Rabu, 24 Desember 2014

TIDUR DI ATAS LANTAI MENDEKAP BANTAL




Aku mengintip dari kamar atas rumah Gus Dur, manakala aku mengingap di sana. Sering, ketika tamu sudah pulang, malam telah sepi dan bulan di langit tertatih-tatih berjalan ke ufuk barat untuk tiga jam kemudian digantikan fajar matahari, Gus Dur tak langsung masuk kamar untuk istirahat, tidur, meski tubuhnya tampak begitu lelah, setelah modar-mandir seharian. Beliau lebih suka beristirahat di ruang depan, di ruang tamu, di halaman atau di ruang terbuka di mana saja yang dirasanya nyaman. Jika pun sudah di dalam kamar ia acap keluar kamar sendirian, sambil meraba-raba tembok lalu mencari kursi. Ia duduk-duduk di situ ambil tangannya tetap seperti mengetuk-ngetuk. Kadang ia mengambil tempat dilantai dan merebahkan tubuhnya begitu saja, telentang. Sesekali ia mengambil posisi miring sambil memeluk bantal, sambil kepalanya dibiarkan menyentuh lantai. Ia tak pernah memilih tempat untuk tubuhnya. Kebiasaan ini tidak hanya ketika ia di rumahnya, melainkan juga di tempat atau rumah orang lain. Pada saat ia ke pesantren saya di Cirebon dalam rangka “diadili” para ulama, ia makan sambil duduk di lantai tanah yang hanya dilapisi tikar kasar. Lalu juga ketika ia singgah dan menginap di rumah Kiyai Fuad Hasyim (alm), Buntet Pesantren, Cirebon, ia juga melakukan kebiasaan itu. “Jika ke Cirebon, Gus Dur sering, bahkan selalu mampir ke sini untuk sekedar cari teman ngobrol ngalor ngidul, kadang sampai dini hari yang dingin, sambil lesehan, bercanda-canda dan leyeh-leyeh. Jika matanya sudah ngantuk beliau langsung merebahkan tubuhnya di lantai, begitu saja, kadang melepaskan bajunya dan tidur dalam keadaan tubuh bagian atas tetap terbuka”. Ini cerita alm. Kiyai Fuad Hasyim kepada saya suatu hari di rumahnya. Kiyai muballigh, penyair dan bersuara merdu ini adalah orang yang mengerti pikiran-pikiran saya dan tempat saya bisa berbagi cerita sekaligus tempat saya berlindung manakala saya disisihkan, gara-gara pikiran saya yang dianggap tak wajar.

Bagi Gus Dur, tempat di mana-mana sama saja, sebab tubuh sangat tergantung pada jiwa. Tubuh mengikuti jiwa, bukan sebaliknya. Tanpa jiwa, bentuk adalah benda padat yang tak berguna. Ketika  tubuh kehilangan ruh, ia tak lagi menjadi manusia. Seorang sufi berkata : "Khudz al_Lubb in Kunta min Uli al-Albab", ambillah saripati jika engkau seorang cendekia”. Kadang “kenikmatan tubuh sering melalaikan Tuhan”, kata para sufi. Di kampung, di desa, di dalam hutan, di dataran yang rendah, di atas bukit, atau di manapun para darwis tinggal, tempat-tempat itu tetap saja menyenangkan. Para sufi besar selalu memilih mengutamakan jiwa, ruh dan bukan tubuh.
Gus Dur tak memanjakan tubuhnya, meski ia bisa. Baginya, tak ada bedanya tidur di atas kasur yang empuk atau di atas lantai yang keras. Untuk tempat yang terakhir ini ia sudah lama menjalaninya ketika di pesantren. Jiwanya seakan-akan selalu bergelora, resah, berdesir, dan sarat rindu kepada orang lain. Apakah yang ada dan pikiran dan jiwanya?. Saya mengira-ngira saja. Ya, saya hanya mengira-ngira: bahwa yang ada dalam pikiran, jiwanya dan relung hatinya adalah manusia sebagai makhluk Tuhan, bukan sebagai manusia dengan segala panggilan, julukan atau agama yang dilekatkan kepadanya. Ya manusialah yang selalu menjadi pikirannya, terutama terhadap mereka yang hatinya luka, terkoyak dan hancur. Gus Dur boleh jadi selalu ingat kata-kata Nabi kepada para sahabatnya suatu saat: “Temani mereka yang hatinya terluka. Jika kalian mencariku, datanglah ke tempat kumpulan orang-orang yang hatinya terluka, yang disisihkan.”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar