Aku
mengintip dari kamar atas rumah
Gus Dur, manakala aku mengingap di sana. Sering,
ketika tamu sudah pulang, malam telah sepi dan bulan di langit tertatih-tatih
berjalan ke ufuk barat untuk tiga jam kemudian digantikan fajar matahari, Gus
Dur tak langsung masuk kamar untuk istirahat, tidur, meski tubuhnya tampak begitu
lelah, setelah modar-mandir seharian. Beliau lebih suka beristirahat di ruang depan, di ruang tamu, di halaman atau di ruang terbuka di mana
saja yang dirasanya nyaman. Jika pun sudah di dalam kamar ia acap keluar kamar
sendirian, sambil meraba-raba tembok lalu mencari kursi. Ia duduk-duduk di situ
ambil tangannya tetap seperti mengetuk-ngetuk. Kadang ia mengambil tempat dilantai
dan merebahkan tubuhnya begitu saja,
telentang. Sesekali ia mengambil posisi miring sambil memeluk bantal, sambil kepalanya dibiarkan menyentuh lantai. Ia
tak pernah memilih tempat untuk tubuhnya. Kebiasaan ini tidak hanya ketika ia
di rumahnya, melainkan juga di tempat atau rumah orang lain. Pada saat ia ke
pesantren saya di Cirebon dalam rangka “diadili” para ulama, ia makan sambil
duduk di lantai tanah yang
hanya dilapisi tikar kasar. Lalu
juga ketika ia singgah dan
menginap di rumah Kiyai Fuad Hasyim (alm), Buntet Pesantren, Cirebon, ia juga
melakukan kebiasaan itu. “Jika
ke Cirebon, Gus Dur sering,
bahkan selalu mampir ke sini untuk sekedar cari teman ngobrol ngalor
ngidul, kadang sampai dini hari yang dingin, sambil lesehan, bercanda-canda dan leyeh-leyeh. Jika
matanya sudah ngantuk beliau langsung merebahkan tubuhnya di lantai, begitu
saja, kadang melepaskan bajunya dan tidur dalam keadaan tubuh bagian atas tetap
terbuka”. Ini cerita alm. Kiyai Fuad Hasyim kepada saya suatu hari di rumahnya.
Kiyai muballigh, penyair dan
bersuara merdu ini adalah orang yang mengerti pikiran-pikiran
saya dan tempat saya bisa berbagi cerita sekaligus tempat saya berlindung manakala saya disisihkan, gara-gara pikiran saya yang
dianggap tak wajar.
Bagi Gus Dur, tempat di
mana-mana sama saja, sebab tubuh sangat tergantung pada jiwa. Tubuh mengikuti
jiwa, bukan sebaliknya. Tanpa jiwa, bentuk adalah benda padat yang tak berguna.
Ketika tubuh kehilangan ruh, ia tak lagi
menjadi manusia. Seorang sufi berkata : "Khudz
al_Lubb in Kunta min Uli al-Albab",
ambillah saripati jika engkau seorang cendekia”. Kadang “kenikmatan
tubuh sering melalaikan Tuhan”, kata para sufi. Di kampung, di desa, di dalam
hutan, di dataran yang rendah, di atas bukit, atau di manapun para darwis tinggal,
tempat-tempat itu tetap saja menyenangkan. Para sufi besar selalu memilih
mengutamakan jiwa, ruh dan bukan tubuh.
Gus Dur tak memanjakan tubuhnya, meski ia bisa. Baginya, tak ada bedanya
tidur di atas kasur yang empuk atau di atas lantai yang keras. Untuk tempat yang terakhir ini ia sudah
lama menjalaninya ketika di pesantren. Jiwanya
seakan-akan selalu bergelora, resah, berdesir, dan sarat rindu kepada orang lain. Apakah yang
ada dan pikiran dan jiwanya?. Saya mengira-ngira saja. Ya, saya hanya
mengira-ngira: bahwa yang ada dalam pikiran, jiwanya dan relung hatinya adalah
manusia sebagai makhluk Tuhan, bukan sebagai manusia dengan segala panggilan,
julukan atau agama yang dilekatkan kepadanya. Ya manusialah yang selalu menjadi
pikirannya, terutama terhadap mereka yang hatinya luka, terkoyak dan hancur.
Gus Dur boleh jadi selalu ingat kata-kata Nabi kepada para sahabatnya suatu
saat: “Temani
mereka yang hatinya terluka. Jika kalian mencariku, datanglah ke tempat
kumpulan orang-orang yang hatinya terluka, yang disisihkan.”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar