Rabu, 24 Desember 2014

NATAL PENGHORMATAN UNTUK SANG NABI




[Beberapa teman memintaku untuk mereupload tulisan tentang Natal yang telah aku tulis tahun lalu. Tulisan ini ada dalam bukuku : “Menyusuri Jalan Cahaya”.]

  
Sikap toleran, menyambut liyan, menghargai ragam pendapat/pikiran dan tak gampang menuduh/mencurigai orang, hanya lahir dari keluasan, kemendalaman pengetahuan dan kebersihan hati.

Natal adalah salah satu hari besar yang selalu diperingati oleh umat Kristiani pada setiap 25 Desember. Ini dipercayai sebagai hari kelahiran Yesus. Umat Kristiani di seluruh dunia memperingatinya dengan seluruh kesyahduan ritual dan nyanyian-nyanyian kudus penuh puja-puji kepada Tuhan. Mereka meyakini Yesus sebagai juru selamat dan penebus dosa-dosa manusia. Kelahirannya dipandang sebagai kelahiran manusia agung. Seluruh hidupnya diabdikan untuk membela dan mendampingi orang-orang tertindas, papa dan tersisihkan. Gagasan utama yang selalu ditebarkannya sepanjang hidupnya adalah Kasih.

Umat Islam menyebut Yesus sebagai Isa, salah seorang Nabi,  utusan Tuhan dan ia sendiri menyebutnya “hamba Allah”. Mereka menghormati dan mengagungkannya seperti penghormatan kepada Nabi-nabi dan para rasul Allah yang lain. Al-Qur’ân menceritakan kelahiran Nabi Isa dengan cara yang sangat indah. Ibunya, Maryam,  disebut ‘ukht Harun’ (saudara perempuan Harun) karena ia perempuan yang saleh seperti Nabi Harun. Ketika masih kecil, Isa sudah bisa bicara:


قالَ إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ آتَانِيَ الْكِتَابَ وَجَعَلَنِي نَبِيًّا* وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنتُ وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيًّا* وَبَرًّا بِوَالِدَتِي وَلَمْ يَجْعَلْنِي جَبَّارًا شَقِيًّا* وَالسَّلَامُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدتُّ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا ذَلِكَ عِيْسَى بنُ مَرْيَمَ قَوْلَ الْحَقِّ الّذِى فِيْهِ يَمْتَرُونَ .


“Sesungguhnya aku ini hamba Allah. Dia memberiku Al-Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi. Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada. Dia memerintahkan kepadaku mendirikan shalat dan membayar zakat selama aku hidup, dan berbakti kepada ibuku. Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kedamaian semoga dilimpahkan kepadaku, pada saat aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali. Itulah Isa putra Maryam yang mengatakan perkataan yang benar...”.(Q.S. Maryâm [19]:30-33).


Lihatlah, Isa, sang Nabi yang mulia itu, mengucapkan kebahagiaan atas kelahiran, kematian dan kebangkitannya sendiri. Pernyataannya disebut Tuhan sebagai pernyataan yang benar dan jujur.

Dalam konteks masyarakat muslim, terutama di Indonesia, mengucapkan selamat Natal pada moment itu masih controversial.  Sebagian di antara mereka, mungkin mayoritas, masih mengharamkannya. Konon, pernah terjadi, seorang ketua MUI, seorang ulama besar, mengeluarkan fatwa haram atas isu ini. Para ulama dan mufti Saudi Arabia sudah lama mengharamkannya. Mereka merujuk pada pandangan Ibnu Taimiyah, salah satu sumber otoritas pandangan keagamaan mereka. Mereka menganggap ucapan tersebut mengandung arti ikut serta membesarkan, mensyiarkan dan mendukung keyakinan kaum Kristiani tentang ketuhanan Isa.
 
Berbeda dengan pandangan para ulama Wahabi di atas, Syeikh Dr. Yusuf al Qardhawi, ketua Ulama Islam sedunia dari Mesir berpendapat lain. Katanya :”Adalah hak setiap kelompok untuk merayakan hari-hari besarnya dengan cara tidak melukai orang lain. Juga hak setiap kelompok untuk menyampaikan ucapan selamat atas hari besar orang lain. Islam tidak melarang kaum muslimin menyampaikan ucapan selamat kepada warga Negara dan tetangga yang beragama Nasrani berkaitan dengan hari besar keagamaan mereka. Karena hal ini termasuk dalam pengertian "al-Birru" (kebajikan) sebagaimana dikemukakan dalam firman Allah :"Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil kepada orang-orang yang tidak memerangimu dan tidak mengusirmu dari tempat tinggalmu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat adil".

Kata “al-Birr”, yang diterjemahkan sebagai “kebajikan”, dimaknai oleh Syeikh Muhammad Thahir bin ‘Asyur, penulis kitab tafsir : “Al-Tahrir wa al-Tanwir”, sebagai “Husn al-Mu’amalah wa al-Ikram” (pergaulan yang baik dan menghormati).

Lebih dari itu, masih kata Syeikh al-Qardhawi, jika mereka menyampaikan ucapan selamat pada hari raya kaum muslimin. Allah berfirman, maka karena Allah mengatakan :"Jika kamu mendapat kehormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan cara yang lebih baik atau minimal dengan penghormatan yang sama. Akan tetapi kaum muslimin dalam ini tidak boleh mengikuti ritual keagamaan mereka”. 

Syeikh Dr. Mushtafa al-Zarqa (w. 1999), al-Syeikh al-faqih (guru besar dan ahli fiqh), menyampaikan pandangan senada: “Seorang muslim yang mengucapkan selamat kepada teman-temannya atas kelahiran Isa al Masih, As, menurut saya merupakan yang hal yang baik dan etika dalam pergaulan sosial. Islam tidak melarang sikap ini, apalagi Isa Al-Masih yang  dalam aqidah Islam adalah Rasul besar dan salah satu Ulul al Azmi. Mereka sangat dihormati dalam agama kita. Tetapi, saying, mereka (kaum nasrani) terlalu ekstrim dengan meyakininya sebagai Tuhan”.

Dr. Muhammad Abd Allah al-Syarqawi, Prof. Teologi dan Agama-agama, Univ. Qatar.

 “Dalam moment hari raya umat Kristiani: Natal, tidaklah mengapa (tidak berdosa) seorang muslim menyampaikan ucapan selamat Natal kepada tetangganya, guru, murid, teman kantor atau teman sekolahnya yang beragama Nasrani. Ini merupakan tuntunan Islam yang bijaksana yang menegaskan keharusan kita bertindak adil dan berbuat baik kepada warga Negara beragama Kristen Koptik, sesuai dengan firman Allah : “Tuhan tidak melarang kita untuk berbuat baik dan bertindak adil kepada orang-orang yang tidak memerangi kamu atas nama agama dan tidak mengusirmu dari tanah airmu”.

Natal di Mesir

Mesir adalah negeri kuno dengan sejuta peninggalan sejarah yang bernilai abadi. Sungai Nil yang terbentang jauh sampai Sudan, kota2 cantik nan exotic: Luxor, Memphis, Karnak dan Thebes dan yang paling terkenal adalah Piramida dan Spinx adalah bukti sejarah dari peradaban besar itu. Ketika orang-orang Islam-Arab memasuki Mesir, penduduk asli di sana seluruhnya Kristen,  meski di sana juga terdapat peninggalan agama-agama lama yang berbagai-bagai,  selain Kristen. Dalam beberapa hal ritual-ritalnya memengaruhi ritual-ritual Kristen. Yang tersisa hingga kini dan masih cukup besar, sekitar 10% adalah Kristen Koptik (Qibthi).  

Mesir kini menjadi negara Islam terkemuka di dunia. Di sana ada Universitas tertua di dunia dan sangat terkenal; Al-Azhar. Universitas ini menjadi pusat keilmuan Islam Internasional sejak 1000 tahun dan telah melahirkan ratusan ribu ulama besar. Pikiran-pikiran dan buku-buku mereka menjadi rujukan masyarakat muslim di seluruh dunia sepanjang masa. Dalam kurun waktu yang cukup panjang itu, otoritas keagamaan al Azhar, tak pernah terusik untuk meruntuhkan peradaban non muslim yang penuh pesona itu.
Spink dan tiga piramida di kawasan Giza yang berdiri 5000 tahun lalu, konon, kuburan para Firaun,  masih berdiri kokoh. Gereja-gereja kuno dan sejumlah Sinagog (tempat sembahyang umat Yahudi) masih berdiri megah. Kini di sampingnya berdiri masjid-masjid besar dan megah pula. Beberapa gereja Kristen dan Sinagog milik orang Yahudi berdiri disamping masjid Amr bin Ash. Panglima besar kaum muslimin yang menaklukkan negeri itu itu tidak mengutak-atiknya. Ia memberikan keleluasaan beribadah kepada masing-masing penganut agama Samawi itu. Di antaranya Gereja St Sergius yang berdiri pada abad ke-3 M. Gereja itu dibangun di sebuah gua yang dulu menjadi tempat singgah Nabi lsa dan Bunda Maryam dalam pelariannya ke Mesir saat dikejar-kejar Raja Herodes, penguasa Romawi di Palestina.
Keberadaan masjid yang berdampingan dengan gereja dan sinagog itu menunjukkan hidup berdampingan dalam tatanan yang saling hormat-menghormati dalam kedamaian. Sahabat Rasul itu tahu persis bahwa Islam memberi-kan kebebasan dalam beragama. Apalagi, ketiga agama samawi itu adalah agama yang dibawa oleh keluarga Nabi Ibrahim, As.
 Ketika Natal tiba, seluruh warga negeri ini seakan larut dalam kegembiraan bersama. Mereka memperlihatkan dengan nyata makna kebersamaan dan persaudaraan, meski memiliki keyakinan dan agama berbeda-beda. Di sana juga ada semacam tradisi di mana pemimpin tertinggi agama Islam dan pemimpin tertinggi agama Kristen saling mengucapkan selamat dan menyampaikan simpati pada hari raya masing-masing. Pemimpin Islam mengucapkan “selamat hari Natal” dan pemimpin tertinggi Kristen mengucapkan “selamat Idul Fitri”. Mereka tetap dalam keyakinan dan keimanannya masing-masing. Grand Syeikh Al-Azhar Kairo, Sayyid Muhammad Thanthawi, selalu hadir dalam perayaan Natal umat Kristen (Koptik) di sana. Ini moment penting bagi perwujudan persaudaraan umat manusia, dan perdamaian bangsa dan penghormatan atas segala jenis perbedaan.

Nurcholis Madjid, cendikiawan muslim terkemuka pernah bercerita menarik. Ia menulis pengalaman Naral di Mesir dalam salah satu bukunya. Bulan Desember tahun 1991 ia berada di Mesir dalam suasana Natal yang begitu terasa di mana-mana. Restoran penuh dengan dekorasi Natal disertai ucapan Natal yang tentu saja dalam bahasa Arab. Di balik kaca penutup meja makan semua restoran juga ada selebaran-selebaran yang mengajak setiap tamu yang datang untuk ikut bersyukur kepada Tuhan atas kelahiran Nabi Isa atau Yesus. Pemilik restoran tempat Nurcholis makan dan membaca selebaran itu ternyata baru saja pulang menunaikan ibadah haji.

Betapa indahnya sikap toleransi dan kebersamaan relasi  dengan kekokohan keyakinan diri masing-masing. Betapa anehnya, bila ada umat beragama yang lebih menyukai permusuhan daripada perdamaian. Al-Qur’an, kitab suci kaum muslimin memang telah menegaskan:

Katakan (Muhammad): “Wahai orang-orang kafir. Aku tidak menyembah Tuhan yang kalian sembah, dan kalian tak menyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Bagimu agamamu dan bagik agamaku.(Q.S. al-Ikhlash, [109]:1-6).


Tidak ada komentar:

Posting Komentar