[Beberapa teman memintaku
untuk mereupload tulisan tentang Natal yang telah aku tulis tahun lalu. Tulisan
ini ada dalam bukuku : “Menyusuri Jalan Cahaya”.]
Sikap toleran, menyambut liyan, menghargai ragam
pendapat/pikiran dan tak gampang
menuduh/mencurigai orang, hanya lahir dari
keluasan, kemendalaman pengetahuan dan kebersihan hati.
Natal
adalah salah satu hari besar yang selalu diperingati oleh umat Kristiani pada
setiap 25 Desember. Ini dipercayai sebagai hari kelahiran Yesus. Umat Kristiani
di seluruh dunia memperingatinya dengan seluruh kesyahduan ritual dan
nyanyian-nyanyian kudus penuh puja-puji kepada Tuhan. Mereka meyakini Yesus
sebagai juru selamat dan penebus dosa-dosa manusia. Kelahirannya dipandang
sebagai kelahiran manusia agung. Seluruh hidupnya diabdikan untuk membela dan
mendampingi orang-orang tertindas, papa dan tersisihkan. Gagasan utama yang
selalu ditebarkannya sepanjang hidupnya adalah Kasih.
Umat
Islam menyebut Yesus sebagai Isa, salah seorang Nabi, utusan Tuhan dan ia sendiri menyebutnya
“hamba Allah”. Mereka menghormati dan mengagungkannya seperti penghormatan
kepada Nabi-nabi dan para rasul Allah yang lain. Al-Qur’ân menceritakan kelahiran
Nabi Isa dengan cara yang sangat indah. Ibunya, Maryam, disebut ‘ukht Harun’ (saudara
perempuan Harun) karena ia perempuan yang saleh seperti Nabi Harun. Ketika
masih kecil, Isa sudah bisa bicara:
قالَ
إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ آتَانِيَ الْكِتَابَ وَجَعَلَنِي نَبِيًّا* وَجَعَلَنِي
مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنتُ وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ
حَيًّا* وَبَرًّا بِوَالِدَتِي وَلَمْ يَجْعَلْنِي جَبَّارًا شَقِيًّا*
وَالسَّلَامُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدتُّ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا
ذَلِكَ عِيْسَى بنُ مَرْيَمَ قَوْلَ الْحَقِّ الّذِى فِيْهِ يَمْتَرُونَ .
“Sesungguhnya aku ini hamba Allah.
Dia memberiku Al-Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi. Dia
menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada. Dia
memerintahkan kepadaku mendirikan shalat dan membayar zakat selama aku hidup,
dan berbakti kepada ibuku. Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi
celaka. Dan kedamaian semoga dilimpahkan kepadaku, pada saat aku dilahirkan,
pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali. Itulah
Isa putra Maryam yang mengatakan perkataan yang benar...”.(Q.S. Maryâm
[19]:30-33).
Lihatlah,
Isa, sang Nabi yang mulia itu, mengucapkan kebahagiaan atas kelahiran, kematian
dan kebangkitannya sendiri. Pernyataannya disebut Tuhan sebagai pernyataan yang
benar dan jujur.
Dalam
konteks masyarakat muslim, terutama di Indonesia, mengucapkan selamat Natal
pada moment itu masih controversial.
Sebagian di antara mereka, mungkin mayoritas, masih mengharamkannya. Konon, pernah terjadi, seorang ketua MUI,
seorang ulama besar, mengeluarkan fatwa haram atas isu ini. Para ulama dan
mufti Saudi Arabia sudah lama mengharamkannya. Mereka merujuk pada pandangan
Ibnu Taimiyah, salah satu sumber otoritas pandangan keagamaan mereka. Mereka
menganggap ucapan tersebut mengandung arti ikut serta membesarkan, mensyiarkan
dan mendukung keyakinan kaum Kristiani tentang ketuhanan Isa.
Berbeda
dengan pandangan para ulama Wahabi di atas, Syeikh Dr. Yusuf al Qardhawi, ketua
Ulama Islam sedunia dari Mesir berpendapat lain. Katanya :”Adalah hak setiap
kelompok untuk merayakan hari-hari besarnya dengan cara tidak melukai orang
lain. Juga hak setiap kelompok untuk menyampaikan ucapan selamat atas hari
besar orang lain. Islam tidak melarang kaum muslimin menyampaikan ucapan
selamat kepada warga Negara dan tetangga yang beragama Nasrani berkaitan dengan
hari besar keagamaan mereka. Karena hal ini termasuk dalam pengertian
"al-Birru" (kebajikan) sebagaimana dikemukakan dalam firman Allah
:"Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil kepada
orang-orang yang tidak memerangimu dan tidak mengusirmu dari tempat tinggalmu.
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat adil".
Kata
“al-Birr”, yang diterjemahkan sebagai “kebajikan”, dimaknai oleh Syeikh
Muhammad Thahir bin ‘Asyur, penulis kitab tafsir : “Al-Tahrir wa al-Tanwir”,
sebagai “Husn al-Mu’amalah wa al-Ikram” (pergaulan yang baik dan menghormati).
Lebih
dari itu, masih kata Syeikh al-Qardhawi, jika mereka menyampaikan ucapan
selamat pada hari raya kaum muslimin. Allah berfirman, maka karena Allah
mengatakan :"Jika kamu mendapat kehormatan, maka balaslah penghormatan itu
dengan cara yang lebih baik atau minimal dengan penghormatan yang sama. Akan
tetapi kaum muslimin dalam ini tidak boleh mengikuti ritual keagamaan
mereka”.
Syeikh Dr.
Mushtafa al-Zarqa (w. 1999), al-Syeikh
al-faqih (guru besar dan
ahli fiqh), menyampaikan pandangan senada: “Seorang muslim yang mengucapkan
selamat kepada teman-temannya atas kelahiran Isa al Masih, As, menurut saya
merupakan yang hal yang baik dan etika dalam pergaulan sosial. Islam tidak
melarang sikap ini, apalagi Isa
Al-Masih
yang dalam aqidah Islam adalah Rasul
besar dan salah satu Ulul al Azmi. Mereka sangat dihormati dalam agama
kita. Tetapi, saying, mereka (kaum nasrani) terlalu ekstrim
dengan meyakininya sebagai Tuhan”.
Dr. Muhammad Abd Allah
al-Syarqawi, Prof. Teologi dan Agama-agama, Univ. Qatar.
“Dalam moment hari raya umat Kristiani: Natal,
tidaklah mengapa (tidak berdosa) seorang muslim menyampaikan ucapan selamat
Natal kepada tetangganya, guru, murid, teman kantor atau teman sekolahnya yang
beragama Nasrani. Ini merupakan tuntunan Islam yang bijaksana yang menegaskan
keharusan kita bertindak adil dan berbuat baik kepada warga Negara beragama
Kristen Koptik, sesuai dengan firman Allah : “Tuhan tidak melarang kita untuk
berbuat baik dan bertindak adil kepada orang-orang yang tidak memerangi kamu
atas nama agama dan tidak mengusirmu dari tanah airmu”.
Natal di Mesir
Mesir
adalah negeri kuno dengan sejuta peninggalan sejarah yang bernilai abadi.
Sungai Nil
yang terbentang jauh sampai Sudan, kota2 cantik nan exotic: Luxor, Memphis,
Karnak dan Thebes dan yang paling terkenal adalah Piramida dan Spinx adalah
bukti sejarah dari peradaban besar itu. Ketika orang-orang Islam-Arab memasuki
Mesir, penduduk asli di sana seluruhnya Kristen, meski di sana juga terdapat peninggalan
agama-agama lama yang berbagai-bagai,
selain Kristen. Dalam beberapa hal ritual-ritalnya memengaruhi
ritual-ritual Kristen. Yang tersisa hingga kini dan masih cukup besar, sekitar
10% adalah Kristen Koptik (Qibthi).
Mesir
kini menjadi negara Islam terkemuka di dunia. Di sana ada Universitas tertua di
dunia dan sangat terkenal; Al-Azhar. Universitas ini menjadi pusat keilmuan
Islam Internasional sejak 1000 tahun dan telah melahirkan ratusan ribu ulama
besar. Pikiran-pikiran dan buku-buku mereka menjadi rujukan masyarakat muslim
di seluruh dunia sepanjang masa. Dalam kurun waktu yang cukup panjang itu,
otoritas keagamaan al Azhar, tak pernah terusik untuk meruntuhkan peradaban non
muslim yang penuh pesona itu.
Spink dan tiga
piramida di kawasan Giza yang berdiri 5000 tahun lalu, konon, kuburan para Firaun, masih berdiri kokoh. Gereja-gereja kuno
dan sejumlah Sinagog (tempat sembahyang umat Yahudi) masih berdiri megah. Kini
di sampingnya berdiri masjid-masjid besar dan megah pula. Beberapa gereja
Kristen dan Sinagog milik orang Yahudi berdiri disamping masjid Amr bin Ash.
Panglima besar kaum muslimin yang menaklukkan negeri itu itu tidak
mengutak-atiknya. Ia memberikan keleluasaan beribadah kepada masing-masing
penganut agama Samawi itu. Di antaranya Gereja St Sergius yang berdiri pada
abad ke-3 M. Gereja itu dibangun di sebuah gua yang dulu menjadi tempat singgah
Nabi lsa dan Bunda Maryam dalam pelariannya ke Mesir saat dikejar-kejar Raja
Herodes, penguasa Romawi di Palestina.
Keberadaan masjid
yang berdampingan dengan gereja dan sinagog itu menunjukkan hidup berdampingan
dalam tatanan yang saling hormat-menghormati dalam kedamaian. Sahabat Rasul itu
tahu persis bahwa Islam memberi-kan kebebasan dalam beragama. Apalagi, ketiga
agama samawi itu adalah agama yang dibawa oleh keluarga Nabi Ibrahim, As.
Ketika Natal tiba, seluruh warga negeri ini
seakan larut dalam kegembiraan bersama. Mereka memperlihatkan dengan nyata
makna kebersamaan dan persaudaraan, meski memiliki keyakinan dan agama berbeda-beda. Di sana juga ada
semacam tradisi di mana pemimpin tertinggi agama Islam dan pemimpin tertinggi
agama Kristen saling mengucapkan selamat dan menyampaikan simpati pada hari
raya masing-masing. Pemimpin Islam mengucapkan “selamat hari Natal” dan
pemimpin tertinggi Kristen mengucapkan “selamat Idul Fitri”. Mereka tetap dalam
keyakinan dan keimanannya masing-masing. Grand Syeikh Al-Azhar Kairo, Sayyid
Muhammad Thanthawi, selalu hadir dalam perayaan Natal umat Kristen (Koptik) di
sana. Ini moment penting bagi perwujudan persaudaraan umat manusia, dan
perdamaian bangsa dan penghormatan atas segala jenis perbedaan.
Nurcholis
Madjid,
cendikiawan muslim terkemuka pernah bercerita menarik. Ia menulis pengalaman
Naral di Mesir dalam salah satu bukunya. Bulan Desember tahun 1991 ia berada di
Mesir dalam suasana Natal yang begitu terasa di mana-mana. Restoran penuh
dengan dekorasi Natal disertai ucapan Natal yang tentu saja dalam bahasa Arab.
Di balik kaca penutup meja makan semua restoran juga ada selebaran-selebaran
yang mengajak setiap tamu yang datang untuk ikut bersyukur kepada Tuhan atas
kelahiran Nabi Isa atau Yesus. Pemilik restoran tempat Nurcholis makan dan
membaca selebaran itu ternyata baru saja pulang menunaikan ibadah haji.
Betapa
indahnya sikap toleransi dan kebersamaan relasi
dengan kekokohan keyakinan diri masing-masing. Betapa anehnya, bila ada umat
beragama yang lebih menyukai permusuhan daripada perdamaian. Al-Qur’an, kitab
suci kaum muslimin memang telah menegaskan:
“Katakan (Muhammad): “Wahai
orang-orang kafir. Aku tidak menyembah Tuhan yang kalian sembah, dan kalian tak
menyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu
sembah, dan kamu tidak
pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Bagimu agamamu dan bagik
agamaku”.(Q.S. al-Ikhlash,
[109]:1-6).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar