Gus
Dur, nama yang akan dikenang rakyat Indonesia berhari-hari, berbulan-bulan dan
bertahun tahun dan untuk rentang waktu yang panjang. Boleh jadi ia akan menjadi
ikon dan legenda dalam sejarah Indonesia,
bangsa
muslim terbesar di dunia ini.
Beberapa orang meramalkan Gus
Dur untuk satu atau dua abad kemudian akan berubah menjadi pribadi yang
dimitoskan. Kuburannya akan
dikunjungi banyak orang setiap hari, seperti para Wali Sanga. Mungkin
ini pandangan yang berlebihan bagi
manusia yang hidup hari ini, tetapi masa depan yang panjang adalah
kemungkinan-kemungkinan yang tak terpikirkan. Ketika pikiran-pikirannya ditulis
sebagai babad, sejarah hidupnya didongengkan kepada anak-anak dan
pesan-pesannya dipahat di mana-mana, serta ketika puisi-puisinya disenandungkan
di surau-surau, mushalla atau di pengajian-pengajian, ia sangat mungkin menjadi
sarat makna mitis, menjadi Sang Legenda.
Ramalan di atas bukan tanpa alasan.
Tanda-tandanya telah nampak. Lihatlah, hari ketika ia wafat.
Puji-pujian dan kekaguman-kekaguman kepadanya mengalir begitu deras dari
berbagai sudut, pojok, pusat lingkaran dan pinggir social yang tak terjamah
oleh tangan kekuasaan. Bunga warna warni yang wangi dan tertata rapi menyebar dan
berhamburan ke dan di setiap jalan yang dilaluinya, menumpuk bagai di taman
bunga, lalu sebagian daripadanya ditebarkan di atas tanah, pusara, tempat
istirahnya yang terakhir dan abadi. Sangatlah terasa dan terlihat dengan kasat
mata, pujian dan kekaguman yang disampaikan orang ketika Gus Dur pulang begitu
besar, tak terbayangkan dan melampaui kematian orang besar siapapun di negeri
ini. Ribuan orang di berbagai kota dan desa menangis tersedu-sedu, pada hari
ditinggal Gus Dur dan hari-hari sesudahnya. Mereka berduka sambil komat-kamit
memanjatkan do’a ampunan dan rahmat baginya. Lihatlah, ribuan para peziarah,
perempuan dan laki-laki, tua, muda dan anak-anak, dari berbagai desa dan kota
datang ke tempat peristirahatan terakhirnya di Tebuireng. Latar pesantren dan
masjid di sana tak lagi menampungnya. Sekitar 40 ribu orang hadir di sana.
Masjid-masjid di seluruh pelosok negeri segera menyelenggarakan shalat ghaib,
membaca ayat-ayat suci al-Qur’an, surah Yasin dan Tahlil. Mereka berdo’a agar
Tuhan memaafkan kesalahan dan dosanya serta memohon agar beliau ditempatkan di
Pangkuan-Nya dalam dekapan kasih yang menghangatkan dan mengalirkan kedamaian.
Pahala bacaan-bacaan suci itu dihadiahkan atau dimohonkan kepada Tuhan untuk
beliau. Tuhan Maha Mendengar, Maha Kasih dan Maha Mengabulkan permohonan
hamba-hamba-Nya. Gereja-gereja mendentangkan loncengnya berkali-kali, memanggil para jemaatnya untuk
menyelenggarakan ritual dan do’a khusus bagi Gus Dur. Boleh jadi mereka juga membaca kitab suci: Injil.
Kuil-kuil, Sinagog-sinagog, Vihara-vihara, Pure-pure, Klenteng-klenteng dan
tempat-tempat penyembahan kepada Tuhan yang lain, apapun namanya, juga
menyelenggarakan ritual, mantra dan do’a untuknya. Kata mereka, Gus Dur adalah
orang suci, sang Santo. Ketika kaum Kristiani, umat Budha, umat Hindu atau
jama’at Ahmadiyah, atau berbagai aliran kepercayaan atau yang lain ditanya
tentang Gus Dur, mereka akan mengatakan : “apa yang dikatakan dan dijalani Gus
Dur, itulah yang difirmankan Yesus, diajarkan Moses, dituturkan Sang Budha,
disabdakan dalam Baghawad Gita, disabdakan dalam Tipitaka dan diceramahkan oleh
Hazrat Mirza Ghulam Ahmad. Melalui beliau kata-kata Yesus, Moses (Nabi Musa),
Budha Gautama, Gita
dan Hazrat Mirza, menjadi hidup kembali”.
Lihatlah,
latar Tugu Proklamasi, di bilangan Menteng, Jakarta Pusat, sore itu, sehari wafatnya Gus Dur, 31
Desember, tiba-tiba temaram dan memperlihatkan wajah sendu. Langit jingga
segera memasuki
kamar berganti baju hitam. Tak ada lagi keriangan sebagaimana sore-sore
sebelumnya. Bahkan langit itu kemudian menurunkan hujan rintik-rintik,
mengiringi para pecinta Gus Dur yang
datang satu-satu ke tempat itu.
Tetesan-tetesan air hujan
itu tak mampu menghalangi
mereka untuk hadir di sana. Di saku mereka terselip lilin yang kelak siap
dinyalakan. Di beberapa sudut ada spanduk bertuliskan “”Sejuta Lilin Duka
Lintas Iman untuk Gus Dur”.
Ketika
kemudian lilin-lilin dinyalakan satu satu, latar Tugu itu sontak berubah dan berganti wajah, menjadi
terang benderang, bagai diguyur
purnama, meski hujan saja masih turun. Semua yang hadir itu
menunduk, berdo’a ke Hadirat Yang Maha Esa, dengan nama, sebutan-Nya dan bahasa yang berbeda-beda, untuk
beliau; Gus Dur. Orang-orang yang paling rasional dan mungkin tak pernah taat
dalam ritual-ritual agama atau kepercayaan, tiba-tiba hanyut dalam emosi
melankoli tak terkendali, termangu dan menunduk begitu khusyuk. Logika rasional
tiba-tiba membeku dihadapan realitas kematian bapak bangsa itu. Fakta kematian
manusia memang membingungkan dan mencemaskan para filsuf.
Di
tempat lain, pada hari yang sama, di
kompleks pesantren Tebuireng, Jombang, ketika matahari merekah cerah, beribu
manusia hadir dan bersimpuh di depan gundukan tanah yang masih basah dengan
bunga warna-warni menutupi. Mereka mencucurkan air mata kesedihan atas
kepulangan Gus Dur, sambil membaca zikir “La Ilaha Illa Allah” beribu kali. Mereka berharap kepada Allah agar pahala bacaan itu
dihadiahkan untuk Gus Dur. Bukan hanya umat Islam dan para santri
Gus Dur yang hadir di sana.
Lihatlah
pula, para bikhu (bhiksu) dan bhikuni dengan pakaian khas mereka, kuning kunyit
tua, bersimpuh sambil menunduk dengan kedua tangannya dikatupkan, di depan
tanah liat tempat Gus Dur dibaringkan dan diistirahatkan, sambil menggumamkan
do’a-do’a dan puja-puji kudus. Saya dan mungkin kita, tak pernah menyaksikan
pemandangan indah dan mengharukan seperti ini di manapun di negeri ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar