“Kehidupan manusia ada di antara dua kesunyian:
sebelum hadir dan sesudah kematian.
Ia hanya sekejap saja, seperti tangisan sesaat yang tiba-tiba
memecahkan kesunyian untuk bersatu dengan-Nya, selama-lamanya dan tak lagi kembali”.
“Death is the gate of Life” (Kematian adalah
pintu gerbang kehidupan
hakiki)
Ketika matahari pagi telah bertengger sedepa,
jenazah yang sudah dibungkus rapi dengan rankaian bunga khas diletakkan di
atasnya itu,
dibawa ke luar rumah ketika Presiden Susilo Bambang Yudoyono datang. Pasukan
segera disiapkan dan penghormatan kenegaraan dilakukan di bawah komando
Presiden. Seluruh hadirian menundukkan wajahnya dalam nuansa duka dan menunjukkana rasa hormat penuh. Ibu Shinta, isteri dan ke empat anaknya
mengiringi di belakang peti jenazah dengan wajah tanpa gairah, lesu, melankoli. Saya terlambat mendaftar
untuk ikut bersama rombongan naik pesawat menuju Surabaya lalu ke Jombang. Maka
saya bersama ratusan orang lainnya yang menunggu dengan setia keberangkatan
jenazah hanya melepaskan beliau dari depan rumah duka itu sambil terus berdo’a
untuk keselamatan jenazah dan para pengantarnya sampai tempat tujuan. Langit
biru bening dilapis awan putih berarak, bergerak pelan-pelan mengantar pesawat
yang membawa jasad Gus Dur.
Di Kompleks pesantren Tebuireng, Jombang,
tempat peristirahatannya yang terakhir, beberapa saat lagi, sebelum tubuhnya
diturunkan ke bumi, Gus Dur mungkin masih membagi kegembiraan dan pesan kepada
para pengantarnya untuk tidak menangisi kepulangannya, seperti pesan Maulana
Jalaluddin Rumi.
لَا تَبْكِ عَلَى
قَبْرِي صَارِخاً : "
وَاَسَفَاه ، رَحَلْ !"
فَاِنَّهُ لِي زَمَنُ
اللِّقَاءِ البَهِيْج
Jangan
menangis: “Aduhai kenapa pergi!”
Dalam
pemakamanku
Bagiku,
inilah pertemuan yang bahagia!
لَا تَقُلْ
"وِدَاعًا وِدَاعًا"
حِيْنَمَا وُضِعْتُ
فِي التُّرابِ
فَهُوَ حِجَابٌ لِلرَّحْمَةِ
الأَبَدِيَّةِ
أَنْتَ رَأَيْتَ
"النُّزُولْ "
فَانْظُرْ الآنَ إِلَى
الصُّعُودِ !
Jangan
katakan, “Selamat tinggal”
Ketika
aku dimasukkan ke liang lahat
Itu
adalah tirai rahmat yang abadi!
Kau telah melihat tubuhku
diturunkan
Tapi lihatlah,
sekarang ia naik ke puncak
cakrawala. (D911)
Dalam
tempat lain Rumi mengatakan:
Bila datang ke makamku
Untuk mengunjungiku
Janganlah
datang tanpa genderang
Karena pada penyambutan
Tuhan,
Orang berduka tidak diberi tempat
Saya
merenung-renung kata-kata Rumi itu. Mengapa orang tak boleh menangisi kepergian
seorang kekasih?. Siapapun dan dimanapun akan mengatakan bahwa perpisahan,
kepergian dan lambaian tangan kekasih akan selalu seperti tak punya perasan,
menyakitkan dan menitipkan duka
berhari-hari dan berbulan-bulan. Akan tetapi saya segera menemukan
pelajaran dari banyak teks suci bahwa kematian bukanlah kematian. Ia adalah
sekedar pindah atau meninggalkan tempat saja menuju ke tempat lain.
Kata
orang di dunia barat yang beriman : “Death is the gate of Life” (Kematian
adalah pintu gerbang kehidupan). Ini mengingatkan kita pada kata-kata Sayyidina
Ali bin Abi Thalib, sahabat dan pengganti Nabi yang ke 4 :
النَّاسُ نِيَامٌ
فَإِذَا مَاتُوا اِنْتَبَهُوا".
“Manusia di dunia ini sesungguhnya sedang
tidur. Manakala mati, mereka bangun.”
Dan
saya begitu yakin Gus Dur, akan mengatakan sebagaimana kata-kata yang diucapkan
sang martir rindu Tuhan, Husain
Manshur al-Hallaj, menjelang kematiannya yang mengenaskan. Dengan tegar dan wajah berbinar ia mengatakan :
اِلهِى أَصْبَحْتُ فِى دَارِ
الرَّغَائِبِ أنْظُرُ اِلَى الْعَجَائِبِ.
“O, Tuhanku, aku kini telah berada di Rumah
Idaman. Aku melihat betapa banyak keindahan yang mengagumkan”.
كَفَى بِالْمَوْتِ وَاعِظًا
Cukuplah
kematian jadi pintu permenungan diri
Kehidupan yang sekejap di dunia material hanyalah
refleksi dan bayangan dari Wujud Satu-Satunya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar