apa, dia segera berpakaian dan membawa barang-barang seperlunya. Sepanjang jalan dari Cirebon ke Ciganjur, sms dari teman-teman dari segala macam identitas diri; Kiyai, Santri, Abangan, Pendeta, Romo, Bhiku, penganut Konghuchu dan Ahmadiyah, terus berhamburan masuk ke HP saya. Mereka menyatakan duka nestapa teramat dalam dan rasa kehilangan atas kepergian orang yang dicintainya. Saya tak mengerti mengapa mereka mengirim sms, selain ingin mengabari saya tentang wafatnya Gus Dur dan mendo’akan bagi orang yang mereka kagumi dan keluarga yang ditinggalkannya. Saya  membalasnya singkat: “Dia yang selalu membagi kegembiraan, cinta dan harapan pada bangsa, Negara dan mereka yang tak berdaya, telah kembali, pulang kepada Kekasihnya, dalam damai abadi”.  
Perjalanan Cirebon-Jakarta terasa begitu amat sangat lambat, meski tak ada aral melintang; antri yang panjang atau perbaikan jalan pantura, sebagaimana sering dilakukan hampir sepanjang tahun. Dini hari yang sejuk, jam 03.00, ketika saya tiba di mulut jalan Warung Sila, saya melihat sepanjang jalan sampai rumah duka, karangan bunga berwarna-warni, tanda duka cita, berjejer tak berjarak, berserak dan bertumpuk, bagi “Presiden ke 4”, bukan “Mantan Presiden”. Saya tak bisa menghitung jumlahnya. Suasana duka sangat teras di jalan itu, meski sudah lebih lengang. Beberapa jam sebelumnya jalan ini macet total. Ratusan kendaraan dan pejalan kaki seakan tak bergerak. Stagnan. Semuanya sengaja datang ke Ciganjur, ke rumah Gus Dur, menyambut kedatangannya dan menyampaikan ta’ziyah kepada keluarganya. Ta’ziyah adalah kata yang mengandung arti ucapan rasa duka cita dan mengharap ketabahan, kesabaran dan ketulusan bagi keluarga yang ditinggalkan. Ketika saya tiba di pintu masuk, ribuan orang masih berjaga di ruang-ruang di sekitar rumah. Masjid al-Munawwaroh, tempat Gus Dur mengaji kitab “al-Hikam” (Kearifan-kearifan), karya Ibnu Athaillah dari Iskandariah, seorang sufi besar, dan kitab-kitab yang lain, masih gemuruh dengan bacaan ayat-ayat suci al-Qur’an. Saya segera masuk rumah. Jenazah sudah dibaringkan. Wajah Gus Dur yang tertutup kelambu putih yang tipis, terlihat jelas, seakan-akan sengaja dibiarkan  demikian agar para pelayat bisa melihatnya. Saya segera mendapat giliran entah untuk yang ke berapa puluh kali, memimpin shalat janazah, tahlil dan berdo’a.
Di hadapan tubuh yang masih utuh itu, saya tiba-tiba saja teringat kata-kata bijak dalam sebuah buku tasawuf : “Ketika jiwa pergi dalam keadaan bersih, tanpa membawa serta bersamanya hasrat-hasrat rendah duniawi yang menciptakan ketergantungan, yang selama hidupnya selalu dihindari dan tak pernah dibiarkan menguasi diri; menjadi diri sendiri dan menempatkan perpisahan jiwa dari badan sebagai tujuan dan bahan permenungan. Maka jiwa itu telah siap untuk memasuki wilayah kasat mata (‘Alam al-Musyahadah) di mana para bijak-bestari tinggal”.
Ya, itulah jiwa yang telah matang. Ia yang hatinya telah menjadi hati orang-orang yang ditinggalkannya, yang dicintainya. Ia yang telah membagi cinta kepada mereka yang hatinya remuk-redam, tak berdaya dan tanpa gantungan. Ia yang bicara begitu bebas, tanpa beban, polos, karena tak punya hasrat rendah apapun dan tak tergantung pada siapapun, kecuali kepada Tuhan. Ia yang tak pernah peduli dengan gelar-gelar kehormatan yang dianugerahkan dunia kepadanya. Ia yang pikirannya mampu menjangkau masa depan dan melampaui zaman, tetapi yang tetap bisa bertahan dengan kokoh menjalani tradisinya. Ia yang tak pernah gentar untuk melawan setiap tangan tiranik dan korup. Ia yang tak mau kompromi terhadapnya dan tak peduli pada cibiran orang kepadanya.
Begitu usai, saya masuk ke bagian dalam rumah yang kamar-kamarnya sudah lama saya hapal, baik yang lama maupun yang sekarang ditempati. Mencari ibu Shinta. Ibu ternyata sudah di dalam kamarnya yang tampak remang, didampingi tiga putriya, tentu dalam rinai tangis yang mengiris. Saya tak bisa menemui beliau untuk ta’ziyah, membesarkan hatinya dengan kesabaran dan ketulusan melepas suami tercintanya, orang yang selalu bersamanya dalam suka maupun duka selama berpuluh tahun beribu hari. Begitu cara berta’ziyah yang saya terima dari persantren. Saya hanya bertemu Lissa, putri pertamanya dan menyampaikan ta’ziyah itu. Matanya masih tampak lebam dengan wajah sendu, tak bergairah, meski tetap bisa senyum. Saya diminta mengantarnya untuk melihat ayahnya, membuka tirai yang menutup wajahnya, lalu membaca tahlil dan berdoa di depan tubuhnya yang tak lagi bisa bergerak-gerak. Lissa tertunduk lesu dan terisak-isak lirih. Kami melihat dengan jelas wajah Gus Dur, sungguh, tampak ceria, tenang dan teduh. “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan tulus dan diridhai-Nya. Amin”. Ayat suci ini saya baca berulang.
Masih dalam posisi berdiri sambil menunduk, saya segera teringat kembali syair yang acapkali ditembangkan Gus Dur :
وَلَدَتْكَ اُمُّكَ يَا ابْنَ آدَمَ بَاكِيًا
وَالنَّاسُ حَوْلَكَ يَضْحَكُوْنَ سُرُوراً
فَاجْهَدْ لِنَفْسِكَ اَنْ تَكُونَ إِذَا بَكَوْا
فِى يَوْمِ مَوْتِكَ ضَاحِكًا مَسْرُورًا

Ketika ibu melahirkanmu, Wahai anak cucu Adam
Engkau menangis, sedang orang-orang di sekitarmu
Menyambutmu dengan riang
Maka, bekerjalah sungguh-sungguh untukmu sendiri
ketika engkau tak lagi bersama mereka selamanya,
mereka menangis tersedu-sedu
Sedang engkau pulang sendiri
Dengan senyuman menawan

Seperti bunyi syair di atas, ribuan orang di seluruh negeri, malam itu, berduka dan menangis tersedu-sedu. Sebagian histeris, meski tak boleh, sebagian diam membisu dengan wajah lesu, tak bergairah. Sementara Gus Dur memang pulang sendirian dengan riang. Beliau akan segera memasuki gerbang rumah abadi yang damai. Usai shalat subuh dan ketika matahari beranjak naik, jenazah dibawa dan diantar dengan kehormatan kenegaraan, menuju Bandara Halim Perdana Kusuma dan terus ke rumah asal Gus Dur di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Di sana jenazah akan diistirahkan selama-lamanya di samping ayah; K.H. Wahid Hasyim dan kakeknya; Hadratusyeikh K.H. Hasyim Asy’ari. Para santri biasa menyebut Gus Dur, ayah dan kakeknya yang amat dihormati dengan “al-Karim Ibn al-Karim Ibn al-Karim” (orang yang mulia putra orang yang mulia putra orang yang mulia). Kaum bangsawan Jawa mungkin menyebutnya : “Gus Dur adalah seorang darah biru putra seorang darah biru putra seorang darah biru”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar