Fakta-fakta tentang kondisi kesehatan ibu di Indonesia,
sebagaimana dilaporkan berbagai institusi Negara dan hasil-hasil penelitian
sejumlah pihak yang terkait, sungguh-sungguh cukup memprihatinkan. “Indonesia tidak mampu mencapai Target
MDGs dalam hal Kesehatan Ibu. Berdasarkan hasil survei Demogafi dan
Kependudukan Indonesia (SDKI) 2012, terdapat kenaikan angka kematian ibu (AKI)
yang cukup drastis dari 228 per 100 ribu kelahiran menjadi 359 per 100 ribu kelahiran”,
ujar Tb. Rachmat Sentika, staf ahli Menko Kesra Bidang MIDs, selasa, 6/5/2014. Angka Kematian Ibu di negeri ini masih tertinggi di wilayah Asean sekaligus
tertinggi di antara Negara-negara muslim lainnya.
Keprihatinan lebih mendalam atas realitas ini justeru
karena Negara ini merupakan tempat bagi bangsa muslim terbesar di dunia. Dalam
pandangan normative, agama seharusnya memberikan jaminan atas kesehatan,
keselamatan, kemaslahatan dan kebahagian seluruh umat manusia, di dunia dalam
rangka kebahagiaan di akhirat, sebagaimana do’a yang selalu dipanjatkan dalam
setiap ritual dan aktifitas keagamaan.
Ibu dalam Islam
Ibu dalam pandangan Islam adalah sumber dan poros
kehidupan. Di tangannyalah kebahagiaan manusia dipertaruhkan. “Al-Jannah
Tahta Aqdam al-Ummahat” (Sorga ada di telapak kaki ibu), kata Nabi. Syeikh
Muhammad al-Ghazali menyampaikan kata-kata yang indah :
إن ربت البيت روح ينفث الهناءة والمودة فى جنباته
ويعين على تكوين انسان سوى طيب
“Seorang ibu adalah semilir angin sejuk yang menghembuskan nafas
kedamaian dan kasih sayang ke seluruh ruang kehidupan. Dan ia sangat
berpengaruh dalam pembentukan manusia yang baik”. (Muhammad Syeikh al-Ghazali, As-Sunnah an-Nabawiyyah
Baina ahl al-Fiqh wa ahl al-Hadits, Dar as-Syuruq, Beirut, 1988, hlm.125
Ibu juga adalah sosok manusia yang memperoleh penghargaan
utama dibandingkan ayah. Ketika Nabi ditanya seorang sahabatnya:
من أحق الناس بحسن صحابتي؟ قال: أمك، قال ثم من ؟ قال: أمك ، قال ثم من ؟ قال:
أمك، قال ثم من ؟ قال : أبوك . رواه
البخارى ومسلم .
“Siapakah orang yang paling utama
mendapat perlakuan yang baik?. Nabi menjawab: “Ibumu”. Sesudah itu?. Nabi
mengatakan :”Ibumu”, lalu setelah itu?. Nabi sekali lagi menegaskan:”Ibumu”. Kemudian?. Nabi
mengatakan: “ayahmu”. (Shahih Bukhari dan Muslim)
Lihatlah, Nabi yang mulia, mengulang-ulang kata “ibumu”
sampai tiga kali. Boleh jadi saat beliau mengucapkannya, suara beliau naik
perlahan dari nada rendah ke nada sedang lalu meninggi. Sesudah itu kata
“kemudian ayahmu” diucapkan dalam nada datar. Jika demikian, maka Nabi
sungguh-sungguh ingin agar audien yang diajak bicara benar-benar menghormati
ibu.
Pernyataan Nabi di atas, agaknya merupakan penjelasan
beliau atas wahyu yang diturunkan Allah kepadanya :
“Dan Kami perintahkan kepada manusia
(berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam
keadaan lemah yang terus semaki lemah, dan menyapihnya dalam dua tahun.
Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah
kembalimu”.(Q.S. Luqman, [31]:14). Di tempat lain disebutkan “
“Kami perintahkan kepada manusia
supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan
susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai
menyapihnya adalah tiga puluh bulan,….” (Q.S. Al-Ahqaf, [46]:15).
Sungguh menarik bunyi dua ayat
al-Qur’an di atas. Meski disebutkan agar seorang anak berbakti kepada kedua
orang tuanya, yang tentu saja berarti ayah dan ibu, akan tetapi Allah tampaknya
meminta perhatian agar berlaku baik itu lebih ditekankan kepada ibunya. Ini
karena ibu dalam faktanya menanggung beban penderitaan jauh lebih berat
daripada ayah. Ia mengandung selama kurang lebih sembilan bulan dalam keadaan
sangat berat dan semakin berat, lalu melahirkan. Saat ibu melahirkan adalah
saat beliau seperti sedang mempertaruhkan nyawanya. Jika kondisi kesehatan
reproduksi ibu rapuh, karena banyak menanggung beban, maka potensi kematian itu
ada di depan matanya. Dan ini semakin sering terjadi, sebagaimana fakta-fakta
kematian ibu yang besar di atas. Sesudah itu ibu menyusui anaknya selama
sekitar dua tahun, dengan mengorbankan kesenangan dirinya.
Naguib Mahfouz, pemenang Nobel Sastra, berkebangsaan
Mesir, amat menarik ketika ia menyenandungkan puisinya yang teramat indah :
Jangan biarkan masa bayimu melupakan
Betapa melelahkannya pekerjaan ibumu setiap hari
Demi kesenanganmu. Ia mengandungmu di dalam rahimnya
selama Sembilan bulan, mendekapmu erat-erat…
memberimu makan dengan air susunya.
Janganlah membuatnya marah karena Tuhan mendengar
keluhannya
Dan menjawab permohonannya.
(Nadjib Mahfouzh dalam “Khufu’s Wisdom”)
Bila kita sepakat bahwa ibu adalah sumber yang di
tangannya terletak masa depan peradaban manusia, maka tergantung kita bagaimana
memperlakukannya. Jika kita memandangnya sebagai manusia yang paling terhormat
di muka bumi ini dan memperlakukannya dengan sebaik-baiknya, dengan
penghormatan yang penuh kepadanya, maka masa depan kemanusiaan yang sejahtera
akan segera lahir. Sebaliknya jika kita menganggapnya rendah, hanya karena dia
seorang perempuan, lalu memperlakukannya dengan ucapan atau tindakan yang menyakitkan
hatinya, bahkan melakukakan kekerasan terhadapnya, maka dunia kemanusiaan akan
hancur berantakan.
Penyair Nil (Sya’ir al-Nil) ; Hafiz Ibrahim
menyenandungkan puisi manis
الام
مدرسة اذا اعددتها اعددت شعبا طيب
الاعراق
الام
روض إن تعهده الحيا بالرى اورق ايما إيراق
الام أستاذ الاساتذة الالى شغلت مآثرهم مدى الافاق
Ibu adalah madrasah
Bila kau
mempersiapkannya
Kau mempesiapkan
bangsa yang kokoh
Ibu adalah taman
Bila engkau
merawatnya dengan air sejuk
Taman itu akan
menumbuhkan pohon
Dengan dedaunan
yang lebat menghijau
Ibu adalah maha
guru
Jejak kakinya
terpateri sepanjang sejarah dunia
Agama sudah
memberikan petunjuk dan bahkan perintah kepada penganutnya untuk memuliakan ibu dan mengharamkan
menyakitinya. Maka konsekuensi paling masuk akal dan bertanggungjawab bagi para
pemeluknya adalah mematuhinya.
Catatan penting kita adalah bila idealitas agama ini
tidak sejalan dengan realitas sosialnya, maka ini tentu menimbulkan sejulah pertanyaan
adakah yang salah dalam pemahaman kaum muslimin terhadap ajaran-ajaran agamanya?.
Mengapa? Lalu bagaimana memperbaikinya?.
Selamat Hari Ibu
Maaf aku Ibu
22 Desember 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar