Bagaimana
kita bisa memahami fenomena kepulangan Gus Dur? Suara-suara apakah gerangan
yang membisikkan ke telinga dan yang
menggerakkan
hati nurani beribu bahkan berjuta orang untuk mengantar kepulangannya dan
berziarah di pusaranya yang bersahaja itu?. Siapakah gerangan yang merasuk dan
menyentuh relung hati beribu orang termasuk para Pendeta, Romo, Kardinal,
Bhiku-Bhikuni, para pengikut Buddha, penganut Kong Hu Cu, Ahmadi, Bahai, para
pengamal dan penghayat kebatinan-kepercayaan dan lain-lain, sehingga mereka
menangisi kepulangan Gus Dur?. Akal manakah yang sanggup menjelaskan fenomena
kepiluan, kerinduan dan mabuk kepayang seperti fenomena kepiluan terhadap orang
besar yang satu ini?. Tak ada jawaban rasional dan logis. Ia mungkin hanya bisa
dijelaskan oleh para bijak-bestari, para sufi dan orang-orang yang hatinya
bening dan memancarkan cahaya Ketuhanan.
Prosesi
pemakaman Gus Dur dengan seluruh fenomenanya yang menggetarkan seperti itu
mengingatkan saya pada seorang Sufi-Penyair terbesar sepanjang masa, dari
Konya, Anatolia, Turki
: Maulana Jalal al-Din Rumi. Begitu Maulana Rumi wafat, 16 Desember 1273,
semua penduduk Konya larut dalam duka nestapa yang panjang, berhari-hari. Mereka menyelenggarakan
ritual, menyenandungkan suasana hati yang hancur luluh berkeping-keping,
menundukkan kepala sambil mulutnya komat-kamit berdoa baginya dengan penuh
khidmat, berhari-hari selama 40 hari penuh. Jalan-jalan padat dalam suasana
hiruk-pikuk yang luar biasa, konon, “bagai suasana Hari Kebangkitan.”
Orang-orang Muslim, Kristen, Yahudi dan sekte-sekte keagamaan yang lain
bergabung untuk memberikan penghormatan terakhir pada upacara pemakamannya.
Kucing kesayangan Maulana Rumi ikut bersedih. Kucing itu tak mau makan dan
minum sejak Maulana wafat. Akhirnya kucing itu mati seminggu kemudian, dan
dimakamkan oleh Malika Khatun, putri Maulana dari istri kedua, Kira Khatun, di
sebelah makam Maulana Rumi. Cerita kucing yang mati bersama Maulana Rumi ini
juga pernah saya dengar di ruang dalam rumah ketika menunggu jenazah Gus Dur
diberangkatkan dari rumahnya di Ciganjur.
Saya
ingin mencoba menjawab fenomena dahsyat di atas, dalam perspektif sufisme, yang
saya mengerti, meski orang tak mempercayainya atau menganggapnya sebagai
“bid’ah” atau “khurafat” (penyimpangan dalam agama) atau bahkan “musyrik”. Saya
ingin mengutip kata-kata Tuhan dalam bahasa Nabi Saw (hadits Qudsi):
إِنَّ اللهَ
اِذَا اَحَبَّ عَبْدًا دَعَا جِبْرِيْلَ
.فَقَالَ إِنِّى أُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبَّهُ فَيُحِبُّهُ جِبْرِيْلُ. ثُمَّ
يُنَادِى مَنْ فِى السَّمَاءِ فَيَقُوْلُ إِنَّ اللهَ يُحِبُّ فُلَانًا
فَأَحِبُّوْهُ فَيُحِبُّهُ اَهْلُ السَّمَاءِ قَالَ فَيُوْضَعُ لَهُ الْقَبُوْلُ
فِى الْاَرْضِ.
“Sungguh,
jika Tuhan mencintai hamba-Nya, Dia memanggil Jibril. Tuhan mengatakan : ”Aku
mencintai fulan, maka cintailah dia. Lalu Jibril mencintainya. Jibril memanggil
penghuni langit. Kepada mereka Jibril mengatakan : “Tuhan mencintai fulan, maka
cintailah dia. Lalu para penghuni langit mencintainya. Maka dia dicintai para
penghuni bumi”. [1]
Atau
seperti kata Nabi Muhammad Saw :
طُوْبَى
لِلْمُخْلِصِيْنَ اَلَّذِيْنَ اِذَا حَضَرُوا لَمْ يُعْرَفُوا, وَاِذَا غَابُوا
لَمْ يُفْتَقَدُوا أُولَئِكَ مَصَابِيْحُ الْهُدَى تَنْجَلِى بِهِمْ كُلُّ
فِتْنَةٍ ظَلْمَاءَ. (رواه البيهقى)
“Aduhai,
betapa bahagia mereka yang berhati tulus, mereka yang ketika hadir tak dikenal
(tak dimengerti), manakala pergi mereka dicari ke sana kemari, Mereka itulah
obor-obor yang menerangi jalan lurus. Melalui mereka, tampak terang benderang
segala fitnah orang-orang zalim”. (H.R. Al-Baihaqi).
Ya,
gelombang manusia yang tak berhenti bergerak menziarahi dan mendo’akan Gus Dur,
adalah karena Tuhan mencintainya, dan ini karena Gus Dur mencintai lebih
dulu. Mencintai Tuhan adalah mencintai semua dan segala ciptaan-Nya.
Pikiran-pikiran dan perjalanan hidup Gus Dur adalah kerinduan-kerinduan kepada
Tuhan dan kepada seluruh ciptaan-Nya. Maka sangatlah wajar jika Dialah yang
membimbingnya. Ketika Dia membimbingnya, maka mereka (manusia) pun
mencintainya. Ini karena Gus Dur menumpahkan cintanya kepada mereka lebih
dahulu dengan seluruh hatinya. Jika sudah demikian, maka getaran-getaran cinta
itu kemudian menebar bagai cahaya, menerobos dan menembus relung-relung jiwa
mereka. Ya Gus Dur adalah juga cahaya. Ia memancarkan gelombang-gelombang
elektrik halus dengan getarannya yang begitu kuat, lalu menjalari
partikel-partikel ruh orang-orang yang mendengar atau melihatnya. Gelombang
cahaya yang dijalarkan dari jiwa yang bening akan berpendar, menyeruak dan meresap ke ruang-ruang gelap, lalu
menjadi terang benderang.
Segera
sesudah itu, begitu reflektif,
terucap begitu saja dan tanpa diminta, ribuan orang berebut
memberi makna dan simbol
kepadanya. Gus Dur adalah
“Ulama Besar”, “Guru Bangsa”, “Bapak Pluralisme”, “Bapak Demokrasi”, “Sang Humanis Sejati”, , “Pelindung kaum
Minoritas”, Pembela kaum Tertindas”, “Sang Pembebas”, “Negarawan Paripurna”,
“Bapak Bhineka Tunggal Ika”, “Intelektual Sejati”, “Budayawan Besar”,
“Waliyullah”, dan masih beratus sebutan lainnya.
Aku
sendiri ingin menyebutnya “Sang Sufi Besar” atau “Sang Zahid”. Sufi adalah
orang yang mempraktikkan prinsip-prinsip tasawuf. Masyarakat barat
menerjemahkan kata ini sebagai “mistisisme Islam”, meski boleh jadi tak tepat
benar. Annemarie Schimmel telah memberikan definisi yang terbaik mengenai
terminology ini sambil mengakui bahwa “untuk menulis. Katanya : “tentang
sufisme atau mistisisme Islam adalah tugas yang hampir mustahil”. Menurutnya
mistisisme mencakup suatu misteri yang tidak bisa dicapai dengan cara-cara atau
upaya-upaya biasa. Mistisisme berasal dari kata “mystic” dan “mystery” (bahasa
Latin) yang berarti “menutup mata”. Dalam pengertiannya yang lebih luas,
Mystisisme mungkin bisa didefinisikan sebagai kesadaran akan Realitas Tunggal
yang bisa dinamakan Kebijaksanaan, Cahaya, Cinta atau Ketiadaan”.[2]
Para
Sufi adalah matahari-matahari dan Gus Dur dalam pandangan saya adalah “Matahari
Dhuha” yang cahaya spiritualitasnya menebarkan kehangatan cinta, kesegaran,
kegairahan sekaligus mencerahkan dan menyuburkan bumi manusia. “Gus Dur
bagaikan gunung berapi yang menyimpan magma spiritualitas begitu dahsyat. Magma
itu tak pernah berhenti bergolak dan begitu aktif yang seringkali meletup-letup,
menumpahkan lahar panas, mengaliri tanah kering-kerontang. Manakala telah
dingin, tanah berubah menjadi subur, bumi menghijau menyembulkan bunga
warna-warni, indah dan menebarkan wewangian”.
Sahabat
saya Marzuki Wahid, penulis buku Beyond the Symbols, Jejak Antropoligis
Pemikiran dan Gerakan Gus Dur, dalam sebuah moment refleksi 100 tokoh atas
Gus Dur, di Institute Agama Islam Nur Jati (IAIN), Cirebon, menyampaikan kata
pamungkas yang mendebarkan: “Gus Dur bukanlah “Guru Bangsa”, bukan “Bapak
Pluralisme”, bukan “Ulama”, bukan “Seorang Humanis” bukan “Waliyullah”, bukan
“Negarawan Paripurna”, dan bukan seterusnya. Sampai di sini, hati yang hadir
berdegup-degup kencang, tersekat-sekat. “Ini anak tak tahu diri dan
keterlaluan”, kata hati mereka, sambil menahan emosi. “Tetapi Gus Dur adalah
semuanya”, kata Marzuki Wahid menuntaskan bicaranya. Dan suasana spontan
tiba-tiba berubah gemuruh, menghentikan jantung yang berdegup, meredakan emosi
yang tertahan, lalu menciptakan suasana yang mengharu-biru, mengalirkan
kehangatan air mata yang lalu menetes pelan-pelan.
Begitulah
setiap orang telah dan akan terus memaknai Gus Dur dengan ungkapan dan cara
yang berbeda-beda, berdasarkan pada apa yang dilihat, didengar, diingat dan
dirasakannya. Pemaknaan atas sesuatu memang selalu lahir dari pengalaman subyektif.
Eskpresi-ekspresi intelektual dan idiom-idiom psikologis selalu merupakan
produk dari ruang dan waktunya sendiri-sendiri, produk pengalaman diri pemberi
makna. Tak ada seorang pun yang mampu menghadang pengalaman spiritual setiap
orang. Pemaknaan yang beragam atas Gus Dur telah cukup menggambarkan betapa di
dalam dirinya sarat dengan makna besar. Dan kebesarannya bukan karena ia
pernah menjadi Presiden dari berjuta-juta rakyat, dan bukan karena hal-hal lain
di luarnya, melainkan karena dirinya sendiri. Ia telah mencari kebesaran itu
dari dalam dirinya sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar