Rabu, 24 Desember 2014

MENGENANG GUS DUR (3)




Bagaimana kita bisa memahami fenomena kepulangan Gus Dur? Suara-suara apakah gerangan yang membisikkan ke telinga dan yang menggerakkan hati nurani beribu bahkan berjuta orang untuk mengantar kepulangannya dan berziarah di pusaranya yang bersahaja itu?. Siapakah gerangan yang merasuk dan menyentuh relung hati beribu orang termasuk para Pendeta, Romo, Kardinal, Bhiku-Bhikuni, para pengikut Buddha, penganut Kong Hu Cu, Ahmadi, Bahai, para pengamal dan penghayat kebatinan-kepercayaan dan lain-lain, sehingga mereka menangisi kepulangan Gus Dur?. Akal manakah yang sanggup menjelaskan fenomena kepiluan, kerinduan dan mabuk kepayang seperti fenomena kepiluan terhadap orang besar yang satu ini?. Tak ada jawaban rasional dan logis. Ia mungkin hanya bisa dijelaskan oleh para bijak-bestari, para sufi dan orang-orang yang hatinya bening dan memancarkan cahaya Ketuhanan.
Prosesi pemakaman Gus Dur dengan seluruh fenomenanya yang menggetarkan seperti itu mengingatkan saya pada seorang Sufi-Penyair terbesar sepanjang masa, dari Konya, Anatolia, Turki : Maulana  Jalal al-Din Rumi. Begitu Maulana Rumi wafat, 16 Desember 1273, semua penduduk Konya larut dalam duka nestapa yang panjang, berhari-hari. Mereka menyelenggarakan ritual, menyenandungkan suasana hati yang hancur luluh berkeping-keping, menundukkan kepala sambil mulutnya komat-kamit berdoa baginya dengan penuh khidmat, berhari-hari selama 40 hari penuh. Jalan-jalan padat dalam suasana hiruk-pikuk yang luar biasa, konon, “bagai suasana Hari Kebangkitan.” Orang-orang Muslim, Kristen, Yahudi dan sekte-sekte keagamaan yang lain bergabung untuk memberikan penghormatan terakhir pada upacara pemakamannya. Kucing kesayangan Maulana Rumi ikut bersedih. Kucing itu tak mau makan dan minum sejak Maulana wafat. Akhirnya kucing itu mati seminggu kemudian, dan dimakamkan oleh Malika Khatun, putri Maulana dari istri kedua, Kira Khatun, di sebelah makam Maulana Rumi. Cerita kucing yang mati bersama Maulana Rumi ini juga pernah saya dengar di ruang dalam rumah ketika menunggu jenazah Gus Dur diberangkatkan dari rumahnya di Ciganjur.
Saya ingin mencoba menjawab fenomena dahsyat di atas, dalam perspektif sufisme, yang saya mengerti, meski orang tak mempercayainya atau menganggapnya sebagai “bid’ah” atau “khurafat” (penyimpangan dalam agama) atau bahkan “musyrik”. Saya ingin mengutip kata-kata Tuhan dalam bahasa Nabi Saw  (hadits Qudsi):

إِنَّ اللهَ اِذَا اَحَبَّ عَبْدًا دَعَا جِبْرِيْلَ .فَقَالَ إِنِّى أُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبَّهُ فَيُحِبُّهُ جِبْرِيْلُ. ثُمَّ يُنَادِى مَنْ فِى السَّمَاءِ فَيَقُوْلُ إِنَّ اللهَ يُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبُّوْهُ فَيُحِبُّهُ اَهْلُ السَّمَاءِ قَالَ فَيُوْضَعُ لَهُ الْقَبُوْلُ فِى الْاَرْضِ.

“Sungguh, jika Tuhan mencintai hamba-Nya, Dia memanggil Jibril. Tuhan mengatakan : ”Aku mencintai fulan, maka cintailah dia. Lalu Jibril mencintainya. Jibril memanggil penghuni langit. Kepada mereka Jibril mengatakan : “Tuhan mencintai fulan, maka cintailah dia. Lalu para penghuni langit mencintainya. Maka dia dicintai para penghuni bumi”. [1]
Atau seperti kata Nabi Muhammad Saw :

طُوْبَى لِلْمُخْلِصِيْنَ اَلَّذِيْنَ اِذَا حَضَرُوا لَمْ يُعْرَفُوا, وَاِذَا غَابُوا لَمْ يُفْتَقَدُوا أُولَئِكَ مَصَابِيْحُ الْهُدَى تَنْجَلِى بِهِمْ كُلُّ فِتْنَةٍ ظَلْمَاءَ. (رواه البيهقى)
“Aduhai, betapa bahagia mereka yang berhati tulus, mereka yang ketika hadir tak dikenal (tak dimengerti), manakala pergi mereka dicari ke sana kemari, Mereka itulah obor-obor yang menerangi jalan lurus. Melalui mereka, tampak terang benderang segala fitnah orang-orang zalim”. (H.R. Al-Baihaqi).
Ya, gelombang manusia yang tak berhenti bergerak menziarahi dan mendo’akan Gus Dur, adalah karena Tuhan mencintainya, dan ini karena Gus Dur mencintai lebih dulu. Mencintai Tuhan adalah mencintai semua dan segala ciptaan-Nya. Pikiran-pikiran dan perjalanan hidup Gus Dur adalah kerinduan-kerinduan kepada Tuhan dan kepada seluruh ciptaan-Nya. Maka sangatlah wajar jika Dialah yang membimbingnya. Ketika Dia membimbingnya, maka mereka (manusia) pun mencintainya. Ini karena Gus Dur menumpahkan cintanya kepada mereka lebih dahulu dengan seluruh hatinya. Jika sudah demikian, maka getaran-getaran cinta itu kemudian menebar bagai cahaya, menerobos dan menembus relung-relung jiwa mereka. Ya Gus Dur adalah juga cahaya. Ia memancarkan gelombang-gelombang elektrik halus dengan getarannya yang begitu kuat, lalu menjalari partikel-partikel ruh orang-orang yang mendengar atau melihatnya. Gelombang cahaya yang dijalarkan dari jiwa yang bening akan berpendar, menyeruak  dan meresap ke ruang-ruang gelap, lalu menjadi terang benderang.
Segera sesudah itu, begitu reflektif, terucap begitu saja dan tanpa diminta, ribuan orang berebut memberi makna dan simbol kepadanya. Gus Dur adalah “Ulama Besar”, “Guru Bangsa”, “Bapak Pluralisme”, “Bapak Demokrasi”, “Sang  Humanis Sejati”, , “Pelindung kaum Minoritas”, Pembela kaum Tertindas”, “Sang Pembebas”, “Negarawan Paripurna”, “Bapak Bhineka Tunggal Ika”, “Intelektual Sejati”, “Budayawan Besar”, “Waliyullah”, dan masih beratus sebutan lainnya.
Aku sendiri ingin menyebutnya “Sang Sufi Besar” atau “Sang Zahid”. Sufi adalah orang yang mempraktikkan prinsip-prinsip tasawuf. Masyarakat barat menerjemahkan kata ini sebagai “mistisisme Islam”, meski boleh jadi tak tepat benar. Annemarie Schimmel telah memberikan definisi yang terbaik mengenai terminology ini sambil mengakui bahwa “untuk menulis. Katanya : “tentang sufisme atau mistisisme Islam adalah tugas yang hampir mustahil”. Menurutnya mistisisme mencakup suatu misteri yang tidak bisa dicapai dengan cara-cara atau upaya-upaya biasa. Mistisisme berasal dari kata “mystic” dan “mystery” (bahasa Latin) yang berarti “menutup mata”. Dalam pengertiannya yang lebih luas, Mystisisme mungkin bisa didefinisikan sebagai kesadaran akan Realitas Tunggal yang bisa dinamakan Kebijaksanaan, Cahaya, Cinta atau Ketiadaan”.[2]
Para Sufi adalah matahari-matahari dan Gus Dur dalam pandangan saya adalah “Matahari Dhuha” yang cahaya spiritualitasnya menebarkan kehangatan cinta, kesegaran, kegairahan sekaligus mencerahkan dan menyuburkan bumi manusia. “Gus Dur bagaikan gunung berapi yang menyimpan magma spiritualitas begitu dahsyat. Magma itu tak pernah berhenti bergolak dan begitu aktif yang seringkali meletup-letup, menumpahkan lahar panas, mengaliri tanah kering-kerontang. Manakala telah dingin, tanah berubah menjadi subur, bumi menghijau menyembulkan bunga warna-warni, indah dan menebarkan wewangian”.
Sahabat saya Marzuki Wahid, penulis buku Beyond the Symbols, Jejak Antropoligis Pemikiran dan Gerakan Gus Dur, dalam sebuah moment refleksi 100 tokoh atas Gus Dur, di Institute Agama Islam Nur Jati (IAIN), Cirebon, menyampaikan kata pamungkas yang mendebarkan: “Gus Dur bukanlah “Guru Bangsa”, bukan “Bapak Pluralisme”, bukan “Ulama”, bukan “Seorang Humanis” bukan “Waliyullah”, bukan “Negarawan Paripurna”, dan bukan seterusnya. Sampai di sini, hati yang hadir berdegup-degup kencang, tersekat-sekat. “Ini anak tak tahu diri dan keterlaluan”, kata hati mereka, sambil menahan emosi. “Tetapi Gus Dur adalah semuanya”, kata Marzuki Wahid menuntaskan bicaranya. Dan suasana spontan tiba-tiba berubah gemuruh, menghentikan jantung yang berdegup, meredakan emosi yang tertahan, lalu menciptakan suasana yang mengharu-biru, mengalirkan kehangatan air mata yang lalu menetes pelan-pelan.
Begitulah setiap orang telah dan akan terus memaknai Gus Dur dengan ungkapan dan cara yang berbeda-beda, berdasarkan pada apa yang dilihat, didengar, diingat dan dirasakannya. Pemaknaan atas sesuatu memang selalu lahir dari pengalaman subyektif. Eskpresi-ekspresi intelektual dan idiom-idiom psikologis selalu merupakan produk dari ruang dan waktunya sendiri-sendiri, produk pengalaman diri pemberi makna. Tak ada seorang pun yang mampu menghadang pengalaman spiritual setiap orang. Pemaknaan yang beragam atas Gus Dur telah cukup menggambarkan betapa di dalam dirinya sarat dengan makna besar. Dan kebesarannya bukan karena ia pernah menjadi Presiden dari berjuta-juta rakyat, dan bukan karena hal-hal lain di luarnya, melainkan karena dirinya sendiri. Ia telah mencari kebesaran itu dari dalam dirinya sendiri.



[1] Imam Malik bin Anas, Al-Muwatha, hlm. 209
[2] Baca: Leonard Lewisohn (ed): Warisan Sufi, Warisan Sufisme Persia Abad Pertengahan (1150-1500), Buku kedua,  Pustaka Sufi, cet. I, hlm. 437-438).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar