Dulu,
ketika Gus Dur masih memimpin NU, Surahman, tetangga desa saya, pernah bekerja
membantu beliau di PBNU. Saban hari menunggu kantor PBNU, sekaligus
membersihkan kamar di mana Gus Dur duduk berkantor. Sebelumnya dia, beberapa
tahun membantu di rumah Kiyai Fuad Amin
(alm), pengasuh pesantren Babakan Ciwaringin, Cirebon, mertua saya, sambil
mengaji. Lalu Kiyai Fuad menugaskannya di PBNU. Surahman pernah bercerita
kepada saya mengenai pengalamannya bekerja di PBNU dan menemani (melayani) Gus
Dur. Katanya, setiap hari Gus Dur menerima banyak sekali surat dari warga dan
umatnya di daerah-daerah ; ada pengurus NU, Kiyai, santri, petani, nelayan,
tukang kebun, pedagang kelontong, dan lain-lain. Surat-surat itu dibacanya satu
per satu. Kebanyakan isinya adalah permohonan bantuan dana untuk keperluan yang
beragam, baik untuk fasilitas organisasi, pembangunan masjid, mushalla,
madrasah, pesantren atau untuk diri sendiri dan keluarganya yang sedang
kekurangan biaya hidup. Gus Dur membacanya satu persatu dengan teliti. Ia lalu
mengambil kartu pos wesel yang sengaja disiapkan dan ditaroh di lacinya. Kemudian ia
menulis dengan tangannya sendiri. Di dalamnya ia menuliskan angka rupiah
tertentu dan berbeda-beda. Gus
Dur mengambil honor-honor yang diperolehnya dari tulisan yang dimuat atau dari
seminar yang dihadirinya, lalu dibagi menurut pertimbangannya sendiri. Gus Dur
lalu memanggil Surahman dan memintanya membawa pos-pos wesel itu ke kantor Pos
dan mengirimkannya ke alamatnya masing-masing. Bersama dengan kartu-kartu pos
wesel itu Gus Dur juga menyerahkan uangnya. Saat itu tidak ada orang lain di
situ, kecuali dirinya (Surahman). Pengurus PBNU yang lain tak pernah tahu soal
yang satu ini. Jika kemudian ada yang tahu, maka pastilah dari mulut Surahman
sendiri, tidak yang lain. Bukan sekali saja Surahman diminta mengerjakan tugas
pribadi tersebut, dan dia tidak tahu Gus Dur masih punya uang lagi atau tidak,
sesudah itu.
Adik
saya, sekaligus keponakan Gus Dur; Nanik Zahiro, juga bercerita kepada
saya. Dia pernah kuliah di Institute
Ilmu Al Qur’an (IIQ), Jakarta, awal tahun 90 an, dengan biaya dari Gus Dur.
Setiap bulan dia datang ke PBNU untuk bertemu pamannya itu, mengambil uang kost
dan biaya kuliahnya. Suatu hari dia pernah kehabisan uang, karena uang dari Gus
Dur digunakan untuk keperluan lain yang tidak terduga. Dia sudah minta kiriman
dari ayahnya di Tambak Beras, Jombang, tetapi belum juga tiba. Dia datang ke
Gus Dur di kantor PBNU untuk meminta bantuan tambahan, mendadak dan mendesak. Tetapi ketika itu Gus Dur sedang tak
punya uang. Namun beliau tak menolaknya. Ia mengatakan: “Tunggu sebentar ya,
Nan?. Saya akan pergi dulu sebentar”. Ia pergi ke tempat sebuah seminar yang
hari itu kebetulan harus dihadirinya.
Tidak
lama sesudah itu beliau kembali ke
kantor. Keponakannya masih menunggu di situ. Lalu menyerahkan amplop
honor seminar yang masih tertutup rapat itu kepadanya. “Ambil seperlunya saja ya?”, katanya.
Nanik menerimanya dengan senang. Kemudian dia membuka amplop itu di hadapan
pamannya itu. Sesudah menghitung isi amplop tersebut, dia bilang bahwa
keperluannya adalah seluruh isi amplop itu. Gus Dur diam saja. “Ya sudah, gak
apa-apa”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar