Rabu, 24 Desember 2014

MENGENANG GUS DUR (4)





Di Purwakarta, saat berceramah linas iman, Gus Dur diserbu segerombolan orang yang mengaku diri pembela terdepan Islam. Mereka ingin melukai Gus Dur. Mereka telah lama, berhari-hari, berbulan-bulan, dan bertahun-tahun mengintai sepakterjang pikirannya. Mereka menyimpulkan sendiri bahwa Gus Dur  sesat, Gus Dur kafir, Gus Dur murtad dan kata syiar kebencian yang lain, lalu menyebarluaskannya kepada public di atas mimbar-mimbar profan maupun sakral. Tetapi Alhamdulillah, Gus Dur selamat, tak satu apapun mengenai tubuhnya.
Pada saat yang lain rumahnya pernah diteror orang tak dikenal. Entah sudah berapa kali. Mengenai peristiwa ini, ia tak pernah bercerita kepada siapapun. Gus Dur mungkin hanya bilang dengan santai saja : “ah, biarkan saja, tidak apa-apa, semoga Allah memberi mereka pengetahuan dan petunjuk”. “Al-Insan A’daa-u Ma Jahilu”. Manusia akan memusuhi apa yang tak diketahuinya. “Mereka memusuhi yang lain, karena mereka tidak mengerti”, kata pepatah kaum bijak.
Ini mengingatkan kita pada kisah Nabi Muhammad ketika dirinya dilukai, disakiti, dihinakan dan dikejar-kejar oleh anak-anak muda Quraisy sambil dilempari batu sampai beliau harus ke luar kampungnya sendiri, menuju Taif, sebuah kota, pusat musim panas di luar Makkah. Nabi terluka, kakinya berdarah. Ia masuk ke kebun orang Yahudi dan duduk bersandar di bawah pohon kurma. Melihat kekasih Allah itu diperlakukan sedemikian rupa, Jibril menawarkan bantuannya. “Ya Muhammad, Ins Syi’ta an Uthbiqa ‘alaihim al-Akhsyabaini”. (O, kekasihku, Muhammad, jika kau berkenan, aku akan timpakan dua gunung ini ke atas punggung mereka yang terus melukaimu”, kata Jibril. Tetapi apa jawab Nabi?. Sambil menggelengkan kepalanya, beliau mengatakan : “Oh, Tidak, Jangan!. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang belum mengerti saja. Oh, Tuhan, berilah mereka petunjuk. Semoga kelak dari mereka akan lahir orang-orang yang meng-Esa-kan-Mu”. Usai demikian, Nabi Saw, masih di bawah pohon itu, berdo’a dengan seluruh hatinya.

اَللَّهُمَّ إٍنِّى أَشْكُو إِلَيْكَ ضُعْفَ قُوَّتِى وَقِلَّةَ حِيْلَتِى وَهَوَانِى عَلَى النَّاسِ, يا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
أَنْتَ رَبُّ المُستَضْعَفِيْنَ وَأَنْتَ رَبِّى. إِلىَ مَنْ تَكِلُنِى؟ إِلَى بَعِيْدٍ يَتَجَهَّمُنِى أَوْ إِلَى عَدُوٍّ مَلَّكْتَهُ أَمْرِى
إِنْ لمَ يَكُنْ بِكَ عَليَّ غَضَبٌ فَلَا أُبَالِى وَلَكِنْ عَافِيَتُكَ أَوْسَعُ لِى أَعُوْذُ بِنُوْرِ وَجْهِكَ الَّذِى أَشْرَقَتْ لَهُ الظُّلُمَاتُ وَصَلُحَ عَلَيْهِ أَمْرُ الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ مِنْ أَن يَنْزِلَ بِى غَضَبُكَ أَوْ تَحِلُّ عَليَّ سَخَطُكَ لَكَ الْعُتْبَى حَتَّى تَرْضَى. وَلَا حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِكَ.

Wahai Tuhan,
Kepada-Mu jua aku mengadukan kelemahanku
Kurangnya kemampuanku
Hinaku di hadapan manusia
O, Tuhan Maha Pengasih, Maha Penyayang
Engkaulah Yang melindungi orang-orang yang lemah
Engkaulah Pelindungku
Kepada siapakah Engkau akan menyerahkan diri hamba-Mu  ini?
Kepada yang jauh yang melihatku dengan muka masamkah,
atau kepada mereka yang membenci aku?
Jika saja Engkau tiada memurkaiku, aku tak peduli
Tetapi maaf-Mu Yang maha luas lah yang sangat aku dambakan.
Kami  berlindung di bawah  Cahaya Kasih-Mu
Yang menerangi semua kegelapan,
Dan atasnyalah  semua  urusan  kehidupan di  dunia dan akhirat
Akan menjadi baik.
Janganlah  Engkau turunkan murka-Mu kepadaku
Atau Engkau timpakan kepadaku
Engkaulah yang berhak menegurku
Hingga Engkau rela padaku
Tiada daya, tiada upaya,
Selain karena Engkau jua.



Segera sesudah itu, begitu reflektif, terucap begitu saja dan tanpa diminta, ribuan orang berebut memberi makna dan simbol kepadanya. Gus Dur adalah “Ulama Besar”, “Guru Bangsa”, “Bapak Pluralisme”, “Bapak Demokrasi”, “Sang  Humanis Sejati”, , “Pelindung kaum Minoritas”, Pembela kaum Tertindas”, “Sang Pembebas”, “Negarawan Paripurna”, “Bapak Bhineka Tunggal Ika”, “Intelektual Sejati”, “Budayawan Besar”, “Waliyullah”, dan masih beratus sebutan lainnya.
Aku sendiri ingin menyebutnya “Sang Sufi Besar” atau “Sang Zahid”. Sufi adalah orang yang mempraktikkan prinsip-prinsip tasawuf. Masyarakat barat menerjemahkan kata ini sebagai “mistisisme Islam”, meski boleh jadi tak tepat benar. Annemarie Schimmel telah memberikan definisi yang terbaik mengenai terminology ini sambil mengakui bahwa “untuk menulis. Katanya : “tentang sufisme atau mistisisme Islam adalah tugas yang hampir mustahil”. Menurutnya mistisisme mencakup suatu misteri yang tidak bisa dicapai dengan cara-cara atau upaya-upaya biasa. Mistisisme berasal dari kata “mystic” dan “mystery” (bahasa Latin) yang berarti “menutup mata”. Dalam pengertiannya yang lebih luas, Mystisisme mungkin bisa didefinisikan sebagai kesadaran akan Realitas Tunggal yang bisa dinamakan Kebijaksanaan, Cahaya, Cinta atau Ketiadaan”.[1]
Para Sufi adalah matahari-matahari dan Gus Dur dalam pandangan saya adalah “Matahari Dhuha” yang cahaya spiritualitasnya menebarkan kehangatan cinta, kesegaran, kegairahan sekaligus mencerahkan dan menyuburkan bumi manusia. “Gus Dur bagaikan gunung berapi yang menyimpan magma spiritualitas begitu dahsyat. Magma itu tak pernah berhenti bergolak dan begitu aktif yang seringkali meletup-letup, menumpahkan lahar panas, mengaliri tanah kering-kerontang. Manakala telah dingin, tanah berubah menjadi subur, bumi menghijau menyembulkan bunga warna-warni, indah dan menebarkan wewangian”.
Sahabat saya Marzuki Wahid, penulis buku Beyond the Symbols, Jejak Antropoligis Pemikiran dan Gerakan Gus Dur, dalam sebuah moment refleksi 100 tokoh atas Gus Dur, di Institute Agama Islam Nur Jati (IAIN), Cirebon, menyampaikan kata pamungkas yang mendebarkan: “Gus Dur bukanlah “Guru Bangsa”, bukan “Bapak Pluralisme”, bukan “Ulama”, bukan “Seorang Humanis” bukan “Waliyullah”, bukan “Negarawan Paripurna”, dan bukan seterusnya. Sampai di sini, hati yang hadir berdegup-degup kencang, tersekat-sekat. “Ini anak tak tahu diri dan keterlaluan”, kata hati mereka, sambil menahan emosi. “Tetapi Gus Dur adalah semuanya”, kata Marzuki Wahid menuntaskan bicaranya. Dan suasana spontan tiba-tiba berubah gemuruh, menghentikan jantung yang berdegup, meredakan emosi yang tertahan, lalu menciptakan suasana yang mengharu-biru, mengalirkan kehangatan air mata yang lalu menetes pelan-pelan.
Begitulah setiap orang telah dan akan terus memaknai Gus Dur dengan ungkapan dan cara yang berbeda-beda, berdasarkan pada apa yang dilihat, didengar, diingat dan dirasakannya. Pemaknaan atas sesuatu memang selalu lahir dari pengalaman subyektif. Eskpresi-ekspresi intelektual dan idiom-idiom psikologis selalu merupakan produk dari ruang dan waktunya sendiri-sendiri, produk pengalaman diri pemberi makna. Tak ada seorang pun yang mampu menghadang pengalaman spiritual setiap orang. Pemaknaan yang beragam atas Gus Dur telah cukup menggambarkan betapa di dalam dirinya sarat dengan makna besar. Dan kebesarannya bukan karena ia pernah menjadi Presiden dari berjuta-juta rakyat, dan bukan karena hal-hal lain di luar dirinya, melainkan karena dirinya sendiri. Ia telah mencari kebesaran itu dari dalam dirinya sendiri.



[1] Baca: Leonard Lewisohn (ed): Warisan Sufi, Warisan Sufisme Persia Abad Pertengahan (1150-1500), Buku kedua,  Pustaka Sufi, cet. I, hlm. 437-438).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar