Rabu, 24 Desember 2014

MENGENANG GUSDUR (2)




“Kehidupan manusia ada di antara dua kesunyian: sebelum hadir dan sesudah kematian. Ia  hanya sekejap saja, seperti tangisan sesaat yang tiba-tiba memecahkan kesunyian untuk bersatu dengan-Nya, selama-lamanya dan tak lagi kembali”.

“Death is the gate of Life” (Kematian adalah pintu gerbang kehidupan hakiki)

Ketika matahari pagi telah bertengger sedepa, jenazah yang sudah dibungkus rapi dengan rankaian bunga khas diletakkan di atasnya itu, dibawa ke luar rumah ketika Presiden Susilo Bambang Yudoyono datang. Pasukan segera disiapkan dan penghormatan kenegaraan dilakukan di bawah komando Presiden. Seluruh hadirian menundukkan wajahnya dalam nuansa duka dan menunjukkana rasa hormat penuh. Ibu Shinta, isteri dan ke empat anaknya mengiringi di belakang peti jenazah dengan wajah tanpa gairah, lesu, melankoli. Saya terlambat mendaftar untuk ikut bersama rombongan naik pesawat menuju Surabaya lalu ke Jombang. Maka saya bersama ratusan orang lainnya yang menunggu dengan setia keberangkatan jenazah hanya melepaskan beliau dari depan rumah duka itu sambil terus berdo’a untuk keselamatan jenazah dan para pengantarnya sampai tempat tujuan. Langit biru bening dilapis awan putih berarak, bergerak pelan-pelan mengantar pesawat yang membawa jasad Gus Dur.

Di Kompleks pesantren Tebuireng, Jombang, tempat peristirahatannya yang terakhir, beberapa saat lagi, sebelum tubuhnya diturunkan ke bumi, Gus Dur mungkin masih membagi kegembiraan dan pesan kepada para pengantarnya untuk tidak menangisi kepulangannya, seperti pesan Maulana Jalaluddin Rumi.
لَا تَبْكِ عَلَى قَبْرِي   صَارِخاً :  " وَاَسَفَاه ، رَحَلْ !"
فَاِنَّهُ لِي زَمَنُ اللِّقَاءِ البَهِيْج


Jangan menangis: “Aduhai kenapa pergi!”
Dalam pemakamanku
Bagiku, inilah pertemuan yang bahagia!

لَا تَقُلْ "وِدَاعًا وِدَاعًا"
حِيْنَمَا وُضِعْتُ فِي التُّرابِ
فَهُوَ حِجَابٌ لِلرَّحْمَةِ الأَبَدِيَّةِ
أَنْتَ رَأَيْتَ "النُّزُولْ "
فَانْظُرْ الآنَ إِلَى الصُّعُودِ !

Jangan katakan, “Selamat tinggal”
Ketika aku dimasukkan ke liang lahat
Itu adalah tirai rahmat yang abadi!

Kau telah melihat tubuhku diturunkan
Tapi lihatlah,
sekarang ia naik ke puncak cakrawala. (D911)

 Dalam tempat lain Rumi mengatakan:

Bila datang ke makamku
Untuk mengunjungiku
Janganlah datang tanpa genderang
Karena pada penyambutan Tuhan,
Orang berduka tidak diberi tempat

Saya merenung-renung kata-kata Rumi itu. Mengapa orang tak boleh menangisi kepergian seorang kekasih?. Siapapun dan dimanapun akan mengatakan bahwa perpisahan, kepergian dan lambaian tangan kekasih akan selalu seperti tak punya perasan, menyakitkan dan menitipkan duka berhari-hari dan berbulan-bulan. Akan tetapi saya segera menemukan pelajaran dari banyak teks suci bahwa kematian bukanlah kematian. Ia adalah sekedar pindah atau meninggalkan tempat saja menuju ke tempat lain.
Kata orang di dunia barat yang beriman : “Death is the gate of Life” (Kematian adalah pintu gerbang kehidupan). Ini mengingatkan kita pada kata-kata Sayyidina Ali bin Abi Thalib, sahabat dan pengganti Nabi yang ke 4 :
النَّاسُ نِيَامٌ فَإِذَا مَاتُوا اِنْتَبَهُوا".
 “Manusia di dunia ini sesungguhnya sedang tidur. Manakala mati, mereka bangun.”
Dan saya begitu yakin Gus Dur, akan mengatakan sebagaimana kata-kata yang diucapkan sang martir rindu Tuhan, Husain Manshur al-Hallaj, menjelang kematiannya yang mengenaskan. Dengan tegar dan wajah berbinar ia mengatakan :
اِلهِى أَصْبَحْتُ فِى دَارِ الرَّغَائِبِ أنْظُرُ اِلَى الْعَجَائِبِ.

 “O, Tuhanku, aku kini telah berada di Rumah Idaman. Aku melihat betapa banyak keindahan yang mengagumkan”.
كَفَى بِالْمَوْتِ وَاعِظًا
Cukuplah kematian jadi pintu permenungan diri
Kehidupan yang sekejap di dunia material hanyalah refleksi dan bayangan dari Wujud Satu-Satunya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar