Rabu, 24 Desember 2014

GELOMBANG MANUSIA BERSIMPUH HORMAT





Gus Dur, nama yang akan dikenang rakyat Indonesia berhari-hari, berbulan-bulan dan bertahun tahun dan untuk rentang waktu yang panjang. Boleh jadi ia akan menjadi ikon dan legenda dalam sejarah Indonesia, bangsa muslim terbesar di dunia ini. Beberapa orang meramalkan Gus Dur untuk satu atau dua abad kemudian akan berubah menjadi pribadi yang dimitoskan. Kuburannya akan dikunjungi banyak orang setiap hari, seperti para Wali Sanga. Mungkin ini pandangan yang  berlebihan bagi manusia yang hidup hari ini, tetapi masa depan yang panjang adalah kemungkinan-kemungkinan yang tak terpikirkan. Ketika pikiran-pikirannya ditulis sebagai babad, sejarah hidupnya didongengkan kepada anak-anak dan pesan-pesannya dipahat di mana-mana, serta ketika puisi-puisinya disenandungkan di surau-surau, mushalla atau di pengajian-pengajian, ia sangat mungkin menjadi sarat makna mitis, menjadi Sang Legenda.
Ramalan di atas bukan tanpa alasan. Tanda-tandanya telah nampak. Lihatlah, hari ketika ia wafat. Puji-pujian dan kekaguman-kekaguman kepadanya mengalir begitu deras dari berbagai sudut, pojok, pusat lingkaran dan pinggir social yang tak terjamah oleh tangan kekuasaan. Bunga warna warni yang wangi dan tertata rapi menyebar dan berhamburan ke dan di setiap jalan yang dilaluinya, menumpuk bagai di taman bunga, lalu sebagian daripadanya ditebarkan di atas tanah, pusara, tempat istirahnya yang terakhir dan abadi. Sangatlah terasa dan terlihat dengan kasat mata, pujian dan kekaguman yang disampaikan orang ketika Gus Dur pulang begitu besar, tak terbayangkan dan melampaui kematian orang besar siapapun di negeri ini. Ribuan orang di berbagai kota dan desa menangis tersedu-sedu, pada hari ditinggal Gus Dur dan hari-hari sesudahnya. Mereka berduka sambil komat-kamit memanjatkan do’a ampunan dan rahmat baginya. Lihatlah, ribuan para peziarah, perempuan dan laki-laki, tua, muda dan anak-anak, dari berbagai desa dan kota datang ke tempat peristirahatan terakhirnya di Tebuireng. Latar pesantren dan masjid di sana tak lagi menampungnya. Sekitar 40 ribu orang hadir di sana. Masjid-masjid di seluruh pelosok negeri segera menyelenggarakan shalat ghaib, membaca ayat-ayat suci al-Qur’an, surah Yasin dan Tahlil. Mereka berdo’a agar Tuhan memaafkan kesalahan dan dosanya serta memohon agar beliau ditempatkan di Pangkuan-Nya dalam dekapan kasih yang menghangatkan dan mengalirkan kedamaian. Pahala bacaan-bacaan suci itu dihadiahkan atau dimohonkan kepada Tuhan untuk beliau. Tuhan Maha Mendengar, Maha Kasih dan Maha Mengabulkan permohonan hamba-hamba-Nya. Gereja-gereja mendentangkan loncengnya berkali-kali, memanggil para jemaatnya untuk menyelenggarakan ritual dan do’a khusus bagi Gus Dur. Boleh jadi mereka juga membaca kitab suci: Injil. Kuil-kuil, Sinagog-sinagog, Vihara-vihara, Pure-pure, Klenteng-klenteng dan tempat-tempat penyembahan kepada Tuhan yang lain, apapun namanya, juga menyelenggarakan ritual, mantra dan do’a untuknya. Kata mereka, Gus Dur adalah orang suci, sang Santo. Ketika kaum Kristiani, umat Budha, umat Hindu atau jama’at Ahmadiyah, atau berbagai aliran kepercayaan atau yang lain ditanya tentang Gus Dur, mereka akan mengatakan : “apa yang dikatakan dan dijalani Gus Dur, itulah yang difirmankan Yesus, diajarkan Moses, dituturkan Sang Budha, disabdakan dalam Baghawad Gita, disabdakan dalam Tipitaka dan diceramahkan oleh Hazrat Mirza Ghulam Ahmad. Melalui beliau kata-kata Yesus, Moses (Nabi Musa), Budha Gautama, Gita dan Hazrat Mirza, menjadi hidup kembali”.
Lihatlah, latar Tugu Proklamasi, di bilangan Menteng, Jakarta Pusat, sore itu, sehari wafatnya Gus Dur, 31 Desember, tiba-tiba temaram dan memperlihatkan wajah sendu. Langit jingga segera memasuki kamar berganti baju hitam. Tak ada lagi keriangan sebagaimana sore-sore sebelumnya. Bahkan langit itu kemudian menurunkan hujan rintik-rintik, mengiringi  para pecinta Gus Dur yang datang satu-satu ke tempat itu. Tetesan-tetesan air hujan itu tak mampu menghalangi mereka untuk hadir di sana. Di saku mereka terselip lilin yang kelak siap dinyalakan. Di beberapa sudut ada spanduk bertuliskan “”Sejuta Lilin Duka Lintas Iman untuk Gus Dur”.
Ketika kemudian lilin-lilin dinyalakan satu satu, latar Tugu itu sontak berubah dan berganti wajah, menjadi terang benderang, bagai diguyur purnama, meski hujan saja masih turun. Semua yang hadir itu menunduk, berdo’a ke Hadirat Yang Maha Esa, dengan nama, sebutan-Nya dan bahasa yang berbeda-beda, untuk beliau; Gus Dur. Orang-orang yang paling rasional dan mungkin tak pernah taat dalam ritual-ritual agama atau kepercayaan, tiba-tiba hanyut dalam emosi melankoli tak terkendali, termangu dan menunduk begitu khusyuk. Logika rasional tiba-tiba membeku dihadapan realitas kematian bapak bangsa itu. Fakta kematian manusia memang membingungkan dan mencemaskan para filsuf.
Di tempat lain, pada hari yang sama, di kompleks pesantren Tebuireng, Jombang, ketika matahari merekah cerah, beribu manusia hadir dan bersimpuh di depan gundukan tanah yang masih basah dengan bunga warna-warni menutupi. Mereka mencucurkan air mata kesedihan atas kepulangan Gus Dur, sambil membaca zikir “La Ilaha Illa Allah” beribu kali. Mereka berharap kepada Allah agar pahala bacaan itu dihadiahkan untuk Gus Dur. Bukan hanya umat Islam dan para santri Gus Dur yang hadir di sana. Lihatlah pula, para bikhu (bhiksu) dan bhikuni dengan pakaian khas mereka, kuning kunyit tua, bersimpuh sambil menunduk dengan kedua tangannya dikatupkan, di depan tanah liat tempat Gus Dur dibaringkan dan diistirahatkan, sambil menggumamkan do’a-do’a dan puja-puji kudus. Saya dan mungkin kita, tak pernah menyaksikan pemandangan indah dan mengharukan seperti ini di manapun di negeri ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar