Di
Purwakarta, saat berceramah linas iman, Gus Dur diserbu segerombolan orang yang
mengaku diri pembela terdepan Islam. Mereka ingin melukai Gus Dur. Mereka telah
lama, berhari-hari, berbulan-bulan, dan bertahun-tahun mengintai sepakterjang
pikirannya. Mereka menyimpulkan sendiri bahwa Gus Dur sesat, Gus Dur kafir, Gus Dur murtad dan kata
syiar kebencian yang lain, lalu menyebarluaskannya kepada public di atas
mimbar-mimbar profan maupun sakral. Tetapi Alhamdulillah, Gus Dur selamat, tak
satu apapun mengenai tubuhnya.
Pada
saat yang lain rumahnya pernah diteror orang tak dikenal. Entah sudah berapa
kali. Mengenai peristiwa ini, ia tak pernah bercerita kepada siapapun. Gus Dur
mungkin hanya bilang dengan santai saja : “ah, biarkan saja, tidak apa-apa,
semoga Allah memberi mereka pengetahuan dan petunjuk”. “Al-Insan A’daa-u Ma
Jahilu”. Manusia akan memusuhi apa yang tak diketahuinya. “Mereka memusuhi
yang lain, karena mereka tidak mengerti”, kata pepatah kaum bijak.
Ini
mengingatkan kita pada kisah Nabi Muhammad ketika dirinya dilukai, disakiti,
dihinakan dan dikejar-kejar oleh anak-anak muda Quraisy sambil dilempari batu
sampai beliau harus ke luar kampungnya sendiri, menuju Taif, sebuah kota, pusat
musim panas di luar Makkah. Nabi terluka, kakinya berdarah. Ia masuk ke kebun
orang Yahudi dan duduk bersandar
di
bawah pohon kurma. Melihat kekasih Allah itu diperlakukan sedemikian rupa,
Jibril menawarkan bantuannya. “Ya Muhammad, Ins Syi’ta an Uthbiqa ‘alaihim
al-Akhsyabaini”. (O, kekasihku, Muhammad, jika kau berkenan, aku akan timpakan
dua gunung ini ke atas punggung mereka yang terus melukaimu”, kata Jibril.
Tetapi apa jawab Nabi?. Sambil
menggelengkan kepalanya, beliau mengatakan : “Oh, Tidak, Jangan!.
Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang belum mengerti saja. Oh, Tuhan,
berilah mereka petunjuk. Semoga kelak dari mereka akan lahir orang-orang yang
meng-Esa-kan-Mu”. Usai demikian, Nabi Saw, masih di bawah pohon itu, berdo’a dengan
seluruh hatinya.
اَللَّهُمَّ إٍنِّى أَشْكُو إِلَيْكَ ضُعْفَ قُوَّتِى وَقِلَّةَ حِيْلَتِى وَهَوَانِى عَلَى النَّاسِ, يا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
أَنْتَ رَبُّ المُستَضْعَفِيْنَ وَأَنْتَ رَبِّى. إِلىَ مَنْ تَكِلُنِى؟ إِلَى
بَعِيْدٍ يَتَجَهَّمُنِى أَوْ إِلَى عَدُوٍّ مَلَّكْتَهُ أَمْرِى
إِنْ لمَ يَكُنْ بِكَ عَليَّ غَضَبٌ فَلَا أُبَالِى وَلَكِنْ عَافِيَتُكَ أَوْسَعُ
لِى أَعُوْذُ بِنُوْرِ وَجْهِكَ الَّذِى أَشْرَقَتْ لَهُ الظُّلُمَاتُ وَصَلُحَ عَلَيْهِ
أَمْرُ الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ مِنْ أَن يَنْزِلَ بِى غَضَبُكَ أَوْ تَحِلُّ عَليَّ
سَخَطُكَ لَكَ الْعُتْبَى حَتَّى تَرْضَى. وَلَا حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِكَ.
Wahai
Tuhan,
Kepada-Mu
jua aku mengadukan kelemahanku
Kurangnya
kemampuanku
Hinaku
di hadapan manusia
O,
Tuhan Maha Pengasih, Maha Penyayang
Engkaulah
Yang melindungi orang-orang yang lemah
Engkaulah
Pelindungku
Kepada
siapakah Engkau akan menyerahkan diri hamba-Mu
ini?
Kepada
yang jauh yang melihatku dengan muka masamkah,
atau
kepada mereka yang membenci aku?
Jika
saja Engkau tiada memurkaiku, aku tak peduli
Tetapi
maaf-Mu Yang maha luas lah yang sangat aku dambakan.
Kami berlindung di bawah Cahaya Kasih-Mu
Yang
menerangi semua kegelapan,
Dan
atasnyalah semua urusan
kehidupan di dunia dan akhirat
Akan
menjadi baik.
Janganlah Engkau turunkan murka-Mu kepadaku
Atau
Engkau timpakan kepadaku
Engkaulah
yang berhak menegurku
Hingga
Engkau rela padaku
Tiada
daya, tiada upaya,
Selain karena Engkau jua.
Segera
sesudah itu, begitu reflektif,
terucap begitu saja dan tanpa diminta, ribuan orang berebut
memberi makna dan simbol
kepadanya. Gus Dur adalah
“Ulama Besar”, “Guru Bangsa”, “Bapak Pluralisme”, “Bapak Demokrasi”, “Sang Humanis Sejati”, , “Pelindung kaum
Minoritas”, Pembela kaum Tertindas”, “Sang Pembebas”, “Negarawan Paripurna”,
“Bapak Bhineka Tunggal Ika”, “Intelektual Sejati”, “Budayawan Besar”,
“Waliyullah”, dan masih beratus sebutan lainnya.
Aku
sendiri ingin menyebutnya “Sang Sufi Besar” atau “Sang Zahid”. Sufi adalah
orang yang mempraktikkan prinsip-prinsip tasawuf. Masyarakat barat
menerjemahkan kata ini sebagai “mistisisme Islam”, meski boleh jadi tak tepat
benar. Annemarie Schimmel telah memberikan definisi yang terbaik mengenai
terminology ini sambil mengakui bahwa “untuk menulis. Katanya : “tentang
sufisme atau mistisisme Islam adalah tugas yang hampir mustahil”. Menurutnya
mistisisme mencakup suatu misteri yang tidak bisa dicapai dengan cara-cara atau
upaya-upaya biasa. Mistisisme berasal dari kata “mystic” dan “mystery” (bahasa
Latin) yang berarti “menutup mata”. Dalam pengertiannya yang lebih luas,
Mystisisme mungkin bisa didefinisikan sebagai kesadaran akan Realitas Tunggal
yang bisa dinamakan Kebijaksanaan, Cahaya, Cinta atau Ketiadaan”.[1]
Para
Sufi adalah matahari-matahari dan Gus Dur dalam pandangan saya adalah “Matahari
Dhuha” yang cahaya spiritualitasnya menebarkan kehangatan cinta, kesegaran,
kegairahan sekaligus mencerahkan dan menyuburkan bumi manusia. “Gus Dur
bagaikan gunung berapi yang menyimpan magma spiritualitas begitu dahsyat. Magma
itu tak pernah berhenti bergolak dan begitu aktif yang seringkali meletup-letup,
menumpahkan lahar panas, mengaliri tanah kering-kerontang. Manakala telah
dingin, tanah berubah menjadi subur, bumi menghijau menyembulkan bunga
warna-warni, indah dan menebarkan wewangian”.
Sahabat
saya Marzuki Wahid, penulis buku Beyond the Symbols, Jejak Antropoligis
Pemikiran dan Gerakan Gus Dur, dalam sebuah moment refleksi 100 tokoh atas
Gus Dur, di Institute Agama Islam Nur Jati (IAIN), Cirebon, menyampaikan kata
pamungkas yang mendebarkan: “Gus Dur bukanlah “Guru Bangsa”, bukan “Bapak
Pluralisme”, bukan “Ulama”, bukan “Seorang Humanis” bukan “Waliyullah”, bukan
“Negarawan Paripurna”, dan bukan seterusnya. Sampai di sini, hati yang hadir
berdegup-degup kencang, tersekat-sekat. “Ini anak tak tahu diri dan
keterlaluan”, kata hati mereka, sambil menahan emosi. “Tetapi Gus Dur adalah
semuanya”, kata Marzuki Wahid menuntaskan bicaranya. Dan suasana spontan
tiba-tiba berubah gemuruh, menghentikan jantung yang berdegup, meredakan emosi
yang tertahan, lalu menciptakan suasana yang mengharu-biru, mengalirkan
kehangatan air mata yang lalu menetes pelan-pelan.
Begitulah
setiap orang telah dan akan terus memaknai Gus Dur dengan ungkapan dan cara
yang berbeda-beda, berdasarkan pada apa yang dilihat, didengar, diingat dan
dirasakannya. Pemaknaan atas sesuatu memang selalu lahir dari pengalaman subyektif.
Eskpresi-ekspresi intelektual dan idiom-idiom psikologis selalu merupakan
produk dari ruang dan waktunya sendiri-sendiri, produk pengalaman diri pemberi
makna. Tak ada seorang pun yang mampu menghadang pengalaman spiritual setiap
orang. Pemaknaan yang beragam atas Gus Dur telah cukup menggambarkan betapa di
dalam dirinya sarat dengan makna besar. Dan kebesarannya bukan karena ia
pernah menjadi Presiden dari berjuta-juta rakyat, dan bukan karena hal-hal lain
di luar dirinya,
melainkan karena dirinya sendiri. Ia telah mencari kebesaran itu dari dalam
dirinya sendiri.
[1]
Baca: Leonard Lewisohn (ed): Warisan
Sufi, Warisan Sufisme Persia Abad Pertengahan (1150-1500), Buku kedua, Pustaka Sufi, cet. I, hlm. 437-438).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar